Liliana


Jumat, 16 Oktober 2015 - 17:19:56 WIB
Liliana

Ini yang membuat ibu cemas sementara usia nya terus bertambah. Bahkan liliana juga sudah memiliki pekerjaan yaitu guru dise­kolah dasar dan memiliki gaji yang lumayan. Jadi ia tidak ada alasan untuk me­nunda-nunda pernikahan apalagi ia anak perempuan satu-satunya dari ibu. Dan setiap kali ibu men­desak­nya,ia hanya berlenggang pergi sambil tertawa.

Baca Juga : Kecewa, dr Tirta Sebut Konten dr Kevin Samuel juga Mesum

Aku pernah mem­per­kenalkan dia kepada bebe­rapa orang temanku, tapi ia malah tersinggung dan ma­rah kepadaku. Karena me­nurutnya, aku telah me­ngambil kesimpulan bahwa ia tidak dapat mencari jo­doh. Ia menghujatku habis-habisan. Karena me­nurut­nya, aku lah yang harus dicarikan jodoh bukan dia. Memang kalau dilihat dari segi umur,aku sudah telat untuk menikah. Liliana bah­kan mengatakan aku sok bijak dalam urusan priba­dinya,dan ia benar-benar marah dan tak ingin aku mencampuri urusannya lagi.

Setetelah kejadian itu aku malas berurusan dengan liliana lagi,tapi pada waktu itu ia pernah mengirim e­mail kepadaku dan ia menga­takan

Baca Juga : Dicerca Netizen, Yuni Shara Justru Beri Jawaban Terimakasih

“jika tidak ada laki-laki yang patut dijadikan sua­mi, apa salahnya jika tidak kawin ?”

Aku tidak mengerti apa yang difikiran liliana pada saat itu dan aku juga tidak tahu bagaimana ibu dan bapak mengetahui ide lilia­na tersebut. Ayah dan ibu benar-benar murka kepada liliana dan sejak kejadian itu liliana tidak ingin bermain-main dengan ucapan dan ide gilanya terse­b­ut.

Baca Juga : Gegara Nikahan Atta-Aurel Bukan Sih? Thariq Halilintar Kini Positif COVID-19

Terkadang aku sebagai kakak laki-laki nya sangat iba melihat tingkah pola liliana yang pura-pura ba­hagia melihat dan menyak­sikan teman-temannya yang berkunjung kerumah ber­sama suami beserta anak-anak yang lucu dan meng­gemaskan.

Sudah beberapa kali ia bertanya kepadaku perihal kapan aku akan kawin.

Baca Juga : Yuni Shara Disindir Saat Pakai Ulos, Netizen: Terlihat Tua dan Keriput

“Uda kapan kawin?”

“Uda sebenarnya juga ingin kawin,tapi sebaiknya kamu pikirkan dirimu juga. Soalnya kamu seorang pe­rempuan, tidak baik telat kawin”

“apa maksud Uda, emang apa bedanya laki-laki sama perempuan?”

Karena malas ber­de­bat, aku tak pernah mela­de­ni­nya. Liliana ternyata me­ngerti  sopan santun, ketika menelpon ia hanya becerita penuh manja dengan aku, dan itu membuat aku makin sayang padanya,liliana ada­lah adikku satu-satunya,ia cerdas dan cantik,dan suka bertindak dalam bahaya. Sekarang liliana jadi jarang menelponku mungkin ka­rena ia seorang guru dan sibuk dengan tugas-tugas­nya, begitu pun aku terjebak dalam kesibukan yang padat sehingga cukup lama kami tidak saling kontak.

***

Hari ini aku pulang ke kampung,dalam rangka aca­ra lamaran adikku, liliana. Dan aku juga pulang di hari perkawinan adikku satu-sa­tunya tersebut. Acara per­kawinan liliana menurutku terkesan terlalu gemerlap dan mahal. Mungkin itu kehendak dari keluarga Di­mas mengungkapkan rasa syukur meskipun dengan cara yang berlebih-lebihan.

Di sela-sela pesta per­kawinan,ibu menarik ta­ngan­ku dan membawaku ke kamar.

“kapan kamu kawin?” tanya ibu dengan suara pe­lan dan sungguh-sungguh. Dan aku hanya bisa meng­gelengkan kepala

Memang setelah liliana kawin,aku menjadi sasaran perhatian keluarga. Mereka selalu bertanya kepada ibu kenapa aku tidak juga kawin. Dan ibu terus memberi pen­jelasan yang dapat diterima oleh orang dan mereka pun mengerti dan mengatakan pada saat nya aku pasti akan menikah. Mereka me­nga­takan hal itu dengan sikap menyemangati, tapi sesung­guhnya mengandung nada keprihatinan yang sa­ngat dalam. Maka, ketika ibu mengajukan pertanyaan itu, dadaku benar-benar sesak. Dan semua terasa kian me­nye­sakkan ketika Lebaran tiba.

Ketika masa mudik tiba, aku berniat membawa te­man satu kantorku yang ber­nama Rina, tabiatnya ham­pir sama dengan liliana. Rina mengatakan kepadaku

“daripada susah men­jawab pertanyaan tamu-ta­mu yang datang ber­leba­ran, juga untuk menggirang-gi­rang­kan hati ayah dan ibu”

Kurasa ide itu layak untuk aku coba,Rina juga tidak keberatan jika harus memerankan diri sebagai calon istri yang baik dan benar serta calon menantu yang sopan,lembut,dan ra­mah. Ia yakin dapat me­mainkan peran itu dengan sempurna sehingga akan membuat calon mertua jatuh hati kepadanya.

Pada akhirnya ibu benar-benar jatuh hati kepada R­i­na dan entah bagaimana Liliana mengetahui akal busukku itu. Setelah aku kembali ke Jakarta,liliana segera menelpon aku,untuk menhujat perbuatan aku itu. Ia mengatakan bahwa aku benar-benar tidak tahu belas kasihan dan tidak punya hati karena telah menipu dan mempermainkan ayah dan ibu. Aku merasa menjadi anak yang paling durhaka,

Pengecut,pembohong dan sebagainya. Begitulah cara liliana menghujatku tetapi liliana juga jatuh hati kepada Rina.

“Tapi,boleh juga sih Uni Rina itu da, dia wanita yang sangat cantik, cerdas, man­diri dan tidak sombong”

Rina hanya ketawa ketika kuceritakan semua itu,lalu ia bertanya: “ Lalu bagai­ma­na?”

“Gimana apanya?”

“Mau apa enggak nga­wini aku?”

Aku hanya bisa diam mendengar ucapan Rina.

 

Pada suatu kesempatan ketika makan berdua di kantin kantor,tiba-tiba Rina bertanya dengan nada sung­guh-sungguh.

“Jadi,kamu enggak ter­tarik dengan aku ya? Apa­kah enggak sebaiknya kita coba?”

Lagi-lagi aku hanya bisa diam.

Dengan nada jengkel ia berkata: “ benar kata Li­liana”.

Dan sebelum aku sem­pat menanggapi,Rina sudah berlalu pergi meninggalkan aku dengan perasaan yang kecewa.

“oh rupanya liliana dan rina telah berkomplot” pi­kirku

***

Saat itu aku bingung dengan diriku,tiba-tiba ibu menelpon aku dan mengata­kan ia akan naik haji tahun ini,ternyata diam-diam Di­mas,menantunya yang telah membayar ongkos naik haji Ibu dan Ayah. Sungguh bagi ibu dan ayah itu adalah ke­jutan yang ba­hagia dan sem­purna bagi mereka.

“Ibu benar-benar tidak tahu apa-apa. Semua biaya telah dibayar oleh Di­mas, sebenarnya aku me­nolak, tapi dia memaksa. Ibu harap kamu bisa mengerti”

Ibu pun meneruskan ka­ta-katanya : “kalau kamu punya uang,pakailah untuk menikah. Jangan berpikir macam-macam. Jangan pi­kirkan aku. Lebih baik pi­kirkan masa depanmu”. lalu ibu menutup tele­ponnya.

Ibu benar,aku harus me­mikirkan diri sendiri,jika punya uang sebaiknya ku­pakai untuk menikah. Tapi ibu juga benar, kenyataanya aku tak punya banyak uang. Gajiku tak seberapa untuk hidup di Jakarta. Maka sung­guh naif bila aku mem­ban­ding-bandingkan diri de­ngan Dimas,adik iparku.

“ jangan berbelit-belit. Kamu munafik,Jangan ter­lalu banyaak mimpi. Yang jelas,sekarang kamu mau melamar Rina atau tidak”.  kata temanku,Adi

Entah bagaimana aku jadi panik. Aku buru-buru menemui Rina dan me­nga­takan niatku untuk mela­marnya. Ia sangat terkejut dan terperangah. Tanpa ba­sa-basi dan tanpa berpikir panjang, Rina langsung me­nyatakan menerima lama­ranku.

Tanpa membuang waktu kami menyiapkan segala nya,termasuk memberi tahu ibu dan ayah. Aku berpikir pasti ibu dan ayah sangat bahagia mendengar kabar bahagia dari aku dan Rina. Tapi tiba-tiba Liliana me­nelpon tengah malam dan memberi tahu bahwa ibu jatuh sakit dan masuk di rumah sakit. Liliana me­nangis hingga membuat aku makin panik.

Esoknya, aku langsung pulang ke padang dan me­nemui ibu di rumah sakit yang sedang terbaring di Unit Gawat Darurat. Aku beserta Rina menemui ibu yang sedang terbaring lemas. Tubuhnya kering seperti kulit kayu. Matanya redup. Air matanya keluar saat mendengar bahwa aku dan Rina hendak kawin. (*)

 

Oleh:
WIDYA GUSNAWATI

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]