Siswi SMA Sesak Nafas, Mahasiswa Unjuk Rasa


Rabu, 28 Oktober 2015 - 20:20:55 WIB

Melihat hal tersebut, ang­gota Komunitas BMW Sum­bar langsung membawa kor­ban ke Posko Tanggap Daru­rat Kabut Asap. Di tempat itu, korban diberi bantuan pernafasan dengan menggu­nakan tabung oksigen.

“Veni adalah anak seo­rang pedagang di Jam Gadang. Memang, hampir setiap hari, anak ini mem­bantu orangtuanya berjualan di Jam Gadang. Mungkin karena Ia tak tahan lagi menahan sesak nafas, maka­nya orangtua Veni mengi­zin­kan anaknya untuk kami bawa ke posko, untuk men­dapat perawatan. Kebetulan jarak dari Jam Gadang ke posko tidak terlalu jauh,” ujar Ivan Haykel, Ketua Komu­nitas BMW Sumbar.

Sementara itu, ketika di­wawan­cara wartawan, Veni me­ngaku telah mengalami sesak nafas sekitar dua minggu lalu. Ia juga mengakui, selama ini tidak pernah memiliki riwayat penya­kit sesak nafas.

“Awalnya, sesak nafas itu dialami waktu saat pergi sekolah. Memang waktu itu, kabut asap­nya sedikit tebal. Namun saat itu, saya masih bisa menahan. Tapi karena memang gak punya mas­ker, sesak nafas itu tak mau hilang sampai kini. Rasanya sangat menyesak,” ujar Veni.

Veni dan orangtuanya tidak pernah mengetahui jika di Bukit­tinggi memiliki Posko Tanggap Darurat Kabut Asap. Memang, posko itu baru efektif dan baru diresmikan Pemko Bukittinggi pada Selasa 27 Oktober 2015 lalu.

Veni juga tidak mengetahui jika pelayanan kepada korban asap dilakukan secara cuma-cuma alias gratis. Semenjak merasakan sesak nafas Veni mengaku belum pernah meme­riksakan diri ke Puskesmas atau ke Rumah Sakit, karena takut membayar mahal.

Setelah menjalani perawatan medis sekitar 10 menit, kondisi Veni mulai berangsur membaik. Namun Ia masih mengkhawatir­kan jika sesak nafas yang dialami­nya akan kambuh lagi ketika berada di rumah atau di sekolah.

Dari keterangan petugas pos­ko, Veni yang beralamat di Pintu Kabun Bukittinggi merupakan korban kabut asap pertama yang datang dan mendapat tindakan medis di posko tersebut.

Unjukrasa ke DPRD

Ratusan mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa Bukittinggi Melawan Asap berunjukrasa ke halaman DPRD Bukittinggi, Rabu (28/10). Unjukrasa ini dilakukan, terkait permasalahan kabut asap yang telah banyak menelan korban.

Para mahasiswa menggotong replika keranda mayat, serta replika jenazah bayi yang menjadi korban asap. Para mahasiswa juga memboyong sejumlah poster  bergambar foto bayi dan anak-anak yang menjadi korban kabut asap, agar pemerintah dan selu­ruh elemen masyarakat tergugah atas dampak kabut asap.

Mahasiswa menilai, kabut asap yang terjadi saat ini bukanlah suatu bencana, melainkan dam­pak keserakahan dari sekelom­pok orang.  Oleh karena itu, pemerintah dituntut untuk me­nin­dak tegas otak dan pelaku pembakaran hutan dan lahan.

Fadli selaku Koordinator Umum mengatakan, ada tujuh poin yang menjadi tuntutan para ma­hasiswa, diantaranya mende­sak Pemko Bukittinggi untuk menam­bah posko-posko penang­gulangan korban kabut asap di sejumlah titik strategis di Kota Bukittinggi.

Saat ini, Pemko Bukittinggi baru membangun dua posko, diantaranya di halaman Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bukit­tinggi, serta di depan Kantor Pusdalops Gulai Bancah. Dua posko ini dinilai kurang meng­akomodir kebutuhan kesehatan masyarakat, terutama yang bera­da di pusat keramaian.

Selain itu, mahasiswa juga menuntut Pemko Bukittinggi untuk memberikan penyuluhan tentang bahaya asap dan penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) kepada masyarakat secara masif dan berkelanjutan.

“Kami juga menuntut Pemko Bukittinggi melibatkan maha­siswa sebagai relawan dalam tanggap darurat kabut asap, serta menuntut Pemko Bukittinggi berperan aktif dalam pengobatan dan pelayanan kepada masya­rakat yang terjangkit ISPA di rumah sakit di Kota Bukittinggi,” ujarnya.

Tak hanya itu, Pemko Bukit­tinggi juga dituntut mendesak pemerintah pusat untuk segera menuntaskan permasalahan ka­but asap, serta mendesak pemeri­n­­tah pusat untuk menetapkan status darurat kabut asap pada daerah-daerah yang terdampak kabut asap sebagai bencana nasional.

Terakhir, mahasiswa menun­tut Pemko Bukittinggi dan DPRD Bukittinggi untuk segera mendesak pemerintah pusat  merevisi ulang regulasi-regulasi terkait pembukaan lahan perke­bunan. (h/wan)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]