Pak Ogah Lagi Booming, Tanggung Jawab Siapa?


Jumat, 18 Desember 2015 - 03:16:48 WIB
Pak Ogah Lagi Booming, Tanggung Jawab Siapa?

Terkadang kalau mood kurang baik, pengendara menggerutu dengan keberadaan pak Ogah. Padahal jasa yang mereka berikan terkadang cukup membantu menyeberangkan kendaraan.

Sebagian dari para Pak Ogah mungkin memang secara ikhlas membantu menyeberangkan kendaraan roda dua atau empat tanpa iming-iming. Tetapi juga sering dilihat pengendara roda empat yang terjebak situasi macet sehingga sulit untuk dilalui dan butuh waktu lama untuk berbalik atau membelok.

Pak Ogah atau Polisi Cepek tentu tidak asing bagi kita. Tidak susah mencari mereka di tengah kemacetan kota-kota besar. Tokoh Pak Ogah bisa bermacam-macam, mulai dari segerombolan anak muda, bapak-bapak, bahkan orang yang memiliki keterbatasan fisik melakukan pekerjaan ini.

Pekerjaan mereka adalah membantu menyebe­rangkan atau membelokkan kendaraan roda empat dengan harapan mendapatkan uang seikhlasnya dari pemilik kendaraan tersebut. Keberadaan mereka yang selalu ada di setiap persimpangan, belokan, atau putaran jalan, memang menimbulkan pro dan kontra. Untuk beberapa kendaraan yang kesulitan berbelok atau memutar karena tidak diberi kesempatan oleh pengguna kendaraan lain, kehadiran mereka sangat membantu. Namun bagi sebagian orang kehadiran mereka menjadi sebuah gangguan karena ulah Pak Ogah inilah jalanan malah menjadi macet.

Booming atau menjamurnya Pak Ogah tak lepas dari karakter pengguna jalan di kota besar yang tidak rela memberi kesempatan untuk mobil lain menghalangi jalan mereka walaupun hanya untuk sekedar berbalik arah atau berbelok. Masyarakat kita tidak sabaran dan cenderung oportunis kalau berkendara. Kemacetan yang ditimbulkan karena banyaknya kendaraan pribadi serta buruknya sarana angkutan umum memang membuat pengemudi menjadi mudah stres dan cenderung tidak mau mengalah.

Tidak bisa dibantah, idealnya, bila terjadi kemacetan di Jalan Raya semestinya Polisi Lalu Lintaslah yang ber­tugas mengatur dan mengurai kemacetan tersebut. Na­mun, kenyataannya sering kali yang ditemukan mala­han polisi tak berseragam inilah yang mengatur ja­lan. Bahkan ada polisi yang memilih duduk di posnya dan mem­biarkan tugasnya ‘diambil alih’ oleh polisi ce­pek itu.

Tingginya angka pengangguran, membuat beberapa masyarakat kita rela melakukan apa saja. Bekerja sebagai Pak Ogah menjadi pilihan karena inilah sektor informal yang menurut mereka halal dan tidak terkesan meminta-minta. Bayangkan saja bila dalam sekali melintas mobil memberi mereka seribu rupiah. Misalkan dalam satu jam ada 50 mobil yang melintas, maka Rp50.000,- sudah di tangan mereka. Berapa rupiah kalau dalam dua jam, tiga jam, atau empat jam?

Kita jadi heran kenapa keberadaan ‘Pak Ogah’ atau ‘Polisi Cepek’ di Kota Padang yang kian marak  dibiarkan saja. Mereka saat ini sudah ada hampir di setiap persimpangan, bengkolan maupun putaran di beberapa ruas jalan di Kota Padang, seperti di sepanjang jalan Khatib Sulaiman dan Jalan Hamka, Padang. Hampir tiap hari ada saja wajah baru yang bertengger di persimpangan menjadi pak ogah ini. Berlagak layaknya seorang polisi atau petugas dari Dishub, mereka tampil layaknya seorang pahlawan yang mengatur arus lalu lintas, dengan embel-embel uang jasa yang dibebankan kepada pengendara yang hendak memutar balik kendaraannya.

Keberadaan Pak ogah sangat mengganggu dan malah bikin macet. Soalnya, ketika saya akan berputar di bengkolan jalan, sang pak ogah berdiri di depan mobil. Padahal kondisi jalan dalam keadaan sepi atau biasa-biasa saja. Sang pak ogah seperti sengaja menghalangi mobil lewat, namun berlagak seperti membantu menyeberangkan mobil. Mohon kegiatan seperti ini diberantas. **

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]