Ciptakan Green Bean Berkualitas Tinggi


Jumat, 16 Oktober 2015 - 17:20:40 WIB
Ciptakan Green Bean Berkualitas Tinggi

Kopi sering kali menjadi menu awal yang ditawarkan ketika akan memulai cerita dengan lawan bicara. War­nanya yang hitam pekat kadang seperti coklat tua, dengan adukan yang pas ditambahi sedikit gula pasir dan diseduh dengan air pa­nas mendidih, akan me­nge­luarkan aroma khas wangi kopi yang menggoda selera.

Baca Juga : Kabar Baik! Jaringan di Wilayah Sumatera akan Ditingkatkan Selama Ramadan

Kopi telah menjadi ba­gian hidup yang tak ter­pisahkan mulai dari pagi, siang hingga malam, kopi selalu menjadi teman, mulai dari stimulant (penambah semangat) hingga sekedar untuk relaksasi setelah le­lah menjalani aktifitas. Ni­k­matnya kopi, hingga tetes terakhir, begitu orang meng­gambarkannya. Karena itu­lah, filosofi kopi juga sering di­pakai untuk me­namai ju­dul novel, puisi, blog bah­kan nama sebuah komunitas.

Tak berbeda ketika me­nikmati kopi asal Sumbar. Bahkan lebih khusus lagi. Aroma kopi Arabica asal Sumbar sangat spefisik dan tiada duanya di dunia dan menjadi incaran para pe­nikmat kopi dunia.

Baca Juga : Maksimalkan Pengalaman Aktivitas Digital di Momen Ramadan dan Idulfitri 1442 Hijriah

“Aroma khas yang di­incar penikmat kopi itu adalah aroma harum, ada rasa lemon yang menonjol. Rasa lemon inilah yang menjadikannya spefisik dan mengundang orang untuk menikmati kopi asli dari Ranah Minang ini,” kata Kepala Dinas Perkebunan Sumbar, Ir. Fajaruddin suatu ketika.

Manfaatkan Lahan Tidur

Baca Juga : Resep Kolak Pisang Tanpa Santan, Cocok untuk Berbuka Puasa

Secara umum, produksi kopi Indonesia menempati peringkat ketiga terbesar di dunia setelah Brazil dan Kolombia. Tahun  2012, ICO melansir data bahwa konsumsi kopi dunia selalu meningkat setiap tahun, Bahkan ICO mem­per­ki­rakan pada 2015 nanti kon­sumsi kopi meningkat 155 juta. Ini merupakan peluang besar bagi Sumbar untuk menarik pasar dunia melirik kopi Indonesia.

Karena itu, sejak be­berapa tahun belakangan ini tanaman kopi menjadi pri­madona baru komoditi per­kebunan di Sumbar. Apa­lagi, harga kopi pun relatif tinggi mencapai Rp75 ribu/kg di tingkat petani. Karena permintaan tinggi otomatis akan diikuti harga jual tinggi, menjadi momentum bagi petani Sumbar bagaimana menjual produksi sendiri ke pasar dunia.

Baca Juga : Intip 5 Trik Kurangi Asupan Karbohidrat

Salah satunya di­kem­bangkan di Kabupaten So­lok, yaitu kebun kopi di­bawah naungan Koperasi Solok Radjo. Solok Radjo merupakan Koperasi Petani Kopi Arabika di dataran tinggi Solok (1200 – 1800 mdpl) Kabupaten Solok. Anggota koperasi terdiri dari petani-petani kopi yang tergabung dalam kelompok tani di daerah Kecamatan Lembah Gumanti, Keca­matan Danau Kembar, Ke­camatan Lembang Jaya dan Lecamatan Gunung Talang.

“Keempat kecamatan itu dulunya merupakan daerah penghasil markisah. Namun sejak beberapa tahun be­lakangan markisah tak lagi menjadi idola dikalangan petani sehingga me­ning­galkan banyak lahan tidur. Ini lah yang menggugah ka­mi untuk menggerakkan petani untuk menanam ko­pi,” kata Ketua Koperasi Solok Radjo Alfadriyan Syah (29) di­dampingi Teng­ku Firman kepada Haluan.

Menurut pemuda yang biasa disapa Adi ini, Solok Radjo hanya fokus me­la­kukan pengembangan di empat kecamatan tersebut karena kondisi geografis yang benar-benar optimal untuk memproduksi kopi dengan kualitas spesialti. Solok Radjo merupakan perkembangan tahap ke-2 dari Minang Solok Project.

Minang Solok Project merupakan program pe­ngem­­bangan kembali per­kopian di dataran tinggi Solok pada sektor hulu yang dilakukan secara kolektif. Dimulai pada Desember 2012, program ini meliputi pembenahan pada tahap pro­duksi dikebun seperti; per­baikan pada teknik bu­di­daya, panen dan pasca panen.

Kemudian dilanjutkan dengan pembenahan rantai per­dagangan dan pe­ma­sa­ran. Hasil dari program ini adalah munculnya “Kopi Arabika Minang Solok” di kancah perkopian nasional. Me­masuki tahun 2014, Mi­nang Solok Project ber­trans­formasi menjadi Koperasi Solok Radjo untuk lebih mengakomodir kepentingan dan posisi tawar para petani kopi di dataran tinggi Solok.

“Saat ini ada sekitar 300 orang petani yang telah ber­gabung dengan lahan se­ti­daknya mencapai 900 hek­tar,” ungkapnya.

Meskipun hanya ber­bentuk sebuah koperasi, na­mun kata Adi, kini pi­haknya telah memakai sis­tem dan manajemen la­yak­ny­a sebuah perusahaan. De­ngan modal awal berasal da­ri swa­daya anggotanya, kini dengan di­dukung oleh 4 Unit Pe­ngo­lahan Hasil (UPH) Koperasi Solok Ra­djo sudah mampu menghasilkan kopi 800 kg hingga 1 ton ko­pi green bean specialti per bulan untuk mengisi pasar kopi nasional.

“Segmen pasarnya lebih ke cofee shoop yang ada di kota Medan dan pulau Jawa dalam bentuk green bean de­ngan harga Rp85.000 per­kilo,” jelasnya

Pihaknya berkeyakinan bahwa secangkir kopi tidak hanya menawarkan rasa, aroma dan karakter lainnya. Namun secangkir kopi me­rupakan prasasti yang me­maparkan budaya, sosial, sejarah dan kearifan hu­bungan manusia dengan alamnya. Berpijak kepada filosofi itu, koperasi Solok Radjo terus aktif mem­be­rikan sosialisasi kepada petani kopi tentang sistem tanam yang baik sehingga menghasilkan buah yang berkwalitas.

“Untuk menghasilkan 1 kg green bean spe­cial­ty di­butuhkan setidaknya se­banyak 7 kg kopi chery men­tah dengan harga Rp7.000 perkilogram,” tambahnya.

Sedangkan untuk pe­ngo­lahan pasca panen langsung ditangani oleh koperasi me­lalui UPH yang ada. Karena proses pengolahan pasca panen kopi yang terkontrol dan terukur akan meng­ha­sil­kan green bean yang baik.

“Kita membeli dari pe­tani buah dalam bentuk ceri (mentah), sedangkan untuk pengolahan lanjutan di­ta­ngani oleh UPH yang ada,” kata Adi yang juga seorang Q Grader (ahli pencicip kopi) ini. ***

 

Oleh:
YUTISWANDI

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]