Memaknai Hijrah


Kamis, 15 Oktober 2015 - 19:51:34 WIB
Memaknai Hijrah

Hijrah secara termi­nologi bermakna pindahnya Nabi Muhammad dari Me­kah ke Madinah. Artinya nabi atas perintah Allah me­mindahkan locus dakwah­nya ke tempat yang baru (Madinah), sebab Mekah tidak lagi kondusif untuk menyebarkan dan melak­sa­na­kan Islam. Ancaman fi­sik dan politik terus men­de­ra setiap derap langkah na­bi dan pengikutnya. Alha­sil, hijrah adalah pilihan te­pat dan strategis untuk me­nata ulang strategi per­jua­ngan.

Baca Juga : Protes PP No 57 Tahun 2021, Alirman Sori: Pancasila Seharusnya Masuk Kurikulum Wajib!

Dalam makna yang luas, hijrah bukanlah sekedar berpindahnya dari satu tem­pat ke tempat yang lain atau hijrah makani, tetapi yang lebih penting adalah hijrah maknawi. Inilah makna hi­jrah dalam konteks era kekinian. Namun sering dilupakan oleh mayoritas umat di setiap pergantian tahun hijriah. Sudahlah gegap gempita penyam­bu­tan­nya kalah jauh dari tahun baru masehi, memaknainya juga luput dalam hidup. Padahal hijrah yang dilaku­kan nabi sarat dengan nilai dan makna agar manusia sukses dan selamat dalam meniti jembatan kehidupan.

Pertama, meluruskan oreintasi dan motivasi (niat) dalam hidup. Setiap peru­bahan dalam kehi­du­pan ha­rus­lah diletakkan dalam kori­dor ketuhanan. Artinya, mem­buang jauh-jauh niat materialisme atau mo­tivasi yang lain. Seba­gaimana ungkapan nabi ke­ti­ka meli­hat gelagat pengik­utnya yang memiliki motif berbeda ketika hijrah, “ Sesung­guhnya amalan itu tergan­tung pada niatnya, dan se­sungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hi­jrah­nya (akan diterima) sebagai hijrah karena Allah dan Ra­sul-Nya, dan barang­siapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang hendak dinikahinya, maka ia akan mendapati apa yang ia tuju,”. (H.R Bukhari & Muslim).

Baca Juga : Tak Cantumkan Pancasila dan Bahasa Indonesia Makul Wajib PT, Jokowi Didesak Batalkan PP 57/2021

Kedua, sarana intros­peksi dan refleksi diri. Ber­gan­tinya tahun menjadikan peluang untuk menyeleksi ulang setiap laku yang telah dijalani. Kemudian menya­darkan diri bahwa waktu kehidupan ini bukanlah abadi. Ada kehidupan lain setelah kehidupan alam fana di dunia. Di mana kita di­tuntut untuk memper­tang­gungjawabkan segala ting­kah laku kita. Untuk itu alangkah ruginya kita bila setiap detik-detik kehi­dupan tidak menyadarkan kita akan hakikat kehidupan yang sebenarnya.

Ketiga, momentum ke­bang­kitan. Rentang perja­lanan waktu harus mampu menyentakkan ruh opti­misme kita sebagai diri maupun sebagai institusi. Tidak ada kata pesimisme apalagi berhenti dalam meng­gali potensi kebaikan diri. Rasulullah sudah mela­kar sejarah bagaimana ia melakukan hijrah, menata ulang strategi dakwah dan membangun daulah pada masyarakat komunal Madi­nah. Terbukti, rasul berjaya meletakkan pondasi daulah dan kejayaan Islam hingga mencecah daratan Eropa.

Baca Juga : Peringatan HUT ke-69 Kopassus Digelar Secara Sederhana

Sebagai muslim, sudah selayaknya menjadikan ta­hun baru hijriah sebagai starting point untuk mela­kukan perubahan total da­lam kehidupannya. Mena­kar ulang setiap derap lang­kah negatif dan meng­ganti­nya dengan langkah tegap positif dan penuh opti­mis­me. Bukan dengan ungka­pan-ungkapan artifisial yang jauh dari jangkar subs­tansial dalam kehidupan.

Sejarah telah mencatat bagaimana tokoh-tokoh be­sar dunia berjaya menan­capkan jangkar kesuk­sesan­nya setelah mengadopsi mak­na hijrah yang dila­ku­kan nabi Muhammad. Me­ning­galkan kubangan keja­hi­liyaan dan menutupnya dengan cahaya Islam yang senantiasa menerangi jalan kehidupan mereka. Sebab, terperosoknya dalam ke­mak­siatan hanya akan mela­hirkan kehampaan hidup dan menghalangi cahaya terang menerobos masuk dalam jendela kehidupan manusia.

Baca Juga : PN Surabaya Tolak Gugatan Rhoma Irama Terkait Royalti Lagu Rp1 Miliar, Ini Alasannya

Untuk itu, memaknai hijrah dengan benar sangat penting dalam meniti jem­batan kehidupan ini de­ngan selamat. Tidak ada kata terlambat untuk beru­bah apalagi putus asa da­lam menjalani terjalnya kehi­dupan. Bukankah pe­luang untuk berubah ter­pampang luas yang di­be­rikan oleh pemilik ke­hidupan. Hanya orang-orang yang merugi yang tidak menjadikan se­tiap momentum perubahan wak­tu untuk merubah dan melakar dirinya sebagai pribadi yang unggul di sisi Allah.

Semoga tahun baru Is­lam 1437 H menjadikan kita menjadi pribadi yang senan­tiasa belajar memak­nai kehi­dupan dengan be­nar. Sehing­ga setiap detik-detik perja­lanan hidup kita bermakna dan bertabur ke­bai­kan serta menjadi pertan­da, bahwa kita telah mela­kukan hijrah positif dari kungkungan ne­ga­tif keja­hili­ya­an dunia. Wallahu’alam. ***

 

SUHARDI
(Alumnus Pascasarjana Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM))

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]