Pengawasan Hutan Dinilai Lemah


Rabu, 14 Oktober 2015 - 19:28:42 WIB

Keserahan masyarakat tersebut, sudah disam­pai­kan ke Balai Wartawan (B­W) Luak Limopuluah, agar wartawan turun melalukan pemantauan ke daerah terse­but. Sebelum tim investigasi Balai Wartawan meninjau ke lokasi, terlebih dahulu menghubungi Kadis Ke­huatan dan Pertambangan Limapuluh Kota, Ir. Khalid untuk konfirmasi apakah benar terjadi aksi peram­bahan hutan di kawasan Jorong Tanjuang Ateh, Ta­ram tersebut.

Awalnya, orang nomor satu di lembaga yang me­miliki tugas dan wewenang untuk menjaga kelestarian hutan itu, mengaku tidak tahu dengan dugaan aksi perambahan hutan di ka­wasan tersebut. Namun, beberapa menit kemudian, Khalid justru mengontak balik rekan wartawan yang menghubunginya dan me­ngajak wartawan ikut serta turun ke lokasi.

Karena tim investigasi BW Luak Limopuluah, ter­masuk Haluan, memang telah merencanakan untuk turun ke lokasi tersebut, kontan saja ajakan Khalid itu direspon sejumlah ka­wan-kawan media cetak, Televisi serta media online, ikut turun kelokasi, Selasa (14/10) bersama Polisi Hu­tan beserta staf Dinas Ke­hutanan setempat.

Sesampai di lokasi, ter­nyata dikaki bukit Kapalo Banda Jorong Tanjuang Ateh, Taram tersebut, sudah dibuka akses jalan baru sepanjang 3 kilometer de­ngan lebar sekitar 5 sam­pai 6 meter. Pengakuan Khalid, jalan tersebut dibangun dengan dana aspirasi ang­gota dewan. Pihaknya hanya diberi tahu atas dibukanya jalan tersebut, tidak pernah memberikan izin resmi, karena informasinya pem­bukaan jalan baru untuk kepentingan pembangunan objek wisata.

Sepanjang jalan baru yang dibuka, tim investigasi BW Luak Limopuluah me­nya­ksikan kayu-kayu uku­ran kecil termasuk kayu pinus berukuran besar di­duga dirambah oleh oknum yang tidak bertanggung ja­wab. Kepada tim BW, pihak Dinas Kehutanan Pertam­bangan Limapuluh Kota, berdalih bahwa pohon pinus yang dirambah itu adalah pohon pinus yang sudah mati.

Padahal, di lokasi hutan Hutan Penggunaan Lain (HPL) yang menghu­bung­kan Jorong Tanjung Ateh. Taram, dengan Nagari Bu­luh Kasok itu, terlihat pulu­han batang vinus seperti sengaja dibakar, untuk ke­mudian ditebang dan diolah menjadi papan panil di­perkirakan berukuran 30X 5 Cm.

Lebih mengejutkan lagi, ternyata diujung jalan baru yang telah terbuka itu, ko­non memanfaatkan dana APBD Limapuluh Kota, yang tidak diketahui berapa ratus juta rupiah jumlahnya. Dilokasi itu, ditemukan wartawan seorang oknum anggota DPRD Limapuluh Kota, Tedy Sutendi, yang mengaku sebagai pemilik lahan dan berencana akan membangun objek wisata Water Boom di lokasi terse­but.

Kepada tim, anggota dewan dari Partai Hanura itu membantah melakukan pe­rambahan hutan, kecuali dia membenarkan telah me­ne­bang sejumlah pohon pinus untuk pembangunan bedeng yang didirikannya di lokasi tersebut. “Dari pada saya membeli kayu di luar, lebih baik saya olah saja pohon pinus ini. Dan lagi, pohon pinus yang saya te­bang adalah pinus yang su­dah mati,” kilahnya.

Apapun alasannya, aksi penebangan hutan pinus yang berpungsi sebagai re­boisasi hutan itu, jelas tidak dibenarkan. Namun, heran­nya, meski pihak Dinas Kehutanan Limapuluh Ko­ta, sudah menyaksikan ada­nya aksi pengrusakan hutan pinus di Jorong Tanjung Ateh, Taram, tersebut terke­san membiarkan saja dan malah tidak memper­soal­kan­nya.

Sejumlah masyarakat Taram yang dihubungi me­nga­ku, pengrusakan hutan yang terjadi di jorong Tan­jung Ateh,Taram, tidak ha­nya sebatas penebangan ka­yu-kayu kecil dan kayu pi­nus saja. Namun, lebih dari itu, jauh didalam areal hutan yang banyak didapati jalan-jalan kecil alias jalan mancik dan anak sungai, menurut warga, jalan dan anak sungai tersebut merupakan akses jalan untuk membawa kayu-kayu hasil perambahan hu­tan yang dilakukan secara liar. (h/zkf)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]