Perguruan Tinggi Sumbar dan Kesiapan Menghadapi MEA


Jumat, 13 November 2015 - 19:28:26 WIB
Perguruan Tinggi Sumbar dan Kesiapan Menghadapi MEA

Melalui MEA, tujuan yang ingin dicapai adalah aliran bebas barang, jasa, dan tenaga kerja terlatih (skilled labour), serta aliran investasi yang lebih  bebas. Dalam penerapannya MEA akan menerapkan 12 sektor prioritas, yaitu sektor perikanan, e-travel, e-ASEAN, otomotif, logistik, industri berbasis kayu, industri berbasis karet, furnitur, makanan dan minuman, tekstil serta kesehatan.

Baca Juga : Aa Umbara Tersangka, Hengky Kurniawan Ditunjuk Jadi Plt Bupati

Bagi Indonesia, MEA 2015 akan memberikan  sejumlah peluang dan sekaligus tantangan yang tak hanya bersifat internal dalam negeri, tapi juga terlebih lagi persaingan dengan sesama negara ASEAN dan negara lain di luar ASEAN seperti Cina dan India. Persaingan yang ketat ini akan berdampak pada harga yang kompetitif pula, bukan hanya komoditi, produk, jasa unggulan industri besar, tetapi juga sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).  Karena kesamaan karakteristik produk. Menyadari UMKM sebagai kelompok usaha yang memiliki jumlah paling besar dan cukup dominan dalam perekonomian, maka pencapaian kesuksesan MEA 2015 mendatang juga akan dipengaruhi oleh kesiapan UMKM.

Lebih menukik lagi, bagaimana pula kesiapan Sumbar menghadapi MEA 2015? Selain kepada pemerintah, dunia usaha dan masyarakat, pertanyaan kesiapan ini juga tepat dialamatkan kepada perguruan tinggi. Tentunya sekitar 10.000 sarjana yang dicetak perguruan tinggi negeri dan swasta di Sumbar setiap tahun, mesti siap bersaing menghadapi MEA 2015. Tidak hanya sekadar siap-siap di bibir saja.

Baca Juga : Cegah Warga Nekat Mudik, Polri Gelar Operasi Sebelum 6 Mei

Tentu saja sarjana yang dicetak Unand, UNP, UBH, UPI dan puluhan kampus lainnya itu masing-masing mesti memiliki keahlian yang dibuktikan dengan sertifikat yang dipegangnya. Dengan keahlian tersebut dia mampu bersaing dengan tenaga kerja-tenaga kerja dari Negara-negara ASEAN lainnya yang akan masuk ke Indonesia. Perguruan tinggi tentu tidak hanya mencetak sarjana-sarjana yang hanya menunggu dibukanya lamaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Jika hanya itu, tentu sangat repot, karena hingga lima tahun ke depan (2014-2019) pemerintah akan menerapkan moratorium penerimaan CPNS.

Beberapa waktu lalu Rektor Universitas Andalas Profesor Werry Darta Taifur mengatakan, daya saing tenaga kerja Sumbar dalam menghadapi MEA 2015 masih lemah. Jika melihat dalam angka, berdasarkan penelitian National University of Singapore (NUS) di tahun 2013, ranking Sumbar berada pada angka 17 dibanding 34 provinsi lain di Indonesia.

Baca Juga : Inilah Jam Kerja ASN pada Bulan Ramadan 1442 Hijriah

Sedangkan, Wakil Rektor I UNP Agus Irianto juga mengatakan, UNP sudah mulai meyakinkan mahasiswa tentang pentingnya mempersiapkan diri menghadapai MEA 2015. Salah satu program yang akan dilakukan adalah menyediakan surat keterangan pendamping ijazah bagi wisudawan. Surat tersebut berisi prestasi mahasiswa di luar pembelajaran, baik itu menjadi pemenang dalam olimpiade, mengikuti kegiatan kewirausahaan dan lainnya. Sertifikat itu tentu penting, tapi yang lebih penting lagi adalah skill yang dimiliki para sarjana itu mesti sesuai dengan sertifikat-sertifikat yang dikeluarkan oleh perguruan tinggi. Perguruan tinggi di Sumbar haruslah berada pada garis terdepan dalam menyiapkan tenaga-tenaga kerja berkualitas guna menyongsong MEA 2015. **

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]