Selebriti Jual Diri


Selasa, 15 Desember 2015 - 03:18:51 WIB
Selebriti Jual Diri

Tertangkapnya mucikari Robby Abbas yang menjajakan selebriti, tidak serta merta menghentikan bisnis esek-esek artis papan atas. Kepala Subdit III Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Komisaris Besar Umar Fana, mengatakan kepolisian melakukan investigasi berdasarkan informasi yang diperoleh dari Robby Abbas, seorang mucikari yang Bulan Oktober 2015 dijatuhi hukuman 16 bulan penjara untuk kasus perdagangan seksual dengan tarif puluhan juta rupiah untuk satu kali transaksi.

Menteri sosial Khofifah Indar Parawansa menga­ta­kan seebetulnya sama sekali bukan karena faktor eko­nomi. Bayangkan kalau tarif short time Rp50 juta hingga Rp 120 juta. Dulu bahkan sampai Rp 200 juta. Nikita dan PR, lanjut Umar, telah diserahkan ke dinas sosial di Cipayung, Jakarta Timur, untuk mendapatkan pem­bi­naan.

Dari kamar, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, berupa bukti transfer, pakaian dalam, kunci hotel, kondom, HP. Puty dan Nikita ditetapkan statusnya sebagai korban atas dasar hukum Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Sementara muncikari F dan O sudah menjadi tersangka dan bisa kena pidana. Puty dan Nikita akan menjadi saksi dalam pengem­bangan kasus tersebut.

Usai pemeriksaan, Puty dan Nikita dikirim ke santi sosial untuk mendapat pembinaan layaknya PSK yang terkena razia. Namun mereka hanya sebentar di sana untuk di data. Berbeda dengan Nikita yang santai wajahnya terekspos, Puty hadir di panti sosial dengan wajah serba tertutup.

Tentu saja fakta yang mengelilingi kehidupan para se­lebritis dan artis sebagaimana yang menimpa NM dan PR menjadi aib dan pelajaran yang sangat berharga. Tin­da­kan mereka sangat tidak layak dicontoh. Ke­indahan dan kecantikan diri semestinya dijadikan sebagai sarana un­tuk memberikan inspirasi kepada orang lain. Ke­mo­le­kan yang dimiliki harusnya disyukuri dan dengan ke­te­narannya harus memberi contoh hidup baik agar ma­sya­rakat mengikuti jalan hidupnya yang lurus. Namun sung­guh sayang, banyak artis dan juga wanita-wanita can­tik lain, melecehkan Allah dengan menghambakan di­ri pada uang. Mereka melecehkan Sang Pencipta de­ngan men­jajakan diri sebagai budak seks kaum pria yang tak ber­moral. Mereka juga sekaligus melecehkan diri sen­diri.

Nilai-nilai luhur dikalahkan dengan pemujaan cara hidup yang hedonistis. Padahal seharusnya kaum cantik bisa ‘memanfaatkan’ anugerah Tuhan itu untuk memberi contoh berbagai gaya hidup yang peduli, berbelarasa, dan penuh cinta. Kalau mereka menjadi bintang antirokok, antinarkoba, antimadat, dan antiseks bebas pasti jauh lebih didengarkan daripada orang biasa. Sayang mereka justru menjadi contoh perokok, narkoba, madat, dan seks bebas, bahkan prostitusi kelas wahid.

Memang tak dapat disalahkan, gaya hidup yang di­pe­lajari di kalangan artis adalah glamour. Mereka yang ti­dak memiliki kemandirian dan karena itu harus juga ikut arus glamouria. Masalah timbul ketika biaya untuk ber­glamouria tidak mencukupi. Di situlah bisikan-bisi­kan menjual diri muncul dan pada akhirnya diterima. Se­bab menjajakan diri pada praktik prostitusi cara mu­dah dan cepat mereka memperoleh rupiah dalam jumlah be­sar yang oleh orang biasa harus dikumpulkan berta­hun-tahun. Tapi mereka hanya dalam satu sampai tiga jam sudah memperoleh ratusan juta rupiah. Tentu saja su­lit bagi mereka untuk kembali masuk ke dunia normal. De­ngan pekerjaan normal, mustahil mereka dapat men­ce­tak uang dalam jumlah  besar dalam waktu yang rela­ti­ve sangat singkat.

Persoalan prostitusi kelas atas ini sebaiknya me­mang dibuka lebar. Selain untuk menyelamatkan para kor­ban dan mengantisipasi agar jangan terulang serta men­jadi pelajaran berharga bagi yang lainnya. Ini juga men­jadi momentum bagi kalangan pejabat eksekutif dan le­gislative serta para pengusaha, swasta dan BUMN un­tuk bertobat. Mereka jangan menyalah­gunakan kewena­ngan­­nya untuk bisa menikmati ‘daun muda’ dengan meng­hambur-hamburkan uang dalam jumlah banyak. **

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]