Rupiah Masih Terancam


Ahad, 15 November 2015 - 19:34:11 WIB
Rupiah Masih Terancam

Terhadap mata uang yen, misalnya,  nilai tukar dollar melemah 0,2% ke level  122,95 yen. Sedangkan ver­sus euro, dollar melemah 0,3% menjadi $ 1,0753 per euro. Sejumlah mata uang dunia lain juga mencatatkan penguatan terhadap dollar AS. Sebut saja misalnya mata uang aussie yang me­nguat 0,4% menjadi 70,57 sen US dan poundsterling yang juga menguat 0,3% menjadi $ 1,5165.

Baca Juga : Cegah Warga Nekat Mudik, Polri Gelar Operasi Sebelum 6 Mei

Namun apa yang terjadi pada hari Jumat (13/11), Kurs tengah Bank Indonesia terseret ke level  Rp13.633 per dolar AS pada sesi pagi karena tekanan regional dimana gerakan mayoritas mata uang Asia juga menga­lami pelemahan, dipimpin oleh depresiasi won. Se­men­tara itu, Bank Indonesia juga menetapkan kurs tengah di level Rp13.575 per dolar AS, melemah 58 poin atau terdepresiasi 0,43% dari kurs yang ditetapkan sehari sebelumnya. Dengan rin­cian, kurs jual dipatok di Rp13.701 per dolar AS, sedangkan kurs beli berada di Rp13.565 per dolar AS. Selisih antara kurs jual dan kurs beli adalah sebesar Rp136.

Berdasarkan psikologi pa­sar yang berkembang, pele­mahan dollar yang cu­kup signifikan hari awal pecan lalu disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking) para investor atas gerakan penguatan dollar yang tajam  beberapa waktu sebelumnya. Sepanjang bu­lan ini saja, dollar AS sudah menguat 1% terhadap 10 mata uang utama dunia. Selain itu, pada hari terse­but, investor juga menunggu dirilisnya data ekonomi Tiongkok. Data ini cukup penting karena  akan mem­­berikan petunjuk dan in­dikasi lebih lanjut me­nge­nai posisi ekonomi Tiong­kok ke depan.

Baca Juga : Inilah Jam Kerja ASN pada Bulan Ramadan 1442 Hijriah

Sementara itu, dari sisi non dolar, pernyataan peja­bat tinggi Bank of Japan (BoJ) menjadi penopang penguatan mata uang glo­bal. Anggota Dewan Bank Sentral Jepang, Yutaka Ha­ra­da, mengatakan pada hari rabu (11/11) bahwa per­tum­buhan ekonomi Jepang akan melanjutkan proses pemulihan dengan kece­patan yang “moderate”.

Sedangkan untuk per­tum­buhan inflasi konsu­men Jepang sendiri, BOJ mem­perkirakan akan me­nga­lami kenaikan yang men­dekati 2% di bulan Maret 2016 mendatang. Namun de­mi­kian, pelong­garan kebijakan bisa saja dilakukan jika risi­ko yang mengancam kenai­kan har­ga semakin meluas di Je­pang.

Baca Juga : Gawat! Ada 22.000 Senjata Api Dimiliki Warga Sipil di Daerah Ini

Disisi yang lain, pelema­han dolar ternyata belum mampu memperbaiki kon­disi harga minyak mentah dunia. Pada hari yang sama, Rabu (11/11), harga mi­nyak dunia masih tertekan di bawah level $ 44. Berda­sarkan data Bloomberg, harga kontrak minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember turun 66 sen menjadi $ 43,76 per barel di New York Mercantile Exchange sesi siang waktu Hong Kong. Sehari sebe­lumnya, Selasa (10/11), harga kontrak minyak WTI naik 34 sen menjadi $ 44,21 per barel. Ini merupakan kenaikan pertama dalam lima hari sebelumnya.

Namun  setelah jatuh lebih dari satu $1, harga patokan minyak mentah AS,light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desem­ber, justru semakin terkupas dan turun $1,18 atau 2,7%, untuk kemudian diper­da­gang­kan di level $41,75 per ba­rel di New York Mer­cantile Exchange pada sesi perdagangan pagi hari Ju­mat (13/11), titik terendah baru sejak akhir Agustus 2015. Dan minyak mentah Brent North Sea untuk pe­ngi­riman Desember, pato­kan global untuk minyak, diperdagangkan di level $44,06 per barel di perda­gangan London alias  turun $1,75 (3,8%) dari tingkat penutupan hari Rabu.

Baca Juga : Launching Polri TV dan Radio, Jenderal Listyo Sigit: Untuk Mengedukasi Masyarakat

Pergerakan harga mi­nyak masih sangat dipe­ngaruhi oleh data cadangan minyak AS yang masih me­lim­pah ruah. Berdasarkan data mutakhir dari Ame­rican Petroleum Institute (API), cadangan minyak AS naik sebesar 6,3 juta barel pada pekan lalu. Sedangkan Energi Information Admi­nistration (EIA)  merilis data suplai minyak dengan  kenaikan sebesar 4,2 juta barel, jauh diatas prediksi para analis 1,3 juta barel.

Sehingga akhirnya mi­nyak benar-benar tak mam­pu mengimbangi pelemahan dolar hari Rabu (11/11) karena harga tersandera oleh pasokan yang kian melimpah ditengah ke­kha­watiran atas perlambatan permintaan global, terutama akibat bersikerasnya OPEC untuk mempertahankan kuo­­ta produksi dan semakin memburuknya per­kem­ba­ngan ekonomi Tiongkok belakangan ini.

Selain faktor ancaman melandainya harga komo­ditas global akibat terseok-seoknya harga minyak du­nia, membaiknya data tena­ga kerja Amerika yang di­rilis minggu lalu benar-benar akan menjadi ujian bagi Rupiah menjelang da­tangnya bulan Desember. Tingkat pengangguran yang sudah bertengger di level 5% adalah titik awal Ame­rika untuk menuju era ting­gal landas dan menuju kon­disi full employment. Se­men­tara data inflasi yang dirilis dua minggu lalu juga sudah benar-benar menem­pel pada  angka incaran the Fed, yakni 1,9% alias men­dekati 2%.

Walhasil, gembar-gem­bor rencana kebijakan ke­nai­­kan suku bunga kredit AS terus dihembuskan. Opti­misme bukan saja ter­lontar dari para petinggi The Fed yang masuk ke dalam komite pengambil kebijakan, tapi juga oleh para ekonom dan pelaku pasar. Mereka me­wan­ti-wanti ancaman eko­no­mi domestik Amerika yang akan menga­la­mi over­hea­ting, jika suku bunga ti­dak juga dinaikan, teru­ta­ma overheating untuk sek­­tor property atau peru­ma­han.

Meningkatnya ekspek­tasi kenaikan suku bunga The Fed akhirnya ikut me­re­dakan ekspektasi dalam negeri Indonesia yang ber­harap Bank Indonesia se­gera memangkas suku bunga pinjaman, agar ekeonomi riil bisa mendapat oli tam­bahan untuk bergeliat. Wa­lau­pun disisi lain, belum ada alasan yang kuat juga bagi BI untuk menaikan suku bunga seiring gonjang-ganjing kenaikan The Fed’s Rate.

Jadi penguatan semen­tara mata uang rupiah lebih disebabkan oleh sentiment teknikal yang juga bersifat sementara di pasar. Karena jika dilihat dari persepktif yang lebih luas, rupiah justru sedang berada di­bawah ba­yang-bayang yang meng­kha­watirkan, yakni kenai­kan suku bunga The Fed, per­lambatan ekonomi Ti­ong­­kok yang kian jelas, dan ter­tekannya harga ko­mo­di­tas ekspor andalan Indo­ne­sia.

Ketiga bayang-bayang gelap ini akan berjalin ke­lin­dan satu sama lain. Kebi­jakan pengetatan moneter Amerika akan menambah otot dolar terhadap semua mata uang rivalnya dan menekan harga minyak du­nia yang memang telah ter­seok-seok, kemudian akan semakin mengganggu pere­ko­nomian Tiongkok dan Indonesia akibat membe­sarnya bayang-bayang capi­tal outflow.

Disisi lain, harga minyak yang kian melantai akan menekan harga komoditas ekspor andalan Indonesia dan serta-,merta akan me­mang­kas pemasukan negara dari sisi pajak komoditas non migas. Dan perlam­batan ekonomi Tiongkok, mau tak mau, akan mengan­cam stabilitas neraca perda­gangan Indonesia-Tiongkok karena memburuknya pros­pek permintaan atas komo­ditas non migas. Pasalnya, Tiongkok adalah negara mitra dagang kedua terbesar Indonesia untuk komoditas non migas, setelah Amerika. ***

 

RONNY P SASMITA
(Analist Ekonomi Global di Financeroll Indonesia)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]