Menteri ESDM Lapor ke MKD


Senin, 16 November 2015 - 19:53:10 WIB

Tak hanya anggota DPR, ada juga pengusaha minyak yang ikut menemani. Dise­but-sebut pengusaha itu ada kaitan dengan mafia migas. “Ada beberapa orang dalam percakapan tersebut ter­masuk salah seorang pengu­saha yang cukup terke­nal di Indonesia,” jelas Junimart.

Menurut Junimart, Su­dir­man menyerahkan tiga halaman transkrip rekaman. Isinya tentang diskusi tiga orang, yakni petinggi Free­port, anggota DPR dan pe­ngu­saha tadi. Namun dia masih menutup rapat-rapat nama mereka.

“Bukti tadi diserahkan transkrip percakapan dan saya minta diberikan juga bukti rekaman yang konkret orisinil, biar kami lakukan telaah hasil rekaman terse­but. Beliau akan serahkan bukti rekaman itu,” ucap Junimart.

Junimart memaparkan, ada dua hal yang dilaporkan Sudirman ke MKD. Per­tama, perbuatan mencatut nama Presiden dan Wapres untuk menjanjikan ke­lan­jutan kontrak PT Free­port dengan meminta saham 20 persen yang disebut untuk RI-1 dan RI-2.

Kedua, meminta PT Free­­port investasi di proyek pembangunan PLTA di Uru­­muka, Papua, dengan meminta saham yang dise­but Sudirman sebesar 49 persen. Kedua hal itu tere­kam dan transkripnya sudah diserahkan ke MKD.

“Beliau siap dipanggil MKD dan beliau sebut be­be­­rapa orang dalam per­ca­kapan tersebut, termasuk sa­lah seorang pengusaha yang cukup terkenal di Indo­ne­sia,” ujar politikus PDIP itu.

Siapa pengusaha terse­but? Dipastikan dia adalah pengusaha migas yang ber­ke­pentingan dengan Free­port. Namanya juga cukup ter­kenal, seperti yang dika­ta­kan Junimart. Belaka­ngan, dia pernah disebut-sebut sebagai mafia migas.

Sudirman bercerita, pe­ngu­saha dan anggota DPR tersebut tiga kali meminta bertemu dengan petinggi Freeport.  Dari pertemuan pertama dan kedua, pim­pinan PT Freeport menilai arah pembicaraan menga­rah pada keinginan anggota DPR meminta saham kepa­da Freeport yang dikaitkan dengan janji memper­pan­jang kontrak PT Freeport yang berakhir 2021.

Maka pada pertemuan ketiga hari Senin, 8 Juni 2015 pukul 14.00-16.00 WIB di kawasan Pacific Place, SCBD, Jakarta, perte­muan tersebut direkam lalu dilaporkan pimpinan PT Freeport kepada Menteri ESDM Sudirman Said.

“Anggota DPR tersebut menjanjikan suatu cara pe­nye­lesaian tentang ke­lan­jutan kontrak PT Freeport, dan meminta agar PT Free­port memberikan saham yang disebutnya akan dibe­rikan kepada Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ju­suf Kalla,” ucap Su­dir­man soal isi pertemuan ketiga itu. “Keterangan ter­sebut saya peroleh dari pimpinan PT Freeport In­do­nesia,” imbuhnya.

Anggota Komisi III DPR Ruhut Sitompul me­rasa sudah tahu sosok pen­catut nama Presiden yang dilaporkan Sudirman Said. Dia menyebut si politikus dengan istilah ‘komandan’.

“Kita tunggu MKD nan­ti akan memanggil koman­dan itu. Ya kalian tahulah komandan itu. Kalian tahu komandan kami siapalah,” ujar Ruhut. Namun belum jelas siapa komandan yang dimaksud Ruhut.

Komandan itu diduga kuat mengarah ke Setya Novanto. Terlebih lagi di saat bersamaan, dia mene­mui Wapres Jusuf Kalla untuk membicarakan hal tersebut. Dia menyam­pai­kan klarifikasi isu pencatut nama Jokowi dan JK.

“Ya, saya harus me­nyam­­paikan karena saya tidak pernah menggunakan masa­lah-masalah ini untuk ke­pentingan yang lebih jauh,” ujar Setya Novanto di kantor wapres, Jalan Medan Mer­deka Utara, Jakarta Pusat, Senin (16/11/2015). “Jadi saya nggak pernah membawa nama-nama pre­si­den atau wapres,” sam­bungnya.

Dirinya menyebut me­miliki hubungan baik de­ngan Jokowi dan JK, ter­masuk dalam kerja mem­bangun Indoensia.

“Yang jelas kami tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak baik untuk kepen­tingan beliau berdua (pre­siden dan wapres),” kata Setya Novanto. (h/dtc)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com


[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM