Petani Berladang Ganja


Ahad, 25 Oktober 2015 - 19:02:48 WIB
Petani Berladang Ganja

Kepala Kepolisian Resor Agam AKBP Eko Budhi Purwono, didampingi Kasat Narkoba Iptu Dodi Apendi mengatakan tersangka merupakan pemain lama. Tersangka mengaku sudah berkecimpung dalam peredaran narkoba sejak tahun 1990-an. Sementara penanaman ganja tersebut ia mulai belum lama ini, namun, tersangka diduga sudah cukup sering mela­kukan panen. Bantang ganja yang sudah mulai tinggi kemudian dipotong untuk dipanen.

Baca Juga : Waspada! Varian Baru Mutasi Ganda B1617 dari India Telah Menyebar ke 5 Negara

Dikatakan Kapolres, panangkapan tersangka SY merupakan kali kedua Polres Agam, mengungkap kasus petani yang berladang ganja. Tersangka di Matur menanam ganja pada areal perkebunan cabai, sedangkan tersangka SY di Palembayan menanam pada ladang jagung.  Atas perbuatannya, tersangka bisa dijerat hukuman penjara di atas sepuluh tahun, karena yang bersangkutan menanam dan memiliki  serta menge­darkan barang haram tersebut.  Sebelumnya pengungkapan kasus petani berladang ganja juga terjadi Minggu (11/10) Polres Limapuluh Kota juga berhasil menemukan ladang ganja milik  warga. Ladang ganja sebanyak 2 petak yang berada di Jorong Mangganti,  Nagari Jopang Mangganti,  Kecamatan Mungka tersebut, diduga telah beroperasi semenjak 3 bulan.

Terungkapnya ladang ganja tersebut, berawal dari pengintaian petugas dari Polsek Guguak yang meliputi wilayah hukum Mungka, serta Polres Kabupaten Limapuluh Kota semenjak tiga bulan terakhir ini terhadap salah seorang tersangka. Awalnya, petugas membekuk tersangka IN (34) warga setempat ketika sedang bersantai pada Minggu (11/10) pagi. Ketika dibekuk, tersangka masih dalam pengaruh narkoba. Diduga, tersangka yang hanya buruh tani tersebut usai menghisap ganja.

Baca Juga : Polsek Pacet Rangkul Pedagang Keliling jadi Duta Masker

Dua peristiwa penangkapan petani bertanam ganja ini perlu mendapatkan perhatian khusus dari lintas instansi. Seperti pihak Polri, pemerintah daerah, tokoh masyarakat setempat, tokoh adat, tokoh agama dan lain sebagainya. Karena ternyata dapur produksi daun ganja tidak  lagi di Aceh semata, tapi juga di sekelilng kita. Dan perlu juga digarisbawahi tentang peredaran ganja yang tidak saja di kawasan perkotaan, tetapi justru merambah ke kawasan pedesaan, jorong dan nagari. Nilai dan norma ytang dulu terjaga di tengah-tengah masyarakat  sudah bergeser. Kedahsyatan perusak mental dan spritual generasi mudah jauh lebih hebat ketimbang  perjuangan dalam mengan­tisipasi, pen­cega­han dan penanganannya. Masyarakat juga perlu diberikan pandangan yang lebih optimal tentang hal-hal bisa merusak ketika seseorang mengkonsumsi pohon yang daunnya seperti jari-jari tangan tersebut. Masyarakat mesti mengetahui tentang efek buruk yang dapat ditimbul­kan oleh tumbuhan ganja. Apalagi ganja memang termasuk tumbuhan yang dilarang oleh Undang Undang RI.

Agar kejadian serupa tidak terulang kembali, maka ada baiknya Polri lebih intens memantau, menerima dan mencari informasi dari berbagai pihak tentang adanya petani yang menanam tanaman ganja di ladang atau kebunnya. Lurah, kepala desa, wali jorong, wali nagari, ulama setempat dan umumnya lembaga-lembaga yang ada di tengah-tengah masyarakat mesti peka dengan isu penggunaan, peredaran dan penjualan ganja dan zat atau benda yang tergolong narkoba lainnya. Ketika semua pihak mawas diri, tentu peluang oknum-oknum untuk melakukan hal ini bisa dipersempit atau diminamilisir. **

Baca Juga : Rusia Siap Pasok 20 Juta Dosis Vaksin Sputnik Buat Vaksinasi Mandiri

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]