Ketua DPR Diberitakan Mundur


Jumat, 20 November 2015 - 21:02:59 WIB

Situ berita nasiona, de­tik.com merilis Kantor be­rita Reuters pertama kali mengunggah berita berjudul ‘Indonesian speaker of the house resigns amid ethics probe-party official’ pada pukul 1.33 AM EST atau pukul 13.33 WIB, Jumat (20/11/2016).

Wartawan Reuters Ka­nupriya Kapoor me­la­por­kan hasil wa­wancaranya dengan politikus senior Golkar Fahmi Idris. “Setya Novanto telah me­ngun­dur­kan diri sebagai Ketua DPR, ta­pi ia masih tetap anggota parlemen,” kata Fahmi Idris seperti dikutip detikcom.

Berita ini kemudian disitir sejumlah media internasional. New York Times mengunggah berita dengan judul yang sama enam menit kemudian.

Berikut kutipan lengkap berita Reuters:

Indonesia’s speaker of the house, Setya Novanto, has re­signed as speaker amid an ethics probe into a meeting with ma­nagement of the Indonesian unit of Freeport McMoRan Inc, a senior official in Novanto’s party said on Friday. “Setya Novanto has resigned as speaker of the house but he still remains a member of par­lia­ment,” Fahmi Idris, a senior Golkar official, told Reuters by phone.

Novanto is also a member of the Golkar party. (Reporting by Kanupriya Kapoor; Writing by Fergus Jensen; Editing by Ed­mund Klamann) Namun tak lama kemudian Reuters me­nurunkan berita baru. Berita baru itu belum diunggah ke situs Reuters namun dimuat di laya­nan berlanggan Reuters yang hanya bisa dibuka oleh pelang­gannya saja. Revisi berita itu sebagai berikut:

Indonesian house speaker has not resigned - senior party official

JAKARTA, Nov 20 (Reu­ters) - Indonesia’s speaker of the house, Setya Novanto, has not resigned from his position, a senior official from his party said on Friday.

Fahmi Idris, a senior Golkar party official, had earlier on Friday told Reuters that Novanto had resigned from his position as speaker. (Reporting by Ka­nup­riya Kapoor; Editing by Richard Borsuk).

Terkait pemberitaan ini, Ke­tua DPR Setya Novanto belum memberikan keterangan resmi kepada media di Jakarta.

Melonjak

Dalam waktu kurang dari 24 jam, sebuah petisi online di situs Change.org yang menuntut “Pecat Ketua DPR Setya Novanto” su­dah mendapat lebih dari 34.000 penandatangan.

Menurut Communication Associate Change.org Dhenok Pratiwi, petisi ini bukan salah satu yang terbesar, tapi termasuk paling cepat pertumbuhan angka penandatangannya.

Untuk mencapai puluhan ribu penandatangan, menurut Dhenok, “Biasanya butuh ber­hari-hari. Petisi tolak reklamasi Bali, berbulan-bulan baru bisa mencapai angka puluhan ribu,” kata Dhenok. Ditanya, sejauh apa petisi ini memberi gambaran tentang sen­timen masyarakat, Dhenok me­ngatakan petisi bisa dikatakan ber­hasil jika tun­tutannya dipe­nuhi.

KMP Solid

Menghadapi tekanan ter­sebut, elite Koalisi Merah Putih berkumpul di rumah Ketum Gerindra Prabowo Subianto di Hambalang, Bogor. Dalam per­temuan tersebut, disepakati bah­wa KMP tetap mendukung Setya Novanto terkait kasus laporan pencatutan nama presiden dan wapres ke MKD DPR.

Berdasarkan informasi yang diperoleh di lokasi, Jumat (20/11), para elite KMP datang atas undangan Prabowo dalam acara syukuran Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Mereka yang hadir adalah Ketum Golkar Aburizal Bakrie (Ical), Waketum Gerindra Fadli Zon, Waketum Golkar yang juga Ketua DPR Setya Novanto, dan Idrus Mar­ham.

Kemudian juga ada Presiden PKS Sohibul Iman, Ketum PPP hasil Muktamar Jakarta Djan Faridz, dan PAN diwakili oleh Amien Rais. Dari informasi yang diperoleh, para elite KMP sempat menggelar pertemuan untuk membahas permasalahan Novan­to yang dilaporkan terkait penc­atutan nama presiden dan wapres.

Dalam pertemuan tersebut Novanto mencoba memberikan penjelasan dan membantah atas semua tuduhan seperti yang dilaporkan oleh Menteri ESDM Sudirman Said kepada Mah­kamah Kehormatan Dewan (MKD). Prabowo cs disebut menerima klarifikasi dan percaya 100 persen terhadap Novanto.

Meski demikian, Prabowo menyerahkan permasalahan ini kepada MKD dan meminta agar laporan terhadap Novanto dapat diproses dengan sebaik-baiknya. Prabowo juga disebut meminta semua pihak tidak saling sikut menyikut.

“Kadang-kadang politik be­gitu, kita berharap ada kesejukan. Kita butuh kerjasama, ke­kom­pakan dalam membangun bang­sa. Kalau gini terus kita capek,” demikian ucapan Pra­bowo ber­dasarkan informasi yang didapat detikcom di lokasi.

“MKD yang akan menilai, katanya. agar aman harus dipe­lajari, katanya rekaman dire­kayasa kita nggak tahu, makanya biar diproses. Pihak beliau (No­vanto) menjelaskan tidak men­catut nama presiden,” lanjut Prabowo. (h/dtc/bbc)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com


[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM