WNA Mengaku Diusir di Mentawai


Senin, 19 Oktober 2015 - 19:37:36 WIB

 

Menurut Stevan, tembakan ke udara itu dilakukan oknum polisi setempat, karena kapal dituduh memasuki area Moring Boy dari Resort Macaronis.

“Saya sendiri mendengar tembakan itu, dan beberapa tamu saya suruh masuk ke kapal,” ujarnya.

Stevan pun berasumsi bahwa tembakan peringatan itu, dilakukan karena tamu yang mereka angkut tidak membayar saat memasuki area Morning Boy.

“Biasanya kan membayar, tapi karena aturan itu bukan dibuat pemerintah makanya kami gak mau bayar. Tanpa ada peringatan, polisi tersebut menumpang pada se­buah boat bersama dua orang anggotanya lalu mengusir kami dengan tembakan ke udara,” kata pemilik kapal.

Lebih lanjut ia mengungkap­kan oknum Polisi tersebut me­ngusir paksa kapal yang dina­khodai Steven saat akan pergi keluar dari areal laut Macaronis.

Sementara itu, Kasat Intel Polres Mentawai, Iptu Zuheldi mengatakan, tembakan ke udara yang dilakukan oleh oknum Polres Sikakap terhadap turis asing tersebut adalah bentuk upaya pengamanan oleh anggota polisi tersebut.

“Kami tidak melakukan pe­ngu­siran, namun hanya menga­mankan kapal tersebut dari amukan warga,” katanya.

Ia menjelaskan, saat itu ka­pal Huey Surf Charteri yang dinakhodai oleh Steven akan diserbu oleh warga Desa Silabu Kecamatan Pagai Utara.

“Untuk menghindari terja­dinya bentrok, makanya petugas kami turun tangan untuk menga­mankan warga dan pemiliki kapal. Tembakan tersebut tujuan­nya adalah lebih kepada mere­dakan amukan warga,” jelasnya.

Zuheldi menambahkan, pi­hak Polres Mentawai akan mela­kukan pemeriksaan terhadap petugas yang menembakkan pis­tolnya ke udara untuk mengusir WNA tersebut.

Namun, pernyataan Zuheldi langsung disanggah oleh Steven. Ia mengatakan, pada 9 Oktober lalu tidak ada warga desa yang mendekat ke kapalnya.

“Seingat saya, tidak ada warga desa Silabu yang akan menyerbu kapal saya, yang ada hanyalah tiga orang anggota polisi itu saja,” kata Steven.

Lanjut Steven, oknum polisi tersebut sengaja menembakkan pistolnya ke udara dengan mak­sud menggertak kru kapal dengan tujuan mengusir orang yang berada di atas kapal untuk me­ngambil dokumen yang berisikan peraturan Mooring oleh Maca­ronis Resort. “Setelah ia menem­bakkan pistolnya, ia marah-marah kepa­da kami dan me­maksa untuk memberikan doku­men tersebut,” terangnya.

Ilegal

Pada kesempatan yang sama, Asosiasi Kapal wisata Surfing Sumatera Barat (AKSSB) Aim Zein mengatakan, peratu­ran Mooring itu dibuat oleh Pemkab Mentawai agar tidak ada peru­sakan ekosistem laut oleh kapal yang mengangkut perselancar.

“Peraturan pembatasan areal laut itu memang ada tapi tidak ada yang sampai membayar jika kita memasuki area itu,” katanya.

Menurutnya pembatas areal tersebut juga demi keamanan perselancar saat berolahraga di laut lepas Mentawai, karena sudah banyak kapal yang ber­operasi ke Kepulauan Mentawai.

“Saat ini ada 34 dari 45 kapal surfing yang masih aktif. Areal laut ini juga menimbang ke­amanan perselancar karena ba­nyaknya kapal yang lego jangkar di seputaran ombak Mentawai,” jelasnya.

Aim mengaku pihak ke­ama­nan setempat kerap meminta uang pada pemilik kapal jika memasuki kawasan tersebut.

“Mereka kerap meminta uang sebesar Rp2-4 juta setiap sekali masuk, yang meminta itu warga dan kadang-kadang ada dari pihak kepolisian. Kami banyak menerima laporan dari pengelola kapal, dugaannya pungutan itu dilakukan oleh pihak Macaronis yang tidak ingin wilayah laut mereka dimasuki pihak lain, padahal di peraturan Pemkab sudah jelas dikatakan tidak ada pungutan apapun,” jelasnya.

Selain di Teluk Macaronis, saat ini ada 4 wilayah Mooring yang ditetapkan oleh Pemkab Mentawai, dua di antaranya di Teluk Macaronis, empat lainnya di sekitaran Pulau Karamejat, Siberut.

“Mulai tahun depan akan ada penambahan Mooring oleh Pem­kab, namun kita saat ini masih mengusahakan agar pera­turan ini dihapuskan,” tutup­nya. (h/mg-adl)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 28 Juli 2016 - 11:15:18 WIB

    Pelanggaran Izin WNA di Sumbar Meningkat

    PADANG, HALUAN — Pelanggaran yang dilakukan oleh Warga Negara Asing (WNA) terus meningkat di Sumatera Barat. Bahkan pihak imigrasi telah mendeportasi sembilan WNA, dan pemantauan terus dilakukan terutama bagi pekerja dari .
  • Senin, 04 April 2016 - 04:35:11 WIB

    21 Orang Terjaring Razia, Satu WNA

    PADANG, HALUAN — Seo­rang Warga Negara Asing (WNA) asal Republik Ceko diamankan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang di rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di kawasan Purus, Kecamatan Padang Barat pada.
  • Jumat, 29 Januari 2016 - 04:06:14 WIB
    Selama Januari 2016

    Imigrasi Padang Deportasi 21 WNA

    PADANG, HALUAN — Pada Januari 2016 ini, sudah sebanyak 21 warga negara asing (WNA) yang dideportasi oleh Kantor Imigrasi Kelas I Padang karena telah menyalahi 60 hari izin tinggal..

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]