Minim Sosialisasi, TdS Bikin Macet


Senin, 05 Oktober 2015 - 19:27:58 WIB

Widya (22) warga Air Tawar, Kota Padang me­ngaku kalau pelaksanaan TdS merupakan agenda ta­hu­nan yang menarik. Karena selama ini me­nu­rutnya, tidak ada iven sepeda sekelas TdS di Sumbar. Hanya saja yang menjadi keluhan mi­nimnya sosialisasi etape yang akan dilewati pebalap sehingga menyebabkan ke­ma­cetan.

“Ivennya bagus, hanya saja bikin macet. Jadi, sosialisasinya harus lebih ditingkatkan. Sehing­ga warga tidak terjebak macet dan aktivitasnya tidak terganggu,” ujarnya kepada Haluan Senin (5/10) kemarin.

Seakan menguatkan perta­nyaan Widya. Lyna (27) pemilik salah toko online mengalami hampir gagal transaksi ketika ada penutupan jalan. Ketika ia akan mengantarkan barang pesanan pelanggan, Lyna harus terkurung macet selama lima jam saat be­rang­kat dari rumahnya di Sa­wahan.

“Informasi etape yang tidak jelas membuat rencana saya untuk mengantarkan pesanan pelanggan terganggu. Hampir gagal tran­saksi, untung pelanggan saya mau mengerti dengan kondisi ter­sebut,” terangnya.

Lyna berharap, ke depan agar sosialisasi TdS dapat ditingkat­kan. Sehingga tidak membuat panik warga dengan penutupan jalan. “Saya tidak mendapat informasi etape. Jadinya, harus terkurung macet berjam-jam. Mohon informasinya ditingkat­kan,” paparnya.

Pelaksanaan iven Inter­nasio­nal Tour de Singkarak tahun 2015 yang baru beberapa hari ini saja digelar ternyata meninggalkan banyak cerita. Dimulai dari insiden pebalap yang salah jalur, diulangnya start pada etape I hingga beberapa kali, hingga yang masih menyisakan di benak mas­yarakat yaitu kemacetan yang luar biasa pada saat etape I dan II (3/10 dan 4/10) yang dimana perlin­tasan etape tersebut melewati jalanan yang ada di Kota Padang.

Tak pelak hal ini menjadi sorotan dari Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Padang, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Wisnu Andayana. Wisnu kepada Haluan mengatakan, pelaksanaan TdS tahun 2015, khususnya pada etape I dan II yang mana etape tersebut mele­wati jalanan yang ada di Kota Padang, membuat jalanan men­jadi luar biasa macetnya.

Wisnu mengatakan, seharus­nya Event Organizer dari TdS kali ini berkoordinasi dengan pihak keamanan tentang peruba­han start dan perubahan waktu yang mendadak tentang rutenya, penutupan arus jalanan di wilayah hukumnya tidak akan lama.

“Menutup jalan tidak semu­dah menutup kran air, karena yang dihadapi adalah ribuan pengguna jalan, ini terbukti pada saat jalan sudah ditutup, masih ada pemakai jalan yang menye­robot masuk jalan yang sudah disterilkan,” kata Wisnu.

Dia menambahkan, jika jalan tidak ditutup lebih awal sebelum pebalap sepeda itu lewat, resiko terhadap peserta itu sendiri akan besar. Bukan hanya kepada Suma­tera Barat selaku tuan rumah penyelenggaraan iven ini, tetapi juga melibatkan negara.

“Makanya pada etape I karena kelamaan menunggu, dia me­merintahkan kepada anggotanya untuk membuka arus jalanan, walau seharusnya belum dibuka pada waktunya,” jelas Wisnu menutup pembicaraan.

Sejumlah sopir di Kota Pa­dang juga mengeluhkan minim­nya sosialisasi rute TdS. Hal ini membuat kemacetan panjang, karena seluruh jalan yang dilalui dilakukan penutupan sementara.

Akibatnya, banyak kendaraan pribadi maupun umum yang terjebak kemacetan panjang saat para pembalap TdS akan mele­wati rute yang telah ditetapkan panitia. Andri (23), salah seorang sopir angkot Jurusan Indarung mengakui,  biasanya dalam wak­tu satu jam, ia sudah dapat dua trip dengan penghasilan minimal Rp80 ribu, tetapi dampak dari kemacetan tersebut membuat ia telat.

Dari kemacetan panjang ter­sebut juga terlihat, para pela­jar harus berjalan kaki. Mereka berjalan kaki sambil menggerutu menghadang panasnya terik mata­hari. Resti (17), salah seorang pelajar kelas 3 salah satu pelajar di sekolah kejuruan di Kota Padang ini mengaku kelelahan berjalan kaki sejauh 3 km.

“Saya terpaksa jalan kaki bang, karena angkot lama sampai akibat macet ini,” ujarnya sambil mena­nyakan penyebab macet tersebut kepada Haluan.

Rekayasa Jalur TDS Sudah Dioptimalkan

Sementara itu, Dirlantas Pol­da Sumbar, Kombes (pol) Eddy Djunaifi menyebutkan rekayasa jalur lintasan yang dilewati peba­lap Tour de Singkarak 2015 sudah dioptimalkan sedemikian rupa. Bahkan untuk titik pengalihan arus lalu lintas sudah ditentukan jauh hari sebelum pelaksanaan, sesuai dengan pertimbangan dan kesepakan antara pihak pe­nye­lenggara dan kepolisian.

Bahkan untuk kondisi waktu buka tutup arus lalu lintas, sudah dihitung secara detail dengan memperkirakan jarak tempuh pebalap mulai dari garis start hingga melewati titik yang ditu­tup. Namun, secara teknis me­mang terjadi sedikit kendala yang menyebabkan kemacetan, seperti halnya yang terjadi pada etape I dengan start Pantai Carocok Pesisir Selatan dan finis di Pantai Gondoriah Pariaman.

“Semua terkait dengan reka­yasa jalur TDS 2015, sudah kita optimalkan. Bahkan untuk itu, jauh hari sebelumnya, kita sudah melakukan survey lintasan, serta menentukan titik pengalihan arus lalu lintas,”sebut, Kombes (pol) Eddy Djunaidi. Senin (5/10)

Rekayasa lintasan serta penu­tupan arus lalu lintas untuk sementara waktu lanjut Kombes (Pol) Eddy, guna memberikan keamanan kepada seluruh peba­lap yang melintas. Dengan demi­kian, diharapkan kepada seluruh pengguna jalan yang terjebak kemacetan untuk dapat memak­lumi kondisi tersebut. Walau terjebak kemacetan, seluruh peng­gu­na jalan dapat berkomunikasi dengan petugas pengamanan yang berjaga, tentang rute pengalihan.

Buka tutup arus lalu lintas dilakukan sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh pihak pe­nyelenggara dan penanggung jawab perlombaan, yakni satu jam sebelum pelaksaanaan (start). Namun kondisi tersebut dapat berkembang secara dinamis, tergantung kondisi teknis di lapangan. Jika situasi masih agak longgar, terutama pada jalur satu arah, maka buka tutup sedikit untuk mengurangi kemacetan masih diperbolehkan.

“Jika memungkinkan, maka buka tutup sedikit boleh lah, yang penting kemacetan tidak ber­langsung lama,”paparnya.

Tak hanya itu saja, Eddy juga berharap kepada seluruh peng­guna jalan agar mengikuti arahan dari petugas, saat seluruh pebalap sudah lewat, terutama pada titik persimpangan. Jangan sampai terjadi konflik kemacetan karena ingin saling mendahului.

Kesalahan Rute Dievaluasi

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Sumbar Burhasman menyebutkan, pelaksanaan  TdS akan terus dievaluasi.

“Kita akui pada etape I me­mang ada pebalap atau tim yang nyasar. Ini akan jadi evaluasi untuk lebih baik lagi pada tahun depan. Tapi selama enam tahun pelaksanaan berturut-turut, baru kali ini kita mengalami insiden seperti itu,” kata Burhasman pada Haluan tadi malam (5/10).

Selain persoalan salah rute yang dilalui pebalap, sekaitan dengan penutupan jalan yang banyak mendapat keluhan, menu­rutnya itu juga akan menjadi perhatian. Dalam hal ini Burhas­man berharap pengertian dari masyarakat.

Ditambahkannya, pengertian masyarakat untuk mengizinkan jalan ditutup sementara waktu, sama halnya dengan  telah men­du­kung pelaksanaan TdS. Pihak­nya, sebut Burhasman,  begitu berharap hal tadi bisa dilakukan,  karena dampak dari TdS juga adalah untuk masyarakat Sumbar sendiri.

“TdS bertujuan untuk mena­rik lebih banyak wisatawan ber­kunjung ke Sumbar. Saat kun­jungan wisatawan meningkat, roda perekonomian juga akan terpacu. Ke depan yang akan merasakan dampaknya tentu masyarakat juga,” paparnya.

Kembali tentang adanya penu­tupan beberapa ruas jalan utama di Kota Padang, menurutnya salah satu penyebabnya adalah, karena tengah adanya perbaikan dan perluasan di jalan raya By Pass.

Ini mengakibatkan rute TdS yang melewati Kota Padang harus melewati beberapa jalan utama di pusat kota. “Namun ini juga telah menjadi evaluasi bagi kita untuk diantisipasi. kedepan, kita akan upayakan agar iven TdS ini, tidak menghambat aktivitas warga,” pungkas Burhasman. (h/(h/mg-isr/mg-adl/mg-san/mg-len)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]