Kewajiban Pemko Padang Optimalkan Fungsi Terminal


Selasa, 06 Oktober 2015 - 19:37:29 WIB

Tugas Pemko Padang tidak berhenti ketika ter­minal sudah berdiri. Tapi memaksimakan fungsi ter­minal sehingga bisa me­ngurai kemacetan.

“Saya pelajari kehadiran terminal di Kota Padang tidak berfungsi dengan mak­simal. Dulu terminal bus di Aia Pacah juga tidak mak­simal beroperasi dan akhir­nya bus ngetem di de­pan UNP dan Simpang Lubeg. Ditambah lagi terminal atau pangkalan angkot samping kantor Balaikota me­nga­lami kondisi yang sama,” ucap Yossafra.

Ia menambahkan, jika Pemko mau menghadirkan terminal untuk mengurai kemacetan di Kota Padang. Dengan kehadiran terminal di Pasar Raya harus bisa dilihat kemampuan untuk mengoptimalkan terminal.

“Akibatnya, angkutan kota “terpaksa” ngetem di sembarang tempat mencari penumpang. Terminal baya­ngan pun bermunculan di sejumlah titik di Kota Pa­dang. Alhasil, kemacetan tak terelakkan, apalagi pada jam-jam sibuk,” terangnya lagi.

Seperti di Jalan Hamka, Simpang Lubukbegalung, simpang Gaung, depan Bas­ko, simpang Balai Kota lama dan lainnya.

Dia menilai, kemacetan dipicu banyaknya bus AKAP dan travel liar nge­tem di kawasan itu. Kondisi ini, diperparah lagi dengan perilaku sopir angkot see­nak­­nya menurunkan pe­numpang dan ngetem.

“Pemko Padang se­ha­rusnya arif menyikapi per­soalan ini. Jangan se­kadar wacana saja untuk men­diri­kan terminal, nyatanya se­karang belum ada tanda-tanda pembangunannya. Ter­­­minal angkot sama saja de­ngan tidak ada,” ung­kapnya.

Pemandangan yang sa­ma juga terlihat di sim­pang Balai Kota lama Pasar Raya Pa­dang. Angkot mengular di sim­pang Jalan Sandang Pa­ngan hingga ke depan kantor Balai Kota lama.

Menurut Yossafra, sete­lah terminal AKAP di Anak Aia nantinya tidak seperti terminal yang sudah ada. Kehadiran terminal sama saja dengan tidak adanya terminal. “Untuk itu Pemko harus membuat pe­ren­ca­naan de­ngan matang,” saran Yos­safra.

Terkait dengan kondisi pangkalan angkot Pasar Ra­ya sopir angkot Agus me­nambahkan, meski pang­kalan angkot sudah diba­ngun namun sejumlah ang­kot lebih memilih mangkal dan ngetem di sepanjang simpang jalan Balai Kota lama, karena sopir menge­luhkan areal pangkalan ang­kot terlalu sempit dan fasili­tas tidak memadai.

“Sopir angkot tidak bisa juga disalahkan, karena pang­­kalan angkot tersebut tidak dapat mengakomodir jumlah angkot yang akan masuk ke dalam pangkalan ditambah lagi sekarang pe­numpang sepi. Tidak hanya itu saja, drainase pasar yang buruk menuju terminal dari Inpres 1 membuat penum­pang ma­las menuju ke ter­minal ang­kot,” ungkap lela­ki yang su­dah puluhan tahun jadi sopir.

Selain itu, Inyiak me­ngaku kalau angkot tidak ngetem, otomatis tidak da­pat penumpang terutama angkot jurusan Banuaran, Cendana dan Palinggam.

“Kalau diharapkan pe­numpang naik di jalan sangat sulit. Makanya, terpaksa kita kucing-kucingan dengan pe­tugas. Jika aturan ditaati, kita tidak dapat penumpang atau sewa. Makanya, se­belum ditegur petugas, kita ngetem saja dulu hingga dapat pe­num­pang,” katanya. (h/ows)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]