Fly Over, Solusi Smart Kemacetan Lalu Lintas


Senin, 16 November 2015 - 19:56:49 WIB
Fly Over, Solusi Smart Kemacetan Lalu Lintas

LoS yang rendah ter­nyata tidak saja dialami oleh beberapa link dalam kota saja, melainkan sudah sejak lama dialami pula oleh link di tiga kawasan utama ma­suk dan keluar kota, yaitu di kawasan Pa­sar Lubuk Bua­ya, Pasar Bandar Buat dan Bukit Putus. Penyebabnya bukan karena penerapan traffic management yang keliru, melainkan karena tidak terkendalinya side friction (hambatan sam­ping) yang hampir memakan 50 persen ruas jalan per-arah.

Baca Juga : Yang Lain Menolak, Dedi Mulyadi Malah Mendukung: Saya Siap Disuntik Vaksin Nusantara

Sebagaimana yang di­alami oleh banyak kota di Indonesia, aktivitas Pasar Lubuk Buaya dan Pasar Bandar Buat di Kota Pa­dang, telah menimbulkan gangguan lalu lintas yang cukup signifikan hampir di sepanjang waktu. Apalagi jika pada hari pasar, maka siapa saja yang akan lewat di kedua kawasan ini, sudah harus mempersiapkan kesa­baran yang tinggi saat me­nga­lami kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas, serta meningkatkan kewas­padaan terhadap terjadinya resiko traffic accident.

Berdasarkan hasil Stu­di Manajemen Rekayasa Lalu lintas Kota Padang Tahun 2015, jika Peme­rintah Kota Padang tidak melakukan apa-apa untuk mengatasi persoalan lalu lintas di kawasan Pasar Lubuk Bua­ya, maka pada tahun 2020 yang akan da­tang, delay yang terjadi akan sebesar 1.984,6 sec dengan V/C ratio men­dekati 38,92. LoS kondisi ini sudah men­­ca­pai level F dengan pan­jang antrian mencapai 263 meter, dan dengan kecepatan rata-rata per­ja­la­nan di bawah 20 km/jam.

Baca Juga : Siap Siaga! 9 Provinsi Ini Diprediksi Bakal Diterjang Topan Surigae

Sementara itu di kawa­san Pasar Bandar Buat, jika Pemerintah Kota Padang juga tidak melakukan apa pun untuk mengatasi per­soalan traffic di kawasan ini, maka pada tahun 2020 yang akan datang, delay yang akan terjadi di kawasan ini akan menjadi 102 sec dengan V/C ratio 1,3.  Kondisi ini akan menyebabkan antrian se­pan­jang 289 meter. Prediksi ini menjadikan traffic per­for­mance di kawasan ini anjlok pada level of service (LoS) F, dengan kecepatan perjalanan rata-rata dibawah 18 km/jam.

Sedangkan di kawasan Bukit Putus, traffic per­formance yang buruk juga dipredikasi terjadi apabila tidak segera diantisipasi dengan melakukan per­bai­kan geometrik simpang. Bahkan resiko kecelakaan lalu lintas di kawasan ini semakin besar, mengingat pengalaman selama ini me­nun­jukkan bahwa pe­ngen­dara kendaraan bermotor akan bergerak secara spora­dis begitu pintu perlintasan kereta api dibuka setelah kereta api lewat. Semua ingin mendahului tanpa mengindahkan kenyamanan dan keselamatan pengen­dara yang lainnya. Aki­bat­nya, traffic crowded sudah menjadi pemandangan biasa di lokasi tersebut.

Baca Juga : Tenaga Ahli Menkes Kritik Vaksin Nusantara, Ungkap 95 Persen Bahan Bakunya Impor

Sebagai kawasan yang dapat dikatakan sebagai main gate masuk dan keluar Kota Padang, solusi jangka menengah dan panjang su­dah selayaknya diper­tim­bangkan untuk di­apli­kasi­kan di kawasan-kawa­san ini. Sebagian traffic pro­blems akan mampu dire­duksi apa­bila orientasi Pa­sar Lubuk Buaya dan Pasar Bandar Buat dialihkan mem­be­lakangi ruas jaringan jalan arteri yang ada.

Namun karena besarnya tarikan dan distribusi perja­lanan ke dan dari kawasan ini, maka tetap akan menim­bulkan konflik lalu lintas yang berpotensi terjadinya kecelakaan lalu lintas. Re-orientasi kedua pasar ini juga harus memper­timbang­kan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikannya.

Baca Juga : Istrinya Positif Covid-19, Ridwan Kamil Ingatkan Masyarakat Tetap Jaga Kesehatan

Alternatif yang logis untuk mengatasi persoalan tersebut agaknya adalah dengan membangun fly over pada ketiga main gate Kota Padang tersebut, sehingga direct acess menuju dan keluar Kota Padang tidak akan terganggu oleh aktivi­tas land traffic dibawahnya. Konsekwensi logis dari usu­lan ini adalah cost. Namun jika mempertimbangkan kerugian yang akan ditim­bulkannya apabila tidak dibangun fly over, misalnya delay, antrian panjang, ke­ma­cetan akut, potensi kece­lakaan, kepanikan pengen­dara, tingkat stress yang mungkin muncul, serta so­cial cost lainnya, maka opsi fly over menjadi opsi terbaik pada masa yang akan datang. Jika direct acces Kota Pa­dang sudah kita amankan, maka traffic engineering dalam kota akan selalu di up-date menyesuaikan anta­ra kapasitas dan volume kendaraan yang mele­wati­nya. Berbagai rekayasa lalu lintas akan dilakukan untuk meminimalkan resiko ma­cet dan crowded, sekaligus melengkapi berbagai instru­men lalu lintas lainnya, untuk menciptakan per­pindahan orang dan barang yang aman, nyaman, efektif dan efisien.

Kekuatan teknologi da­pat dikerahkan pula untuk mem­bantu merumuskan ti­pe rekayasa lalu lintas yang ter­baik yang akan di­aplika­si­kan. Persimpangan yang su­dah dilengkapi dengan ATCS, pemanfaatanGPS track­ing danTV on bus di Bus Trans Padang, mana­je­men perparkiran dengan sys­tem parking meter, e-ticket­ting di Bus Trans Pa­dang, adalah diantara bebe­ra­pa pemanfaatan teknologi yang sudah dan yang akan ki­ta aplikasikan dalam wak­tu­ dekat. Semuanya adalah un­tuk kemudahan dan ke­ama­nan para pengguna jasa trans­­portasi, menuju Kota Pa­dang yang lebih smart, khu­susnya smart trans­por­ta­tion. (***)

 

RUDY RINALDY
(Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi & Informatika Kota Padang)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]