Kabut Asap, 20 Anak dan Bayi Terjangkit ISPA


Jumat, 09 Oktober 2015 - 19:26:55 WIB

Kepala Ruangan Anak RS. Ibnu Sina Bukittinggi, Afrida Sri Hartini menye­butkan selama bencana ka­but asap melanda Bukittinggi dan daerah lainnya tercatat sebanyak 20 anak-anak dan bayi dirawat di RS Ibnu Sina akibat menderita penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas).

Terakhir ada bayi asal Pekan­baru, Riau yang diungsikan orang tuanya ke Payakumbuh dan Bu­kit­tinggi. Bayi Feyza Anzilni dirawat di RS Ibnu Sina Bukit­tinggi menyusul sakit pada salu­ran pernafasannya. Bayi yang masih berusia dua bulan itu sempat mendapat pasokan oksi­gen setelah mendapat gangguan bernafasan.

Ayah bayi mungil itu, Hengky (36), menyebutkan anaknya lahir di salah satu rumah sakit di Pekanbaru, 14 Agustus 2015 lalu. Saat itu, kondisi Kota Pekanbaru sudah mulai diselimuti asap dan tergolong tidak sehat.

Khawatir akan anaknya me­ngalami masalah karena kabut asap itu, Hengky berinisiatif mengungsikan Feyza ke rumah mertuanya di Payakumbuh. Ke­diaman orang tua istrinya ini, Hengky berharap anaknya bisa menghirup udara yang lebih sehat. “Kami sekeluarga sangat khawatir dengan kesehatan putri kami ini, selama di Pekanbaru ia menghirup udara tidak sehat. Satu minggu setelah istri saya melahirkan, kami sekeluarga memutuskan untuk mengungsi ke Payakumbuh di rumah mertua saya,” kata Hengky kepada Ha­luan di RS. Ibnu Sina Bu­kit­tinggi, Jumat (9/10).

Hengky menjelaskan, selama berada di Payakumbuh kondisi kabut asap tidak jauh berbeda dengan di Pekanbaru, setiap hari bayinya selalu menghirup udara yang tidak sehat dan lama kela­maan daya tahan putrinya menurun.

Akhirnya, Jumat (2/10) Feyza mulai menunjukkan gejala  ber­beda karena udara sehat yang ia butuhkan tak kunjung didapat. Ia mulai terserang sakit influenza, batuk, demam dan suhu tubuhnya naik turun. Melihat kondisi anak keduanya selalu menanggis kemu­dian ia membawa berobat ke salah satu klinik di Payakumbuh. Namun kondisi Feyza tidak me­ngalami kemajuan dan akhirnya sambil berobat jalan ia membawa Feyza ke Bukittinggi, di tempat orang tuanya untuk mengunggsi supaya terhindar dari kabut asap di Payakumbuh.

Lagi-lagi, upaya Hengky tak berbuah manis. Di Bukittinggi kabut asap bukannya berkurang malah semakin bertambah dan akhirnya Feyza tidak tahan de­ngan keadaan itu. Ia mengalami sesak nafas hebat kata Hengky, sehingga setiap bernafas dadanya selalu berbunyi. Melihat kondisi tersebut Hengky Selasa (6/10) membawa putrinya ke RS Ibnu Sina Bukittinggi dan sampai hari ini (Jumat, red) Feyza masih menjalni perawatan di Ruangan Isolasi untuk memulihkan kon­disinya.

“Alhamdulillah keadaan putri saya sudah mulai agak membaik, selang oksigennya kemaren sudah dilepas,” ulasnya. Namun di sisi lain ia merasa khawatir dengan biaya pengobatan selama berada rumah sakit. Sebab bayinya tidak mempunyai kartu BPJS Kese­hatan. Ia telah mencoba mendaf­tarkan bayinya sebagai peserta BPJS Kesehatan.

Sayang, kartu BPJS tersebut bisa dipergunakan, menurut pegawai Kantor BPJS Kesehatan kartu itu bisa dimanfaatkan sete­lah 14 hari mendaftar. Ia berha­rap sekiranya pemerintah bisa membantu biaya pengobatan putrinya, sebab selama dua bulan ini ia tidak bisa mencari nafkah karena usahanya berjualan di Pekanbaru sudah ia tutup karena tidak tahan dengan kabut asap yang melanda Pekanbaru.

Sebelumnya di Padang, salah satunya murid di SD 01 Alang Laweh, Parlen Lorenzo harus dilarikan ke rumah Puskesmas Seberang Padang karena me­nge­luh sesak nafas saat bera­ktifitas di sekolahnya, Kamis (8/10).

“Pukul 08.30 WIB, tiba-tiba Parlen datang ke gurunya dengan keluhan susah bernafas. Oleh guru, ia dibawa ke ruangan UKS. Nah di ruangan tersebut ada sekitar setengah jam, dan kami menduga kalau Parlen ini takut­nya kena ISPA. Lalu kami putus­kan untuk mambawa ke Puskes­mas Seberang Padang untuk di­perik­sa lebih lanjut,” ungkap Kepala Sekolah SD 01 Ribosnita yang didampingi oleh guru yang membawa Parlen ke Puskesmas Yurma Yunidar saat ditemui media.

Dikatakan juga, ternyata duga­an para guru terbukti saat Parlen dibawa ke puskesmas dan hasil pemeriksaan dokter menyatakan kalau siswa tersebut positif ISPA dan langsung dilakukan penin­dakan.

Ribosnita juga mengaku, be­lum ada himbauan baik itu dari pemko maupun Dinas Pendi­dikan untuk meliburkan aktivitas di sekolah, makanya ia tidak berani mengambil kebijakan untuk meliburkan siswa. Disisi lain, para siswa juga sedang melaksanakan ujian tengah se­mester yang sudah berjalan dari Senin kemarin hingga Sabtu depan, namun disisi lain ia kha­watir dengan kondisi kesehatan para siswa.

“Kita hanya mengurangi akti­vitas di luar ruangan saja, seperti olehraga, kultum, dan pramuka untuk sementara ditiadakan dulu atau kami adakan diruangan saja,” ulasnya.

Kepala Dinas Kota Padang Dr Eka Lusti dalam wawancara de­ngan Haluan, menyebutkan, bayi dan anak-anak memang rentan diserang penyakit akibat kabut asap. Karenanya, perlu perhatian agar mereka bisa jauh dari jang­kauan asap, seperti mengurangi aktifitas di luar rumah atau meng­gunakan masker saat di berada di luar. (h/mg-rin/ril)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]