Udara Sumbar Level Berbahaya


Selasa, 20 Oktober 2015 - 20:36:37 WIB

Kategori ISPU tidak sehat berlangsung hingga pukul 09.00 WIB, yang mana pada waktu itu konsentrasi PM10 berada di angka 350 mikrogram permeter kubik.

Kualitas udara terus memburuk dan mencapai puncaknya pada pukul 10.00 WIB. Pada waktu tersebut, ISPU telah masuk kategori berbahaya, yang mana PM10 telah mencapai 519 mikrogram permeter kubik. Level berbahaya ini juga terukur pada pukul 11.00 WIB dan pukul 12.00 WIB.

Namun pada pukul 13.00 WIB, level PM10 mulai turun dan berada di level 374 mikrogram permeter kubik dengan kategori sangat tidak sehat, dan pukul 14.00 WIB level PM10 kembali menurun menjadi 315 mikro­gram permeter kubik dengan kategori tidak sehat. Kategori tidak sehat ini bahkan terus terdata hingga pukul 17.00 WIB.

Terkait permasalahan kabut asap ini, Kepala Stasiun GAW Kototabang Edison Kurniawan mengatakan, hasil analisis pe­ningkatan kosentrasi PM10 pada Selasa kemarin yang terpantau di Stasiun GAW Kototabang di­sebabkan oleh adanya pe­ning­katan konsentrasi PM10 di wila­yah Jambi.

“Berdasarkan data yang di­himpun da­ri bmkg.go.id ko­sen­trasi PM10 di Jambi bahkan mencapai 942 mikrogram per­meter kubik pada pukul 10.00 WIB. Sangat berkolerasi dengan yang diukur di Stasiun GAW Kototabang yang mencapai 519 mikrogram permeter kubik pada jam yang sama,” jelas Edison Kurniawan.

Sijunjung Makin Parah

Kabut asap yang juga melanda wilayah Kabupaten Sijunjung semakin parah saja. Kabut asap semakin pekat dan juga berwarna menguning, bahkan jarak pan­dang di daerah tersebut hanya berkisar 200-300 meter saja.

Nurhasman (55) salah seo­rang warga Muaro Sijunjung mengatakan jika kabut asap te­bal yang disertai dengan embun membuat jarak pandang sangat terbatas terutama saat di pagi hari. “Kabut asap ini semakin hari semakin tebal dan dikala pagi hari disertai dengan embun, sehingga jarak pandang sangat terbatas dan membuat sesak napas, bahkan warna langit me­n­ja­di menguning dan menggangu konsentrasi mata “ katanya, Selasa (20/10).

Nurhasman juga menu­tur­kan, kabut asap yang sudah dua bulan ini menyelimuti kabupaten sijunjung, sudah menimbulkan effect kesehatan yang kurang baik. Seperti contohnya warga mengalami batuk-batuk, hidung perih serta gangguan kesehatan pada mata dan sesak pada per­nafasan.

Kepala BPBD Sijunjung Har­diwan SP mengatakan bahwa saat ini kabut asap memang semakin menebal di beberapa wilayah di Kabupaten Sijunjung dampak dari kebakaran lahan di Pulau Sumatera, sehingga membuat warna langit menjadi menguning, seolah-olah akan terjadi hujan.

Nurmaini (53) warga Ke­nagarian Padang Sibusuk me­nuturkan bahwa warga Ma­sya­rakat berharap hujan kembali turun secara rutin sehingga keba­karan lahan dan asap segera berakhir.

Gunakan Masker

Kepala Dinas Kesehatan (Din­kes) Sumbar Rosnini Sa­vitri, melalui Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Kabid P2PL) Irene Susilo mene­rang­kan, sebagai leading sector pe­nang­gulangan bahaya kabut asap di Sumbar, Dinkes mengimbau warga untuk tetap menggunakan masker saat be­­rada di luar ruangan.

Irene juga mengingatkan ke­pada masyarakat bahwa masker kesehatan jenis apapun hanya layak dipakai untuk sekali pe­makaian. Artinya, tidak boleh dipakai berhari-hari karena dapat menumpuk kuman yang bisa masuk ke dalam hidung pe­makainya.

Selain hanya sekali pakai, masker juga tidak bisa dicuci untuk dipakai kembali karena dapat merusak fungsi filtrasi yang ada di dalam masker tersebut. “Beberapa masker yang bukan masker kesehatan ada yang bisa dicuci, tapi fungsi filtrasinya tidak sebagus masker kesehatan,” pungkasnya

BIM Masih Normal

Meskipun udara secara kua­litas kian memburuk, kabut asap saat ini belum sampai meng­ganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Mi­nang­kabau (BIM). Berdasarkan jarak pandang, pesawat masih layak untuk terbang dan mendarat.

Service Manager Garuda In­donesia di BIM, Hermanto, ke­pada Haluan mengatakan sejauh ini tidak ada gangguan dalam penerbangan yang disebabkan oleh kualitas udara yang kian memburuk.

“Kualitas udara memang ti­dak menjadi patokan dalam ak­tifitas penerbangan. Yang men­jadi dasar mengambil kepu­tusan adalah visibility (jarak pandang). Jadi, meskipun secara kualitas udara sedang berbahaya tapi visibility menunjukkan pesawat layat untuk terbang dan men­darat, maka jadwal penerbangan ti­dak akan berubah,” kata Hermanto.(h/mg-isq/wan/ogi)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]