Meng-Gebu Minang


Kamis, 17 Desember 2015 - 03:52:15 WIB
Meng-Gebu Minang

Tentu, sikap ini melekat erat dengan karakteristik etnis Minangkabau. Sejak zaman beheula, terus ke abad per­tengahan, puncaknya pada era kemerdekaan, dan hing­ga saat ini. Berseliweran dimana-mana tokoh-tokoh Minang. Khusus era kemer­dekaan, lantas tak bisa dilu­pakan sosok negarawan seja­ti, pendiri bangsa (founding father) yang kebanyakan mereka berasal dari tanah Minangkabau. Tak perlu risau, karena penulis yakin semua kita tahu dengan Hatta, Syahrir, Agus Salim, M. Natsir, Buya Hamka, Tan Malaka, dan banyak tokoh lagi, mulai dari mereka yang berjuang dengan “gaga­san intelektual” sampai yang “berselimut darah” untuk mengusir penjajah. Tak berlebihan bila tema “ranah republik” dilekat­kan pada tanah ini. Andai saja pahatan patung presiden dan pendiri Amerika di Gunung Rushmore, coba diadopsi di Indonesia, yang ada malah kental dengan sisi etnografi Minang-nya, ketimbang historis.

Tapi, tulisan kali ini akan penulis arahkan kepa­da­ konteks budaya Minang dan tradisi “merantau” yang su­dah amat sangat meme­nu­hi setiap aspek psikis, eko­no­mi, spiritual, budaya, dan so­sial etnis Minang­kabau. Da­ri sekitar 5.475.­145 war­ga etnis minang­ka­bau, baik yang berdomisili di Suma­te­ra Barat maupun di peran­tau­an, hanya 68,44% mene­tap di Sumatera Barat se­dang­kan 31,56% berada perantauan. Falsafah “Alam Takambang jadi Guru” ti­dak hanya sekadar kata-kata yang diucapkan, ia memiliki jiwa dan ruh yang senantiasa menetap pada setiap hidup dan penghidupan etnis mi­nang­kabau.

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Cerita pendiri bangsa di awal, tentu tidak akan dinik­ma­ti hari ini, bila saja dalam bu­daya minangkabau tidak me­ngenal tradisi “meran­tau”. Namun, patut dipa­ha­mi bila makna “rantau” di si­ni memiliki relasi dengan “ra­nah”. Sama halnya de­ngan “hijrah” yang dilaku­kan Rasulullah, ia hanya ber­pindah secara temporal. Ha­nya fisik yang menga­la­mi perpindahan, namun hati dan pikiran tidak per­nah be­nar-benar beranjak. Per­so­­a­lan kuasa ruang dan wak­tu yang tak mampu di­tem­bus.

Konsep ini pula yang dipahami dalam diaspora. Seperti menemuukan irisan, secara substantif dan aksio­logis “merantau” sama hal­nya dengan berdiaspora. Dengan kata lain, orang minang sudah lebih dahulu menggunakan terma “di­aspora” yang di pahami dalam tradisi “merantau”. Selaras dengan pengertian Diaspora, orang-orang yang berpindah dari daerah asal­nya dan  melakukan akti­vitas disana, dengan tetap mempertahankan hubu­ngan sentimental dan mate­rial yang kuat dengan tanah air/negara asal.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

Rantau Berbuat

Apabila ditarik ke kon­disi kontemporer, bentuk relasional “ranah” dan “ran­tau” melekat pada Gerakan Ekonomi dan Budaya Mi­nang­kabau, atau disingkat dengan (Gebu Minang). Orga­nisasi sosial Minang­ka­bau yang diinisiasi oleh elit-elit Minangkabau yang bera­da di perantauan. Keba­nya­kan dari mereka merupakan elit yang berada di lingku­ngan struktural peme­rin­tahan Orde Baru, dari men­teri hingga gubernur. Rasa­nya nama-nama ini tidak asing di telinga kita, seperti Azwar Anas, Emil Salim, Harun Zain, Bustanil Ari­fin, dan sebagainya.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu

Dilihat dari tujuan pen­di­riannya, organisasi ini lebih bersifat paguyuban. Menjadi tempat meng­him­pun diri warga etnis minang di perantauan, agar senan­tiasa terkoneksi secara psi­kis dan etno-sentris dengan kampung halaman. Dengan begini, warga perantauan minang tetap bisa mera­sakan kultur dan tradisi minang meski tidak sedang berada tanah minang.

Dari segi pembangunan eko­nomi, organisasi yang di­dirikan pada 24 Desem­ber 1989, pada awalnya sekitar 1991-1992 meng­galang do­na­si pada warga perantauan untuk menyum­bangkan se­ri­bu rupiah, hasil donasi yang terkumpul nan­ti, akan disa­lur­kan untuk pem­ba­ngu­nan di kampung hala­man (ranah) Akronim Ge­bu Minang pun sempat di­arti­kan “Gerakan Seribu Ru­piah Minang­ka­bau”. Na­mun pada saat ini, nominal sum­bangan sudah dinaik­kan minimal 25.000 hingga 50.000 rupiah, kese­lu­ruhan sum­bangan dikelola dalam ben­tuk Dana Abadi Minang­ka­bau Internasional dan ter­sim­pan di Bank Per­kreditan Rak­yat.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan

Pada tahun-tahun men­jelang pendiriannya, AA Navis yang juga salah se­orang penggagas Gebu Mi­nang menyebutkan Nagari sebagai asal dari para peran­tau, tidak memenuhi untuk tempat perkembangan eko­nomi, yang ada nagari di­la­beli sebagai “lumpur kemis­ki­nan”. Katanya lagi ada 6000 orang datuk dalam prak­tek budaya minang kon­servatif yang tidak me­mi­liki pekerjaan. Untuk itu, wu­jud nyata dari keber­ha­silan Gebu Minang adalah terbangunnya juga hubu­ngan relasional dalam bi­dang ekonomi antara “ra­nah” dan “rantau”. Hal ini diterapkan melalui kegiatan usaha ekonomi, seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Trading House, Ven­tura Capital Gebu Mi­nang, Pusat Pendidikan dan Pelatihan wirausaha, Peru­sahaan Terbatas Mi­nang.­Net, serta Dana Abadi Mi­nang Internasional. Donasi sumbangan bernilai milia­ran rupiah dari donatur, kemudian disalurkan pada masyarakat di kampung halaman, guna pendanaan pembangunan dan pengem­ba­ngan ekonomi. Selain juga, upaya meningkatkan kapasitas dan skill melalui Pusat Pendidikan dan Pela­tihan agar masyarakat mi­nang­kabau mampu mem­buat usaha sendiri.

Sumbangsih bagi penga­yaan adat dan tradisi juga dijalankan meski tengah berada di rantau. Seringkali warga perantauan menga­dakan palanta dan pengu­kuhan gelar adat. Diskusi dan perbincangan menge­nai relevansi budaya mi­nang dengan kondisi keki­nian menjadi tema yang menarik dan seringkali di diskusikan.

Pro Kontra Gebu Minang

Sebagai organisasi sosial yang eksis di rantau dalam menyuarakan pemba­ngu­nan ekonomi, sosial dan budaya Minang, Gebu mi­nang tak luput dari berbagai cibiran dan kritikan. Ba­nyak yang menilai inisiatif Gebu Minang adalah akal-akalan dari beberapa elit kekuasaan yang berada di Pusat, sebagian berlatar belakang pengusaha. Aroma orde baru tercium kuat, sehingga jelas sekali tenden­si politisnya, pengaruh yang dimiliki tokoh ini dimak­sud­­kan untuk memuluskan aksi mereka dalam menan­capkan uni usahanya di ranah minang. Bahkan di­saat gerak dari organisasi ini semakin menggebu dan ma­ju, banyak yang secara tidak langsung mengusung pem­baharuan budaya, khu­sus­nya urusan tanah ulayat. Baginya, budaya ini tidak lagi relevan diterapkan, malahan justru menjadi penghambat perkembangan ekonomi. Jelas sekali, sudut pandang pengusaha dalam logika kapitalis pro-pasar yang dikemukakan disini.

Terlepas dari semua itu, pe­ran serta perantau dengan me­nginstitusionalisasikan di­ri dalam Gebu Minang pa­tut diapresiasi. Dengan te­tap memberikan sum­bang­sih bagi pembangunan di ka­m­pung halaman, arti­nya se­makin menguatkan relasi ra­nah dan rantau. Hubu­ngan secara emosio­nal de­ngan kampung hala­man ma­sih tetap bisa dira­sa­kan mes­ki di rantau. Dan fakta­nya juga, organisasi sosial  minang­kabau terma­suk yang paling eksis, bukan ha­nya di dalam negeri saja, bah­kan interna­sional. Baru-ba­ru ini warga Minangkabau di Eropa me­nga­dakan perja­muan yang dibingkai dalam nuan­sa adat minang. Acara yang dilang­sungkan di Paris pa­da 30 Oktober lalu, meng­ha­dirkan ragam makanan, ta­rian dan budaya minang. Se­ti­daknya rindu akan nuan­sa di tanah air, khususnya ra­­nah minang dapat terobati se­­je­nak.  Kong­kow  dengan ajo, uda, one, uniang dan one membuat larut dalam la­­munan hasrat kerinduan ta­nah air yang seketika le­pas, sejatinya saat itu alam ba­­wah sadar (un­con­scious) te­­ngah menyu­su­ri jejak “ra­nah”. ***

 

NABHAN AIQANI
(Ketua UKM Pengenalan Hukum dan Politik Unand
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]