Ian Kasela Dilaporkan ke Polisi


Kamis, 17 Desember 2015 - 03:06:51 WIB
Ian Kasela Dilaporkan ke Polisi

“Ini terkait royalti. Tapi cara yang dilakukannya (Ian Kasela), diduga mengin­ti­mi­dasi, mengancam dan me­me­ras pimpinan kami,” ujar Maharani Dewi, Legal Happy Puppy kepada wartawan di Surabaya, Rabu (16/12).

Maharani membeberkan kasus yang berkaitan dengan Ian Kasela. Katanya, sekitar Januari 2014, Ian me­la­por­kan 5 rumah karaoke ke­luarga ke Mabes Polri, terkait persoalan pem­bayaran royalti. Namun, kelima ka­raoke tersebut merasa tidak bersalah, karena sudah me­laksanakan ke­wa­jibannya mem­ba­yar­kan royalti ke lembaga manajemen kolektif (LMK). Ian Kasela meru­pakan member di KCI.

“Kami merasa sudah membayar ke LMK. Me­mang ada kurang bayar se­kitar 3 lagu, sehingga kami meng­hu­bungi Ian. Mungkin ada miss­ko­munikasi,” tuturnya.

Persoalan mu­lai muncul. Pihak rumah karaoke ada itikad baik untuk mem­bayar ke­ku­rangan 3 lagu band Radja de­ngan Rp 150 juta, sebagai be­n­tuk peng­hargaan kepada Ian.

Namun, vokalis band Radja ini tidak mau me­nerimanya, dan meminta harga yang dinilai tidak wajar. 3 lagu, Ian meminta kisaran sebesar Rp 2,5 miliar.“Kami akui memang kurang bayar. Tapi nilai yang diajukan sangat tidak wajar. Masak 3 lagu mintanya kisaran Rp 2,5 mi­liar,” tuturnya.

Selama proses penyelidikan ber­langsung, Ian ber­ko­mu­nikasi dengan pimpinan Happy Puppy. Namun, pesan sms yang disampaikan Ian, diindikasikan mengancam hingga pemerasan.

“Katanya, kalau nggak mau bayar (kisaran senilai miliaran untuk 3 lagu) akan diproses sampai ke P21, ini itu,” katanya sambil menambahkan, laporan Ian ke Mabes Polri dinyatakan P21 sekitar Maret 2015. “Tidak perlu lah pelapor me­ngin­timi­dasi seperti itu. Kita siap buktikan di pengadilan. Tapi kalau dengan cara seperti itu, membuat pimpinan kami merasa terancam,” ujarnya.

“Dan kami juga tidak mau di­peras. Ka­lau dengan nilai yang wa­­jar, kami ak­an be­ri­kan,” tan­da­s­­nya sa­m­bil me­nunjuk­kan buk­ti la­po­r­an dari Ha­ppy Pup­py ke Polda Ja­tim dengan nomor LPB/0286/X/2015/SUS/JA­­TIM, tertanggal 9 Ok­to­ber 2015. Pasal ya­ng disangkakan, Pasal 27 (4) Jo Pasal 29 Jo 45 (1) Jo ayat 3 UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE.

Ian juga mengakui su­dah menerima surat pang­gilan dari Polda Jatim un­tuk dimintai ke­te­rang­an sebagai terlapor. Na­mun, ia mengaku be­lum sekali pun datang ke Polda me­­­me­nuhi panggilan pen­yidik tersebut. “Be­lum da­­tang ke Polda, ma­sih kita pelajari (laporannya),” ka­tanya saat dihubungi VIVA.co.id, Rabu, 16 Desember 2015.

Ian menolak me­n­je­las­kan rinci perihal ka­sus yang kini mem­belitnya itu. Ditanya soal angka Rp2,5 mi­liar per tem­pat ka­raoke yang ia minta kepada mana­jamen Happy Puppy yang di­anggap pe­la­por se­bagai pe­me­ra­san, pr­ia ber­nama asli Mul­ya­ni itu hanya me­n­­­ja­wab san­tai, “O, gitu ya.”

Kata dia, pada pertemuan yang di­­la­­kukannya deng­an pihak Happy Pup­py belum sam­pai pada pem­bic­ara­an ma­sa­lah ganti rugi finan­sial, apa­lagi sampai men­ye­but angka gan­ti rugi. “Kita belum sam­pai bicara ma­ter­ial,” ucap Ian Kasela. (h/dtc)



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com


[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM