‘Krisis’ Rumah Bagonjong di Bukittinggi


Ahad, 11 Oktober 2015 - 18:50:34 WIB
‘Krisis’ Rumah Bagonjong di Bukittinggi

Saking dinilai pentingnya kehadiran rumah gadang bagonjong di Kota Bukittinggi, Presiden Jokowi sampai-sampai merekomendasikan hal itu kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (MenPU dan Pera) agar menjadi perhatian penting. Hal itu disampai­kan oleh Presiden Jokowi saat meresmikan Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh, Pesisir Selatan pada Sabtu  (10/10).

Baca Juga : Pos Penyekatan Dinilai Efektif, Volume Kendaraan dari Jakarta Turun 53 Persen

Masyarakat dan para stake holder di Kota Bukit­tinggi perlu berterima kasih secara khusus kepada Presiden Jokowi, atas perhatiannya yang sangat mendalam terhadap kota  kelahiran sang Proklamator Kemerdekaan RI Bung Hatta. Tentu saja masukan yang disampaikan presiden didasari pemahaman tentang besarnya potensi pariwisata yang dimiliki eks Ibukota Sumatera Tengah tersebut.

Kota Bukittinggi memang sangat Indah dan udaranya sejuk. Selain  memiliki view yang menawan, Kota Bukittinggi juga menjadi saksi sejarah bagi kelanjutan keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bukittinggi pernah menjadi Ibukota Republik Indonesia, ketika Jakarta dan Yogkarta jatuh ke tangan Belanda. Dari Kota Bukittinggi  dan daerah-daerah di sekitarnya, Bangsa  Indonesia dapat mengabarkan kepada dunia internasional bahwa bangsa ini belum lagi jatuh seperti halnya yang diekspos oleh pihak Belanda.

Baca Juga : Anies dan Zulkieflimansyah Pimpin Peta Elektabilitas Pilpres 2024

Wisatawan atau pun para tamu yang datang dari dalam dan luar negeri ke Sumbar, belum lagi terasa berkunjung ke Ranah Minangkabau, jika mereka belum singgah atau mampir ke Kota Wisata Bukittinggi. Artinya Bukittinggi  adalah ikonnya Sumbar. Namun sejak beberapa dekade terakhir, rumah-rumah warga dan gedung-gedung milik swasta dan pemerintah daerah di kota ini mayoritas tidak lagi menggambarkan ciri khas bangunan tradisional Minangkabau berupa rumah gadang bagonjong.

Apa yang disampaikan oleh Presiden Jokowi tentang minimnya rumah gadang bagonjong di Kota Bukittinggi juga mendapat perhatian dari Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Negeri Padang, Ernawati. Menurutnya, saat ini memang minim jumlah rumah dan bangunan yang berarsitektur Rumah Gadang Bagonjong Kota Bukit­tinggi. Sedangkan wisatawan asing berkunjung ke Bukittinggi  tujuannya adalah mencari hal-hal yang menjadi ciri khas dan tradisi di daerah tersebut, termasuk di antaranya rumah gadang bagonjong.

Sesuai dengan permintaan Presiden kepada Menteri PU dan Pera agar memperkuat keberadaan rumah gadang bagojong di Kota Bukittinggi perlu direspon dengan baik dan segera ditindaklanjuti oleh Pemko Bukittinggi.

Masyarakat, swasta dan pemerintah yang memiliki asset di tepi jalan sebaiknya segeralah  mengaplikasikan masukan yang disampaikan Presiden Jokowi. Jika sebelumnya telah ada Perda yang mengatur tentang bangunan di pinggir jalan utama di Bukittinggi, maka ke depan pemko perlu ‘menghidupkan’ kempali Perda tersebut. Mudah-mudahan dengan penerapan ciri khas yang demikian, Bukittinggi terus maju dan berkembang sebagai kota wisata. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]