Dicari: Gubernur Pro-Pendidikan


Kamis, 12 November 2015 - 19:36:09 WIB
Dicari: Gubernur Pro-Pendidikan

Terlebih, pendidikan me­rupakan salah satu varia­bel­ terpenting dalam me­nin­g­­katkan kualitas pemba­ngu­nan. Meski dampak pem­­­­bangunan di bidang pen­­didikan tidak bisa dira­sa­kan secara instan, melain­kan melalui sistem dan pro­ses yang membutuhkan wak­­­­tu lama, namun kita se­mua tentu sepakat, betapa ke­majuan pendidikan meru­pa­kan investasi berharga da­lam mensinergikan pem­ba­ngu­nan berkelanjutan. Lo­gi­ka­nya cukup jelas: pe­nge­lo­la­an pendidikan yang mum­puni akan melahirkan SDM yang berkualitas. SDM yang bisa diandalkan itulah yang akan menjadi aktor seluruh program pem­bangunan.

Baca Juga : Cegah Warga Nekat Mudik, Polri Gelar Operasi Sebelum 6 Mei

Quo Vadis Industri Otak

Membaca sejarah, pada era Gubernur Harun Zain di awal 1970-an dica­nang­kan program ‘Industri Otak’ di Sumatera Barat. Waktu itu, Sumatera Barat giat memfokuskan peningkatan kualitas pendidikan. Guru-guru disekolahkan, sekolah-sekolah unggul diberi insen­tif, sarana-prasarana gencar dibangun. Universitas An­da­las dan IKIP Padang (ci­kal bakal Universitas Ne­geri Padang) didorong un­tuk membuka berbagai ju­ru­san, dikembangkan sede­mikian rupa sesuai kapa­sitas masing-masing. Pe­ning­katan kualifikasi pe­nga­jarnya juga di­opti­mal­kan (padahal di waktu itu belum ada beasiswa Dikti seperti sekarang).

Baca Juga : Inilah Jam Kerja ASN pada Bulan Ramadan 1442 Hijriah

Tak ayal, Universitas An­dalas waktu itu dicap se­bagai Universitas terbaik di luar Jawa. Mahasiswanya ti­dak saja berasal dari seki­ta­ran Sumatera Barat, me­lain­­kan datang dari berba­gai penjuru, terutama Su­ma­­­tera bagian tengah. Seba­lik­­nya, guru dan dosen dari Sum­­bar bahkan ada yang ‘di­­ekspor’ ke luar negeri, te­ru­tama Malaysia. Mereka di­­kontrak untuk mengajar di­ sana, tentunya dengan re­ward yang cukup mewah. Ka­­lau bukan mereka (baca: ma­­hasiswa Malaysia) yang da­­tang ke Padang untuk ku­liah, para dosen atau gu­ru da­ri Sumbarlah yang ke­mu­dian menjejakkan ka­ki ke Malaysia untuk me­nga­­jar.

Program itu ternyata mampu membangkitkan harga diri kita setelah sebe­lumnya pada kurun akhir 1950-an hingga 1960-an kita dijangkiti sindrom ren­dah diri akibat merasa ‘di­kalahkan’ saat konflik po­litik dan perang PRRI-Pemerintah pusat. Meski se­ca­ra politis masih terping­girkan, namun orang-orang dari Sumbar tetap saja silih berganti menjadi orang berpengaruh di panggung nasional, apa pun bidang­nya. Mereka mengisi posisi birokrat, teknokrat, militer, politikus, intelektual, pakar pendidikan, ulama, ahli sosial-budaya, seniman-budayawan, diplomat, serta konglomerat.

Baca Juga : Gawat! Ada 22.000 Senjata Api Dimiliki Warga Sipil di Daerah Ini

Walau tidak dinyatakan se­­cara formal dalam renstra pem­­bangunan Sumbar, pro­­­­­gram Industri Otak ma­sih­­­ dirasakan jejaknya hing­ga­ era Hasan Basri Durin. Se­lepasnya, program itu ter­himpit oleh hiruk-pikuk kon­testasi politik. Para po­li­tikus lebih sibuk memi­kir­kan upaya melang­geng­kan dan mendistribusikan ke­kuasaan ketimbang se­rius ‘mambangkik batang ta­randam’. Di berbagai sum­ber data dan media pun ki­ta simak melorotnya ranking pendidikan Sum­bar. Salah satu indikatornya, ranking Ujian Nasional dan SNMPTN perbidang mata ujian yang tidak pernah menyentuh lima besar sejak 15 tahun terakhir.

Prospek Pendidikan Sumbar

Baca Juga : Launching Polri TV dan Radio, Jenderal Listyo Sigit: Untuk Mengedukasi Masyarakat

Budaya egaliter, de­mo­kratis dan tingkat literasi yang tinggi telah lama di­anggap sebagai modal dasar se­kaligus jawaban atas per­ta­nyaan; kenapa Sumber Da­ya Manusia di Sumbar me­ru­­pakan potensi yang tiada habis-habisnya. Ini di­tam­­bah lagi dengan kha­sanah filosofi Minangkabau yang menempatkan kaum cadiak pandai (baca: inte­lek­tual dan terdidik) sebagai ke­lom­pok masyarakat yang menempati strata istimewa dan strategis dalam ke­hidupan bermasyarakat. Orang yang kaya ilmu di minangkabau selalu lebih dihormati dan menjadi tem­pat bertanya dari sekadar orang yang kaya harta.

Potensi soft power itu, merupakan tambang emas abadi yang mestinya terus kita gali dan kembangkan. Zaman berubah, otori­taria­nisme meluntur, mestinya Sumbar mampu berbicara lebih banyak dan kembali menjadi trend-setter di anta­ra provinsi-provinsi senu­san­tara. Itu semua bisa di­raih lagi jika kita punya stok SDM yang bervisi inter­nasional, berkarakter lokal (sejalan dengan konsep think globally, act locally). Apalagi, dimotori oleh spirit merantau, orang minang dari dulu sudah memegang teguh filosofi kosmopo­lita­nis­me lewat filosofi di ma bumi dipijak, di situ langik dijunjuang’.

Langkah konkrit yang per­lu ditempuh sejatinya sangat tepat dirancang dari sekarang, mengingat seben­tar lagi kita akan  dipimpin oleh Gubernur (periode) baru. Gubernur Sumbar era 2016-2021 hendaklah yang mempunyai visi dan misi yang berpihak pada sektor pendidikan, tanpa harus menganaktirikan sektor stra­­­te­gis lainnya. Ia hen­dak­lah sadar bahwa dari dulu ‘harta karun’ Sumbar adalah SDM, bukan produk tam­bang, pertanian, kehutanan, pertambangan, atau perke­bunan, karena kodrat alam kita memang tidak seperti provinsi tetangga yang kaya dengan Sumber Daya Alam.

Jika kita mau meninjau fakta kuantitas Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), maka berdasarkan data yang didapat dari portal Kemristek Dikti, Kopertis wilayah X (meliputi Sum­bar, Riau, Jambi, dan Ke­pri), dan Departemen Aga­ma, terdapat lebih dari 120 PTN dan PTS di Sumatera Barat. Jika pada 2013 saja terdapat kurang lebih 90 ribu mahasiswa, maka kuat dugaan jumlahnya tahun 2015 ini mencapai lebih dari 100 ribu orang. Disi­nyalir hampir 30 % di anta­ranya merupakan maha­siswa dari luar Sumbar. Sekitar 80% persen dari yang 30% domisili utama­nya berasal dari sekitaran Sumatra bagian tengah (Riau, Jambi, Sumsel, Su­mut  bagian selatan, Kepu­lau­an Riau).

Ini merupakan potensi yang luar biasa jika Guber­nur Sumbar di periode beri­kut­nya jeli memanfaatkan pe­luang. Kenapa kita tidak me­niru hal-hal positif dari dua provinsi yang terkenal de­ngan kekuatannya di sek­tor­ pendidikan, yaitu Jawa Ba­rat dan D.I.Yogyakarta. Di­ Bandung dan Yog­ya­karta, se­ba­gai contoh, sa­ngat tera­sa­ Pemprov dan Pemkonya men­dukung pe­ngembangan sek­tor pen­didikan sebagai sek­tor ung­gulan. Di kedua ko­ta itu, perekonomiannya tum­buh dan bergerak teru­ta­ma di­se­babkan oleh krea­ti­vitas dan inovasi pemim­pin lo­kal dalam menarik in­ves­tor di bidang pen­didi­kan. Di kita, selama ini pro­mo­si tentang ke­ung­gu­lan sek­tor pendidikan di Sum­bar ­ma­­­­sih jauh dari optimal. Di lain pihak, da­lam hal prio­ritas program pemba­ngu­­nan, setahun ter­akhir ma­­lah sempat kita bac­a be­ta­pa Gubernur Sum­bar me­nem­patkan sektor lain (ba­ca: Pertanian) seba­gai prio­ri­tas utama (sumber bisa di­lacak di harian­ha­luan.­com). Pa­dahal, sebagai sampel, Uni­versitas Anda­las adalah Uni­veritas nomor dua ter­baik di luar Jawa saat ini. Tentunya lembaga pen­di­di­kan seperti PTN dan PTS di­t­untut pula kontri­businya dalam promosi dan pe­ning­katan kualitas pen­di­dik­an juga, sehingga dapat bersi­nergi dengan Pemprov.

Demikian pula Uni­ver­si­tas Negeri Padang, yang da­lam hal mutu selalu ber­saing da­lam empat besar Univ­er­sitas eks IKIP ting­kat nasio­nal bersama-sama de­ngan Uni­versitas Negeri Ma­­lang, Uni­versitas Pen­di­di­kan In­do­nesia-Ban­dung, dan Uni­versitas Ne­ge­ri Ja­karta. Un­tuk jurusan-ju­ru­san tertentu di level ma­gis­ter dan dok­toral ke­dua Uni­ver­sitas ter­se­but bah­kan ma­suk dalam kate­go­ri terbaik se­nasional. Pa­radigma usang, yaitu me­ngi­rim calon ma­hasiswa ter­baik ke luar Sumbar, mes­ti dibalik de­ngan me­ngop­­timalkan agar calon-ca­lon mahasiswa ter­baik na­sional mau kuliah di Sum­bar.

Ke depan, kita sangat ber­harap Gubernur Sumbar ma­m­­pu menjawab tan­ta­ngan zaman yang semakin me­­men­tingkan kualitas ma­nu­sia ketimbang kekayaan alam. Jepang dan Jerman, ada­lah dua contoh negara yang SDA-nya minim, na­mun kini menguasai dunia ka­rena keunggulan SDM-nya. Untuk apa Sumbar ka­ya-raya dengan alam dan uang, jika manusianya mem­ble, sulit bersaing di kancah na­sional dan internasional. Apa­lagi, 2016 di depan ma­ta, persaingan seAsia Pa­si­fik menanti. Itu tanda­nya ki­ta harus bersiap-siap sebe­lum menyesal dan ter­lam­bat dalam meman­faat­kan po­tensi generasi pene­rus Sum­bar. ***

 

MOHAMMAD ISA GAUTAMA
(Pengajar Ilmu Komunikasi (FIS) Universitas Negeri Padang)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]