Boleh Ngetem di Balaikota Lama, Asal Bayar Uang Rokok Petugas


Jumat, 02 Oktober 2015 - 20:10:31 WIB

Besarnya biaya atau uang yang dibayarkan kepada oknum petugas tergantung berapa orang oknum petugas yang ada di lapangan pada hari itu. Misalnya, oknum petugas ada tiga orang maka sopir harus membayar se­besar Rp50 ribu karena satu bungkus rokok Sampoerna harganya Rp17 ribu.

Pegawai kantor Ba­lai­kota lama inisial K yang enggan menyebutkan nama leng­kapnya pernah me­nyak­sikan sopir membelikan rokok untuk petugas yang berada di pos samping kan­tor balai­kota. Jika ada sopir yang salah maka akan dian­cam kalau tidak mau mem­bayar di tempat sopir harus ke kantor.

Nio salasai siko atau di kantua, seperti itulah baha­sa petugas di lapangan. Kita sesama pegawai tidak enak juga untuk menegur mereka. Nanti kita dibilang sok be­rsihlah, kalau kamu tidak percaya coba tanya sopir kenapa tidak mau masuk terminal, pasti dia bilang, saya bayar,” terangnya.

Salah seorang sopir ang­kot yang ditanya Haluan, Ton,i mengaku, jika masuk pangkalan maka pe­num­pang tidak akan ada. Ketika ditanya berapa dia mem­bayar kepada petugas Toni tidak mengaku berapa be­sarnya. Tetapi, kalau untuk uang rokok diakui oleh Toni ala kadarnya.

“Itu sudah rahasia kami para sopir dengan petugas. Kami butuh mereka untuk kelancaran kami di jalan, mereka juga butuh kami un­tuk uang rokok. Makanya kami menyegani mereka ke­tika ada petinggi atau kegiatan petugas menyuruh kami ma­suk terminal, pasti kami ma­suk. Saling segan menyegani juga,” canda To­ni.

Dari pengamatan Ha­luan, para sopir angkot ju­rusan Indarung-Pasar Raya, Mata Air- Pasar Raya me­mang tanpa rasa bersalah berdiri di depan kantor Ba­laikota lama. Pegawai kan­tor tersebut masuk dan ke­luar kantor harus bersabar dan menghidupkan klakson keras-keras, setelah itu ba­rulah sopir memajukan ang­kotnya.

Istilah uang rokok ini sudah biasa didengar oleh petugas Dishubkominfo dan pegawai kantor balaikota lama. Angkot yang sudah berdiri selama 10-15 menit di depan kantor balaikota lama karena menurunkan dan menaikkan penumpang  akan berjalan lurus ke depan kantor Polresta tanpa masuk dulu ke pangkalan. Kondisi ini ada atau tidak ada petu­gas tidak berpengaruh bagi sopir angkot.

Tidak ada perbedaan ketika hadir dan sebelum hadirnya pangkalan angkot di Pasar Raya Padang. Ha­nya perubahan lokasi mang­kal angkot saja yang berbeda. Dahulu sebelum ada ter­minal atau pangkalan angkot di samping kantor balaikota lama itu, angkot berdiri menaikkan dan menu­run­kan penumpang di samping took sepatu Bata menuju jalan Hiligoo.

Setelah kehadiran pang­kalan jalur angkot dialihkan dan tidak boleh lagi me­lewati Hiligoo, harus me­lewati balaikota dan masuk ke pangkalan. Sayangnya, kenyataan di lapangan ang­kot warna merah dan biru tersebut mangkal di depan kantor balaikota lama me­naik­kan dan menurunkan penumpang.

Tidak hanya itu saja, media yang ada di Padang juga sering memuat kondisi seperti ini. Tetapi, Dishub­kominfo yang punya ‘tang­gungjawab’ tidak bisa ber­buat banyak untuk menertib­kan angkot yang ada di de­pan kantor balaikota lama. Pihak Dishubkominfo sela­lu beralasan akan mencari­kan solusi dan memanggil pengusaha angkot tersebut. Tetapi, hingga hari ini tidak ada realisasinya.

Akibatnya kehadiran pang­kalan angkot yang me­nelan APBD Kota Padang sebesar Rp700 juta itu tidak beroperasi dengan maksi­mal. Diprediksikan angkot yang masuk terminal setiap hari tidak lebih dari 50 unit atau 20 kali melewati Pasar Raya Padang satu kali sing­gah di terminal. Sehingga, terminal kosong dan di de­pan kantor balaikota padat oleh angkot ngetem.(h/ows)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]