DBD Mulai Mewabah di Dharmasraya


Jumat, 18 Desember 2015 - 03:20:51 WIB
DBD Mulai Mewabah di Dharmasraya

Kepala Bidang Pelayanan RSUD Sungai Dareh dr Fitra Neza menyebutkan, warga yang tengah menjalani perawatan di rumah sakit itu di antaranya Nurhayati (49), Junalis (43), Iyet Sumardi (25) dan Fajri (25). Sementara itu, juga sempat beredar informasi, ada dua warga yang meninggal akibat penyakit ini.

Soal ini, Fitra tak mau berspekulasi. Menurutnya, korban DBD yang meninggal dunia itu tidak masuk data di RSUD disebabkan telah meninggal dunia ketika baru sampai di  IGD dan belum sempat sampai dalam ruang perawatan saat sehingga tidak bisa didata. Pihak keluarga, katanya, ingin membawa pulang jenazah untuk dimakamkan.

“Untuk memastikan pasien tersebut men­derita DBD atau tidak, hanya bisa dipastikan melalui pemeriksaaan darah. Akan tetapi pihak keluarga yang diduga terjangkit DBD tidak bersedia dilakukan pemeriksaan terhadap terjangkit tersebut,”katanya.

Ia mengatakan, untuk penanganan pasien DBD ini, RSUD Sungai Dareh sudah me­nyiapkan ruangan khusus untuk pasien DBD, karena DBD masuk dalam penyakit yang bisa menular karena itu pihaknya menyulap ruang bangsal anak untuk ruangan isolasi penyakit DBD.

Kepala Dinas Kesehatan Dharmasraya, Drg Erina kepada sejumlah wartawan mengatakan, pihaknya tidak melakukan fogging sebagai upaya menghambat penyebaran penyakit DBD, karena dia menganggap hal itu sia-sia saja dilakukan.

Menurutnya, fogging dilakukan itu hanya untuk penanganan jangka pendek saja. Se­mentara untuk penyebaran DBD harus dil­a­kukan dengan menguras dan mem­bersihkan tempat-tempat yang bisa menampung air yang menyebabkan nyamuk bisa berkembang biak, tandasnya 

Terkait ada meninggalnya dua pasien diduga menderita DBD di Dharmasraya, Kabid Pe­nanggulangan  Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sumbar Irene Susilo kepada Haluan mengatakan, status DBD di suatu daerah hanya bisa ditingkatkan jika penularan di daerah tersebut meningkat dua kali lipat dibanding periode sebelumnya. Namun, untuk temuan kali ini, upaya Fogging dan 3M Plus harus dilakukan setelah melakukan berbagai pertimbangan.

“Untuk meningkatkan status bahaya DBD di suatu daerah, harus setelah ditemukan peningkatan kasus penularan DBD sebanyak dua kali lipat. Untuk Dharmasraya saya akan cek terlebih dahulu bagaimana pertimbangannya,” jelas Irene yang mengaku baru mengetahui informasi tersebut.

Sedangkan upaya fogging yang dinilai sia-sia oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Dharmasraya, Irene menilai tentu setelah melalui berbagai pertimbangan. Jika memang pasien terkena DBD di lokasi tempat ia tinggal, maka fogging harus dilakukan sesegera mung­kin. Tapi jika tidak, memang 3M Plus yang harus digiatkan oleh masyarakat.

“Jadi setiap kasus itu harus dikaji dulu. Bisa jadi pasien itu dapat DBD di luar Dharmasraya. Kalau seperti itu, memang tidak perlu Fogging, tapi cukup dengan menggiatkan 3M Plus. Tapi jika pasien DBD memang mendapatkan gigitan nyamuk di lokasi tempat ia tinggal, maka wajib fogging,” jelasnya lagi.

Lebih dijelaskannya, fogging adalah upaya untuk membunuh nyamuk dewasa yang dapat menularkan virus dangue penyebab DBD kepada manusia. Sedangkan upaya 3M Plus adalah upaya mengentaskan jentik-jentik nyamuk yang berpotensi menjadi hewan penular virus tersebut nantinya setelah dewasa. “Jadi untuk kasus ini, kami kaji dulu bagaimana pasien sampai tertular sebelum memutuskan melakukan foging atau tidak,” tukasnya. (h/mg-bdr/mg-isq)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]