PAN, Nasdem dan Demokrat Sukses Bangun Koalisi


Selasa, 15 Desember 2015 - 03:17:52 WIB
PAN, Nasdem dan Demokrat Sukses Bangun Koalisi

Berdasarkan data yang diolah dari situs pilkada, tiga partai, PAN, NasDem, dan Demokrat menjadi tiga par­tai yang paling sukses mem­bangun koalisi dengan par­tai lain dalam mengajukan calon. Mereka memiliki atau mendukung pasangan calon yang cukup tersebar. Sementara berdasarkan hi­tungan sementara, PDIP menjadi partai dengan calon yang paling banyak menang.

Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pe­milih untuk Rakyat (JPPR) Masykurudin Hafidz me­nyatakan, pemetaan ini ditu­jukan untuk me­mudahkan masyarakat pemilih dalam mengetahui hasil sementara rekapitulasi Pilkada secara nasional disandingkan de­ngan proses pencalonan sebelumnya.

Dalam membuat pe­me­taan ini, data yang dipakai ber­dasarkan formulir C1 yang terekap dan mencapai 90 persen atau lebih (de­ngan selisih suara diatas 3 per­sen) hingga Senin (14/12).

Dari batasan tersebut, terdapat 208 daerah dari 269 daerah Pilkada dengan rincian; 1) 208 daerah telah mencapai rekapitulasi C1 mencapai 90 persen atau lebih dengan selisih 3 per­sen, 2) 47 daerah yang masih belum mencapai 90 persen, 3) 9 daerah yang sementara dimenangkan oleh pasa­ngan calon perseorangan dan 4) 5 daerah Pilkada yang mengalami penundaan.

“Pemetaan ini ingin meng­khususkan kepada pe­ta kemenangan di 208 dae­rah yang rekapitulasi C1 le­bih 90 persen,” jelasnya da­lam siaran persnya, Senin (14/12).

Berdasarkan partai, dari 208 daerah Pilkada (yang penghitungannya telah men­capai 90 persen), PDIP mendapatkan kemenangan terbanyak, yaitu 105 daerah, disusul oleh Gerindra se­banyak 87 daerah, NasDem 85 daerah, PAN 80 daerah, PKS 75 daerah, Demokrat 68 daerah, PKB 65 daerah, Hanura 63 daerah, Golkar 49 daerah, PBB 32 daerah, PKPI 31 daerah dan PPP 28 daerah.

“Jumlah kemenangan yang dicapai oleh masing-masing partai politik tersebut tidak selalu sebangun dengan jumlah pasangan calon yang diaju­kan saat masa pencalonan,” kata Masykurudin.

Dia menjelaskan, pada masa pencalonan, dari 630 pasangan calon di Pilkada serentak, PDIP paling ba­nyak dukungan terhadap pasangan calon yaitu se­banyak 244 paslon. Ke­mudian Gerindra (211 pas­lon), Demokrat (205 pas­lon), Nasdem (199 paslon), PAN (195 paslon), Hanura (187 paslon), PKB (174 paslon), PKS (162 paslon), Golkar (116 paslon), PKPI (90 paslon), PBB (78 pas­lon) dan PPP (70 paslon).

Secara persentase, bila dibandingkan dengan jum­lah pencalonan, terdapat peningkatan untuk De­mok­rat, NasDem, PAN dan PK­PI, sementara terdapat pe­nu­runan kepada Hanura, PKS dan PBB. Adapun PD­IP, Gerindra, PKB dan Gol­kar persentase kemenangan sesuai dengan jumlah yang diajukannya (stagnan).

“Keberhasilan mem­ba­ngun koalisi paling tinggi dicapai oleh PAN, NasDem dan Demokrat. Strategi po­litik ketiga partai ini yaitu membangun koalisi yang relatif merata, telah me­ningkatkan jumlah keme­nangannya di Pilkada. Se­lain itu, kemenangan PDIP yang diraihnya sendiri atau bersama NasDem, PAN, Demokrat dan Hanura da­pat menguatkan kerja-kerja politik di daerah,” ujarnya.

Di sisi lain, dari peme­taan ini, Partai Golkar tidak mendapatkan cukup banyak kemenangan di Pilkada se­rentak ini. Adapun Ge­rin­dra, dengan lebih selektif da­lam membangun koalisi, ke­menangan yang diraih ber­-dampak pada pe­ning­katan soliditas in­ternal par­tai.

Dari pemetaan di atas, JPPR melihat terdapat pe­rubahan (peningkatan dan penurunan) yang cukup signifikan dari jumlah pen­calonan dengan jumlah pe­ro­lehan kemenangan bagi partai politik. Hal ini me­nunjukkan adanya evaluasi dari masyarakat pemilih yang diwujudkan dengan tingkat partisipasi dan pili­han pemilih tersebut.

“Tindakan elit partai politik (baik lokal maupun nasional) nyata-nyata telah mempengaruhi penilaian dan pilihan masyarakat saat menggunakan hak pilihnya pada hari pemungutan sua­ra,” kata Masykurudin.

Kemudian, JPPR juga melihat, partai politik da­lam membangun koalisi untuk pencalonan dan se­lek­si kepemimpinan daerah masih berdasarkan aspek pragmatisme.

“Pasangan calon lebih berperan besar dalam men­dorong adanya koalisi yang dibangun antar partai di tingkat daerah. Hal ini ber­dampak adanya kampanye yang dilaksanakan sebagian besar ditangani dan didanai oleh pasangan calon sen­diri,” imbuhnya.

Satu hal yang menjadi catatan JPPR dalam pil­kada serentak kali ini, ma­syarakat pemilih tidak cu­kup men­dapatkan kesem­patan yang besar dalam membangun kontrak poli­tik dengan pasa­ngan calon sebagai perwa­kilan dari partai politik.

“Meskipun metode kam­­­­panye telah didorong untuk melakukan per­te­muan langsung antara pa­sangan calon dengan pe­milih, nyatanya kurang dija­dikan momentum untuk mendiskusikan kepentingan rakyat secara langsung dan berorientasi jangka pan­jang,” pungkas Masyku­ru­din. (h/mdk)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]