Jam Gadang Bukittinggi Terancam Runtuh


Senin, 16 November 2015 - 19:41:35 WIB
Jam Gadang Bukittinggi Terancam Runtuh

Zul Ifkar Rahim menjelaskan, potensi runtuhnya kawasan Pasar Atas itu didasari minimnya resapan air di kawasan Pasar Atas, sehingga perekat tanah di kawasan itu menjadi hilang dan akan mengalami kekeringan, meski diguyur hujan lebat, serta lebih gampang rengkah dan terbelah jika terjadi gempa.

Baca Juga : Dengarkan Aspirasi Masyarakat Kudu Gantiang Barat Padang Pariaman, Leonardy Harmainy: Ancaman Hama Harus Dicarikan Jalan Keluarnya

“Seperti kita ketahui, Kota Bukittinggi merupakan salah satu daerah yang berada di zona merah gempabumi, karena berada di atas Segmen Sianok yang merupakan jalur patahan aktif, yang bisa mengeluarkan energinya kapan saja. Oleh karena itu, pembangunan di Bukit­tinggi harus ramah lingkungan dan berbasis mitigasi bencana,” ujar Zul Ifkar Rahim.

Ia memperkirakan, saat ini kawasan Pasar Atas hanya memiliki lima hingga 10 persen resapan air, karena dari Jam Gadang, Pasar Wisata hingga ke Pasar Lereng, semuanya telah diaspal dan dibeton, sehingga tidak ada lagi titik resapan air di kawasan tersebut.

Baca Juga : Pekan Pertama Jadi Bupati Pasaman, Benny Utama Kebut Pembangunan 

Kondisi ini diperparah dengan banyaknya warga dan pihak swasta yang menggali sumur di kawasan Pasar Atas, akibat banyaknya warga yang kecewa atas pelayanan PDAM yang dinilai kurang mengakomodir kebutuhan warga. Oleh karena itu, membangun taman hijau dinilai sangat mutlak dilakukan.

“Jika hujan lebat, lihatlah ke Janjang 40. Itu airnya meluncur deras ke bawah seperti air bah. Ini diakibatkan tidak adanya resapan air. Jika ada resapan, sebagian airnya tertahan dan meresap, baru sisanya akan mengalir. Setiap detik, warga di kawasan ini terancam bahaya. Tapi, itu tak pernah terpikir oleh pemerintah,” jelasnya.

Baca Juga : Akhir Pekan Hujan Diprediksi Guyur Sejumlah Objek Wisata Sumbar 

Ia memberikan solusi kepada pemerintah, agar mampu membongkar sebagian aspal dan beton di kawasan Pasar Atas dan membangun spot taman hijau, agar bisa menjadi pen­yeim­bang. Menurutnya, Jalan Minangkabau bisa dijadikan spot taman hijau dan harus steril dari kendaraan bermotor.

“Untuk membangun, harus mengacu pada filosofi. Misalnya, apa tujuan Pemerintah Belanda membangun banyak tangga di kawasan Pasar Atas. Itukan fungsinya agar tidak ada kendaraan di Pasar Atas dan kawasan Pasar Atas, memang harus dijadikan taman hijau. Banyaknya kendaraan di Pasar Atas, juga akan mempengaruhi daya dukung tanah, yang sema­kin lama akan semakin menurun,” ucap Zul Ifkar.

Baca Juga : Waspadalah! Gelombang Tinggi hingga 5 Meter Berpotensi Terjadi di Perairan Sumbar

Zul Ifkar menilai, pengabaian mitigasi bencana dalam pembangunan di Kota Bukit­tinggi, merupakan bentuk degradasi nilai-nilai luhur Minangkabau. Menurut Zul Ifkar, pemerintah terlalu bangga dengan masa lalu dengan banyaknya peninggalan-peninggalan bersejarah, sementara filosofi sejarah itu sendiri kurang dipahami dengan baik. (h/wan)

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]