Buruh Bentrok, PT KPN di Rohul Mencekam


Senin, 19 Oktober 2015 - 19:35:59 WIB

Buntut dari bentrok itu, tiga orang anggota F-SPTI mengalami luka ringan. Sedangkan seorang lainnya mengalami luka serius akibat terkena sabetan clurit.

Tidak hanya buruh, Kapolsek Tambusai AKP Yahya, juga menjadi korban. Hal itu setelah kepala bagian belakangnya tertimpa batu saat berusaha melerai bentrok antara kedua kelompok buruh tersebut. Akibat­nya, kepalanya pun mengalami pendarahan.

Untuk membubarkan kerusuhan, ratu­san Polisi gabungan dari Polres Rohul serta Polsek Tambusai dan Polsek Tambusai Utara, diturunkan dilapangan. Kedatangan petugas itu membuat kedua kubu yang berseteru membubarkan diri. Hingga Senin sore kemarin, PKS milik PT KPN masih tetap dijaga petugas untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Rebutan

Menurut salah seorang saksi mata yang juga Sekretaris Camat Tambusai, Musri, bentrok tersebut diduga akibat perebutan lahan kerja bongkar muat antara F-SPTI dan F-SP3.

Dikatakan, sejak PKS PT KPN dibuka tahun 2009 lalu, F-SP3 sudah melakukan kerja sama dengan pihak perusahaan dalam bongkar muat TBS sawit. Namun setelah tiga tahun berjalan, F-SPTI menawarkan diri untuk ikut mengelola bongkar muat TBS tersebut.

Tawaran itu ditolak F-SP3 sehingga sempat terjadi keributan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pihak Desa, Upika Kecamatan, Disnaker hingga Kepolisian men­coba melalukan mediasi. Namun upaya itu juga tidak membuahkan hasil, karena kedua pihak tetap bersikukuh pada pendirian msing-masing. “Ke­duanya sama-sama mengklaim punya hak bongkar muat,” terang Musri.

Permasalahan itu juga sempat dimediasi DPRD Rohul. Salah satu poinnya, DPRD Rohul me­min­ta kegiatan bongkar muat di pabrik itu dilaksanakan warga dengan berkoordinasi dengan Kepala Desa. Sedangkan poin lainnya, DPRD meminta F-SPTI dan F-SP3 berembuk dan bekerja sama melakukan kerja bongkar muat.

“Artinya yang bekerja bong­kar muat tidak lagi F-SPTI dan F-SP3, tapi atas nama masya­rakat. Na­mun F-SP3 menolak­nya. Sehingga dalam sebulan terakhir F-SPTI sempat me­ngambil alih kegiatan bongkar muat di PKS PT KPN,” terangnya.

“Saat bentrok tadi pagi, saya juga sempat melerai. Namun kedua belah pihak masih meno­lak untuk dilakukan mediasi,” terangnya lagi.

Di tempat terpisah, Ketua F-SPTI Rohul Sahril Topan, me­ngatakan, bentrok terjadi karena anggotanya diserang dan mobil­nya dirusak. “Sekarang tidak ada mediasi. Mereka (FSP3) me­nyerang anggota saya dan meru­sak mobil saya. Ini tindakan Kriminal. Saya meminta kepada pihak Kepolisian menin­dak­lanjuti masalah ini. Karena dalam menjalankan bongkar muat le­galitas kami jelas,” tegasnya.

Sementara itu Ketua F-SP3 Desa Batang Kumu, Apul Si­mamora, menjelaskan kejadian tersebut berawal dari F-SP3 hendak melakukan bongkar muat di PKS PT KPN. Sekitar 100 meter dari lokasi pabrik, mereka dilempari batu oleh kelompok F-SPTI. Tidak terima diberlakukan seperti itu mereka melakukan perlawanan dengan balas melempar kembali. Karena kalah jumlah, anggota F-SPTI akhirnya melarikan diri.

“Hasil mediasi oleh DPRD itu tidak kami terima. Karena dalam mediasi tersebut kami tidak dilibatkan. Lagi pula di PKS KPN tersebut sudah tiga tahun kami bekerja.  Kami tidak ingin bendera F-SPTI berdiri di sana. Kalau mereka mau bekerjasama silakan, tapi di bawah naungan F-SP3,” ujarnya.

Ditutup Sementara

Pasca bentok, Polres Rohul akhirnya menetapkan untuk me­nutup aktivitas di PKS PT KPN untuk sementara waktu. Sedang­kan untuk berjaga-jaga, Polres Rohul menurunkan satu kompi Brimob di lokasi pabrik.

Kapolres Rohul AKBP Pito­yo Agung Yuwono melalui Kasat Reskrim AKP Rachmad Muc­hammad Salihi mengatakan, pihaknya akan mengusut tuntas bentrok tersebut sekaligus me­ngamankan oknum yang diduga menjadi pemicu bentrok ter­sebut. “Saat ini, kita masih konsentrasi untuk pengamanan terlebih dahulu,” ujarnya.

Sementara Terkait kondisi Kapolsek Tambusai AKP Yahya, yang dirawat di Puskesmas Tam­busai, Salihi mengatakan kondisi yang bersangkutan sudah mulai membaik. “Sekarang masih men­jalani perawatan,” tambahnya.

Dampak lain dari bentrok dua kubu buruh bongkar muat saat itu membuat puluhan angku­tan tandan buah sawit (TBS) terpaksa pulang dan membawa­nya ke PKS lain. (hr/gus)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 24 Agustus 2016 - 03:42:48 WIB

    Tiga Buruh Jatuh dari Ketinggian 15 Meter

    TEMBILAHAN, HALUAN — Tiga orang buruh bangunan pengerjaan proyek Pem­bangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Parit 23 Kelurahan Sungai Beringin, Tembilahan, jatuh dari ketinggian 15 meter akibat putusnya tali gondola saat ketiga.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]