Tahanan Polres Solok Tewas Dapat Perhatian Komnas HAM


Selasa, 03 November 2015 - 20:54:46 WIB
Tahanan Polres Solok Tewas Dapat Perhatian Komnas HAM

PBHI Sumbar dalam siaran persnya, Selasa (3/11) mendesak Kopolres Solok, Solok bertanggung jawab atas kematian Harmein karena masih dalam penguasaan kepolisian Solok. Selain itu PBHI juga meminta Komnas HAM, Bid Propam, dan Itwasda Polda Sumbar membentuk tim investigasi Independen dan mengambil tindakan sesuai fungsi dan wewenang masing-masing dalam persitiwa ini.

Baca Juga : Hendri Septa Lepas 30 Pejabat Eselon III Pemko Padang Ikuti Pelatihan Kepemimpinan Administrator

PBHI Sumbar juga mendesak kepolisian agar mempercepat kasus tersebut, dan menonaktifkan sementara anggota Polres Solok yang diduga terlibat selama penangkapan Harmein.

Dari kronologis yang disam­paikan PBHI Sumbar, kecuri­gaan mulai dirasakan ketika Sabtu pagi (17/10), Maryani (43) istri korban tidak diperbolehkan bertemu dengan suaminya, pada­hal kedatangannya untuk melihat kondisi dan mengantarkan pa­kaian untuk korban.

Baca Juga : PLTU Teluk Sirih Disiapkan Pemko Padang untuk Ketersediaan Energi Listrik Bagi Investor

Petugas saat itu mengatakan kepada Maryani, bahwa suami­nya dalam kondisi sehat setelah diperiksa ke RSUD Solok, dan ia disuruh kembali seminggu lagi. Pada Selasa (20/10) pagi, Mar­yani menjenguk suaminya di RS Bha­yangkara, Padang dalam kondisi kritis, tidak sadarkan diri, tanpa pakaian, hidung berdarah, dengan tangan kanan terborgol, seluruh tubuh penuh luka, pelipis mata kanan robek, dan tangan kiri patah.

Maryani pun  menanyakan kepada perawat bahwa suaminya sejak Sabtu malam berada di RS Bhayangkara, dalam kondisi kritis, tidak mau makan dan minum. Lalu ia menanyakan kepada petugas tentang kondisi suaminya tersebut, namun petu­gas hanya menjawab dia hanya menjalankan tugas dan perintah atasan.  Kapolda Sumbar, Brigjen Pol. Sri Bambang Hermanto saat dijumpai wartawan di Wisma Kemala, Jalan Sudirman, Pa­dang, Selasa (03/11) menyatakan, tindakan anggotanya sudah sesuai prosedur.

Baca Juga : Jadwal Shalat untuk Kota Padang dan Sekitarnya Minggu 28 Februari 2021

“Prosedurnya sudah benar, karena melalui laporan polisi, keterangan saksi-saksi, kemudian penyelidikan,” ungkapnya.

Bambang menyampaikan, pada saat ditangkap Harmein mengendarai motor, lalu petugas berusaha memegangi motor, dan menangkapnya. Namun, Har­mein mencoba melarikan diri ke sebelah kandang itik lalu melom­pat ke jurang berkedalaman 10 meter.

Baca Juga : Mahyeldi Naik Jadi Gubernur Sumbar, Siapa Pengganti Wali Kota Padang?

Lebih lanjut jendral bintang satu tersebut mengatakan ada dua saksi yang melihat peristiwa itu, yaitu Afrizal alias Jon Gajah dan pemilik kandang itik.

“Inilah faktanya, tidak ada yang ditutupi,” tegasnya.

Ia juga menyatakan, bahwa saat pencarian Harmein juga disaksikan oleh ratusan masya­rakat. Dan petugas yang mencari korban pun ikut berenang karena lokasi tersebut merupakan aliran sungai. Saat ditemukan Harmein dalam konsisi lemah, lalu petugas membawanya ke rumah sakit.

Tentang Berita Acara Peme­riksaan (BAP) yang telah dibuat oleh anggota Polres Solok, Solok, Bambang menjelaskan, setelah ditangkap Harmein diba­wa ke rumah sakit dalam kondisi lemah, lalu petugas membawanya ke kan­tor untuk dilakukan BAP, namun kondisi korban terus melemah dan dibawa ke RS Bhayangkara.

Dalam BAP diwajibkan ter­tu­lis apakah saudara (tersangka/saksi) dalam kondisi sehat. Hal tersebut sudah  menjadi prosedur tetap kepolisian dalam tahap pemeriksaan.

Kematian Harmein (50), juga menjadi perhatian Komisi Na­sional Hak Asasi Manusia (Kom­nas HAM). Hasil dari otopsi jenazah akan menjadi penyeli­dikannya lebih lanjut. “Untuk kasus di Solok ini kami akan menunggu hasil dari otopsinya. Kami juga terus me­mantau bebe­rapa kasus lainnya seperti Dhar­masraya dan Pesisir Selatan,” papar Komisioner Kom­­nas HAM Maneger Nasution.(h/rvo)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]