Anak di Bawah Umur Curi Sepeda Motor


Senin, 05 Oktober 2015 - 19:18:55 WIB

“Jadi motor ini dicuri pe­laku pada hari Jumat (2/10) di kawasan Bukik Apik. Motor ini tidak dijual pe­laku, melainkan dipakainya sendiri. Nah, saat itu, salah seorang teman pelaku ber­inisial AR meminjam motor tersebut. Namun, motor tersebut kehabisan minyak dan didorong,” ujar Kasat Reskrim Polres Bukittinggi AKP Albert Zai, Senin (5/10).

Ia melanjutkan, warga yang curiga setelah men­dapatkan laporan bahwa ada motor yang hilang dengan ciri-ciri yang sama mencoba menanyai AR. Namun men­dadak AR kabur melarikan diri sambil membawa kunci motor, sementara sepeda motor merk Scoopy tanpa nomor polisi (nopol) ini ditinggal di lokasi. Warga yang menduga sepeda motor itu adalah hasil curian se­gera mengangkut sepeda motor tersebut ke Mapolres Bukittinggi.

“Dari pengakuan pelaku, dirinya sudah dua kali men­jalankan aksinya. Pertama kali beraksi mereka mencuri sepeda motor merk Smash pada tanggal 17 agustus lalu dikawasan Simpang Tem­bok. Motor tersebut sudah dijual seharga 1 juta kepada salah satu pembeli yang tidak diketahui iden­ti­tas­nya,” jelas Albert Zai.

Ia menjelaskan, saat me­lakukan aksi perdananya, pelaku dibantu oleh dua temannya, GN dan AB. Ke­ti­ga anak ini adalah temen sepermainan, dan tempat tinggal mereka saling berde­ka­tan. Setelah sukses men­curi, pelaku RSE malah tergiur untuk mencuri kem­bali. Namun untuk aksi ke­dua ini, pelaku malah minta pertolongan pada kakak kandungnya sendiri.

Saat melakukan pencu­rian, pelaku sama sekali tidak merusak sepeda motor yang menjadi targetnya, kare­na misinya hanya mencuri sepeda motor yang pe­mi­lik­nya lalai dan lupa membawa kunci kontak.

Setelah melihat ada kun­ci kontak yang tergantung pada tempatnya, pelaku lalu mengambil kunci kontak ter­sebut, lalu mengamati suasana di sekitarnya. Se­telah merasa aman dan tak menjadi perhatian orang lain, pelaku lalu kembali menuju sepeda motor itu, dan membawanya pulang.

“Sesuai dengan undang-undang no 11 tahun 2012 bahwa yang bisa diproses hukum adalah yang berumur 14 tahun lebih, sedangkan mereka masih dibawah umur. Un­tuk itu, satu-satu­nya jalan adalah me­ngem­balikan mereka kepada orang tua­nya masing-masing untuk dididik. Caranya de­ngan melakukan pendekatan dan memberikan pengertian sembari memberikan pela­jaran bahwa apa yang me­reka lakukan adalah salah dan melanggar hukum,” tambah Albert Zai. (h/wan)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]