Korban Asap Meninggal, Sekolah Diliburkan


Kamis, 22 Oktober 2015 - 19:40:39 WIB

Anak pasangan Asma­rani (23) dengan Gusrial (29) ini diduga meninggal dunia akibat kabut asap yang pekat di lingkungan tempat tinggalnya. Dokter yang menangani korban di RSUD Lubuk Sikaping, dr.Khairunnisa mengata­kan, ada masalah di paru-paru bayi itu. Apakah dia korban kabut asap, dokter ini belum bisa menjelaskan secara detail. Namun, dari ciri-ciri ditemukan ada indi­kasi korban tewas akibat kabut asap. Salsabila tutup usia di ruang perawatan anak RSUD Lubuksi­ka­ping, Kamis (22/10) sekitar pukul 16.00 WIB.

“Begitu tiba di RSUD, badan si anak membiru. Ini mengin­dikasikan ada gejala pada paru-paru dan badannya terlihat lemas. Selain itu, denyut nadi pasien juga tergolong lemah dengan fre­kuensi denyut jantung empat puluh permenit. Kondisi bayi sudah kritis. Kita menangani bayi sekitar 10 menit, dan nyawanya tak tertolong lagi,”  terang dr Khairunnisa.

Bayi manis itu diduga me­ning­gal karena pengaruh kabut asap yang pekat di kediamannya, karena tempat tinggalnya di Rao, beberapa hari belakangan dise­limuti asap pekat. “Pagi tadi kondisi anak saya sehat-sehat saja. Namun, sebelum ia dilari­kan ke puskesmas, dia saya bawa bermain ke luar rumah,” ujar Asmarani.

Asmarini menceritakan, kor­ban mengalami gejala aneh dan kejang serta kesulitan bernafas. Melihat kondisi anaknya itu, ia dan suaminya langsung mela­rikan anaknya ke Puskesmas terdekat. Akan tetapi, setelah dibawa ke Puskesmas sekitar pukul 15.00 WIB, mereka me­nyarankan Salsabila dirujuk ke RSUD Lubuksikaping.

Terpisah, Zuraidah (63), nenek korban menduga cucunya tewas akibat asap, setelah sang ibu membawa cucu kesaya­ngan­nya itu bermain di luar rumah pagi kemarin. “Cucu saya menga­lami sesak nafas. Sebelumnya tak ada gejala sakit, tapi tiba-tiba saja dia mengalami kejang, setelah dibawa bermain oleh ibunya diluar rumah,” sebutnya.

Berbahaya

Dari hasil pengukuran Stasiun Global Atmosphere Watch (GAW) Kototabang di kawasan Palupuah Agam, kosentrasi PM10 maksimum mencapai level 509 mikrogram permeter kubik pada pukul 10.00 WIB.

“Dari pukul 06.00 WIB hing­ga pukul 14.00 WIB, ISPU yang diukur Stasian GAW Kototabang berkategori berbahaya, yang mana kosentrasi PM10 terendah berada di level 434 mikrogram permeter kubik hingga tertinggi 509 mikrogram permeter ku­bik,” ujar Albert Nahas, Staf BMKG bagian Observasi, Data dan Analisis Stasiun GAW Koto­tabang, Kamis (22/10).

Albert Nahas juga menga­takan, pada Kamis kemarin, Stasiun GAW Kototabang juga melakukan pengukuran kualitas udara di halaman Kantor Wali­kota Bukittinggi. Dari hasil pengukuran itu, kosentrasi PM10 pada pukul 11.00 WIB di Pa­dang­panjang mencapai angka yang lebih tinggi, yang berada di level 636 mikrogram permeter kubik.

“Dari hasil pantauan satelit, sebaran kabut asap yang terjadi di Sumbar ini berasal dari Suma­tera bagian selatan. Dan kalau dilihat dari jumlah titik panas di Sumatera Selatan pada tiga hing­ga empat hari terakhir, jumlah titik panasnya sangat tinggi seka­li, sehingga Sumbar mengalami dampak kabut asap yang cukup pekat, kiriman dari provinsi tetangga itu,” jelas Albert Nahas.

Pekatnya kabut asap yang melanda Sumbar sepanjang Ka­mis kemarin dilaporkan BMKG (Badan Meteorologi, Klima­tologi dan Geofisika) Ketapiang belum mengganggu pener­ba­ngan. Kasi Observasi dan Informasi BMKG Ketapiang, Budi Iman Samiaji meyebutkan jarak pandang akibat kabut asap masih mencapai 1.200 meter. Artinya, pada jarak pandang ini masih memungkinkan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) untuk tetap beroperasi.

“Normal sih tidak, tapi pe­sa­wat masih bisa mendarat. Ka­lau nanti sudah berada di bawah 700, maka aktifitas Bandara akan dihentikan,” ujar Budi

Hal senada juga disampaikan Kadin Avsec (Aviation and Se­curity) BIM, Zaini. Ia mengaku sepanjang Kamis kemarin tak ada penundaan jadwal pener­bangan karena kabut, baik yang akan take off dari BIM maupun yang landing ke BIM.

Menurut Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Dae­rah (BPBD) Sumbar Eliyusman dari rapat koordinasi yang dilaku­kan pada Kamis (22/10) kema­rin, Pemprov Sumbar belum akan menaikkan status kabut asap ke darurat kabut asap. Hal ini dise­babkan masih fluktuatifnya kon­disi kabut asap kiriman di Sumbar.

Meski kabut asap terus saja mengepung Provinsi Sumbar namun, Pemprov Sumbar be­lum akan membantu Provinsi tetangga dalam memadamkan kebakaran lahan. Hal ini dika­renakan Pemprov Sumbar tidak memiliki relawan dan peralatan yang memadai untuk ikut ambil bagian dalam pemadaman ke­bakaran lahan. “Punya rencana tentu, tapi aset kita kan terbatas. Tak ada relawan serta alat yang memadai,”terang Eliyusman.

Kepala Bidang Lingkungan Hidup Badan Lingkungan Hidup Sawahlunto, Iwan Kartiwan kepa­da Haluan, Kamis (22/10) menambahkan konsentrasi kan­dungan pencemaran udara ter­sebut jauh melebihi ambang baku mutu dan berada pada kategori berbahaya, berdasarkan kepada keputusan kepala Bapedal 107 / 1997 tentang perhitungan dan pelaporan serta informasi ISPU.

Titik Api

Dari Dharmasraya dilapor­kan, tim Polisi Kehutanan setem­pat menemukan beberapa titik api di  Kecamatan timpeh, tepat­nya di Nagari Panyubarangan. Di sini ditemukan beberapa titik api yang berasal dari perambahan dan pembakaran kebun masyarakat.

Kepala Dinas Kehutanan Dharmasraya Darisman menga­takan sampai saat ini api tersebut bisa dikatakan dapat dikenda­likan.  Adapun titik api di Dhar­masraya itu tidak membaha­yakan,”kata Darisman. (h/col/wan/dil/mg-rki/mg-bdr/mg-isr)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]