Pasien ISPA Anak-anak dan Dewasa Terus Bertambah


Jumat, 23 Oktober 2015 - 19:14:04 WIB

Ketika ditanyakan krite­ria masker  yang layak dan sesuai dengan standar ke­sehatan yang seharusnya dipakai oleh masyarakat, menurutnya masker yang sesuai dengan standar ada­lah masker N95. Namun dengan bentuk masker yang membuat pemakai tidak nyaman menggunakannya, makanya banyak masya­rakat yang tidak mau meng­gunakannya.

“Tapi kalau masker yang diapakai untuk di ruang operasi itu juga bisa, karena bisa memfilter 0,3 mikron kabut asap. Namun masker itu hanya bisa digunakan sekali pakai saja, tidak boleh lebih dari satu hari pema­kaiannya,” ulasnya.

Meskipun jumlah pasien ISPA bertambah setiap hari­nya, namun pasien yang datang tidak ada yang diru­juk sampai ke rumah sakit. Penanganan hanya sampai di puskesamas saja, dengan memberikan obat satu hing­ga dua kali pemeriksaan.

Hal yang sama juga dika­takan oleh Kepala Puske­smas Kecamatan Kuranji Dr Versiana, setiap harinya memang terjadi pening­katan pasien ISPA namun peningkatan tersebut tidak ada yang sampai ditin­dak­lanjuti ke rumah sakit atau diopname.

“Setiap harinya memang ada peningkatan pasien IS­PA, 10 hingga 20 pasien. Tapi masih sebatas pengo­batan puskesmas, yang ba­nyak itu menderita batuk, gatal, mata perih, dan as­ma,” ulasnya. Untuk mas­ker, menurutnya tidak ada masker yang be­nar-benar 100 persen dapat memfilter kabut asap, namun ada mas­ker yang paling tinggi ting­kat penyari­ngannya yakni N95.

Begitu juga dengan yang disampaikan oleh Kepala Puskesmas Ulak Karang Selatan Dr Chealsea me­nga­takan, sejak dua hari bela­kangan memang terjadi pe­ning­katan pasien ISPA. Pe­ningkatan jumlah pasien ter­se­but mulai dari 30 sam­pai 40 persen. Satu minggu sebe­lumnya, setiap hari jumlah pasien ISPA yang datang hanya kisaran 10 orang.

“Namun sudah dua hing­ga tiga hari ini jumlah pa­sien ISPA meningkat menja­di 20 hingga 25 orang setiap harinya. Pasien yang datang itu dengan berbagai kelu­han, ada yang asmanya kam­buh, batuk, dan alergi kulit,” jelasnya.

Meskipun jumlah pasien terus bertambah, namun sepengetahuannya banyak masyarakat yang langsung berobat ke rumah sakit karena sudah menderita lama dan tidak langsung dibawa ke puskesmas saat awal terjangkit ISPA.

Sementara itu, sejumlah masyarakat mengeluhkan karena lambatnya kebijakan yang diambil oleh Peme­rintah Kota Padang dan Dinas Pendidikan. Karena kabut asap sudah terjadi sejak beberapa pekan lalu, dan anak-anak yang masih dibawah umur yang daya tahan tubuhnya tidak seke­bal orang dewasa akan mu­dah terkena penyakit.

“Efek dari kabut asap ini bukan dalam jangka waktu singkat, nanti beberapa bu­lan ke depan baru akan ditang­gung oleh kita. Yang saya sayangkan adalah anak-anak saya yang masih duduk di bangku TK dan SD, me­re­ka baru diliburkan se­kolahnya,” ujar Da An (53 tahun).

Yang membuat ia resah bukan masalah terlambat diliburkan saja, tapi anak-anaknya tidak ada yang mau menggunakan masker kare­na merasa tidak nyaman. Jadi, kalau pihak sekolah meli­burkan anak-anak un­tuk sementara maka ke­mung­kinan untuk di luar ruangan akan sedikit dan berkurang.

Hal yang senada juga dikatakan oleh Meri (34 tahun) seorang ibu rumah tangga, ia sangat khawatir dengan kondisi kabut asap saat ini. “Baru hari ini anak-anak diliburkan, bukannya dari kemarin-kemarin. Saya sangat cemas dengan kesehatan keluarga saya, karena semuanya sudah kena batuk dan gatal karena kondisi udara saat ini,” ujarnya. (h/mg-rin)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]