Revolusi Mental sebagai Wujud Bela Negara


Sabtu, 19 Desember 2015 - 03:38:52 WIB
Revolusi Mental sebagai Wujud Bela Negara

Silakan an­da se­but apapun tema pe­ringatan Ha­ri Bela Nega­ra­ tahun ini, izin­kan saya me­maknainya de­ngan pe­ma­­haman saya; RE­VO­LU­SI MENTAL SE­BA­GAI WU­JUD BE­LA NEGA­RA, tan­pa me­ning­galkan mak­sud dari tema awal yang su­dah men­jadi arahan peme­rin­tah.

Peringatan Hari Bela Negara

Baca Juga : Prabowo dan Habib Rizieq

Kita tahu bahwa setiap Tanggal 19 Desember Bang­sa Indonesia memperingati Hari Bela Negara. Sebabnya pada hari itu di tahun 1948 Belanda memulai Agresi Kedua. Ibukota Republik Yogyakarta diduduki dan para pemimpin Republik ditangkap lalu diasingkan ke Brastagi dan ke Pulau Bangka.

Di Bukittinggi pada hari yang sama berhasil dibentuk Pemerintah Darurat dalam rangka mengisi kekosongan pemerintahan atau “vacum of power” dan memang ke­ko­songan itulah yang di­inginkan Belanda. Ini ter­bukti kemudian dengan inti propagandanya ke dunia internasional bahwa Repu­blik Indonesia telah bubar karena para pemimpinnya ditawan oleh Belanda.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

Untuk membantah pro­pa­ganda Belanda itu seren­tak rakyat Indonesia bang­kit. Di Jawa TNI melan­carkan siasat perang gerilya dengan dukungan rakyat. Di Sumatera Pemerintah Daru­rat memimpin rakyat de­ngan bergerilya pula menga­rahkan TNI dan mengatur diplomasi ke Dunia Inter­nasional menggunakan “ko­mu­nikasi radio” sehingga di cemooh oleh Belanda seba­gai “Republik Mikrofon”.

Kebangkitan rakyat se­ren­tak membela negara yang sudah kehilangan pe­mim­­pinnya itulah yang ke­mu­dian diperingati sebagai Hari Bela Negara. “Soe­karno Hatta boleh ditang­kap tetapi beribu pemimpin sanggup mempertahankan Republik”  kata Mr. Sya­frud­din Prawiranegara suatu ketika di Sumatera. Ke­bang­kitan rakyat secara serentak itulah selama 200 hari yang memaksa Belanda bersedia duduk satu meja dengan Republik. Artinya; secara militer dan politik kita menang. Kenapa kemu­dian diperingati sebagai Hari Bela Negara? Karena ada dua nilai yang menye­babkan kebangkitan rakyat serentak untuk melawan agresi Belanda pada waktu itu; yaitu Semangat Cinta Tanah Air dan Semangat Rela Berkorban.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu

Cinta Tanah Air dan Rela Berkorban

Di Jawa Panglima Besar Jenderal Sudirman ditandu dalam keadaan sakit me­ngendalikan keamanan dan memimpin perlawanan ber­ge­rilya dari desa ke desa dan difasilitasi oleh rakyat desa. Rakyat desa bahu-mem­bahu menampung puluhan ribu prajurit bersama para pengungsi dari kejaran Ten­ta­ra Belanda. Wajarlah ka­lau Tanggal 20 Desember sehari pasca agresi kemu­dian di peringati sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial karena mulai hari itu rakyat desa yang dalam segala ke­ter­batasan membuktikan kegotong-royongannya me­ri­ngankan beban sosial seca­ra bersama-sama di saat negara membutuhkan. Hal ini terjadi serentak hampir di seluruh pedesaan di per­sa­da nusantara karena kota-kota telah jatuh ke tangan Belanda.

Baca Juga : Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan

Dari kota Bukittinggi Re­siden Mr. St. Moh.Rasjid me­­ngarahkan evakuasi be­sar-besaran ke arah Timur ka­rena “di sana sawahnya ba­nyak dan rakyatnya ra­mah” kata Rasjid. Memang ke­ arah sanalah pengungsian me­menuhi jalan raya pada sen­jakala 21 Desember me­ning­g­alkan langit “merah jing­ga” karena tindakan bu­mi­ hangus oleh TNI. Bu­kan­­kah itu merupakan pe­ngor­­banan demi cinta nega­ra?

Perlu pula dicatat bawa Kota Bukittinggi diper­siap­kan sebagai  “pangkalan cadangan” pengganti fungsi Ibukota Yogyakarta mana­ka­la Ibukota Kedua itu diduduki Belanda. Alasan yang dikemukakan dalam “memorandum Daan Yah­ya” kepada Perdana Mente­ri Bung Hatta beberapa bu­lan sebelum Yogya jatuh ada tiga macam. Pertama, loka­sinya strategis dari sudut militer. Kedua, logistik cukup tersedia. Ketiga, rak­yatnya cinta republik.

Kabinet PDRI: Kabinet Gerilya

Pukul 02.30 dinihari tanggal 22 Desember para pemimpin yang telah mem­bentuk Pemerintah Darurat di Bukittinggi berhasil mem­ben­tuk Kabinet PDRI dalam suatu rapat di Hala­ban 16 km di selatan Kota Payakumbuh. Personil Ka­bi­net PDRI itu terdiri dari:

1. Mr. Syafruddin Pra­wi­ranegara; Ketua me­rang­kap Menteri Perta­ha­nan, Pene­rangan dan Luar Nege­ri.

2. Teuku Moh. Ha­san; Wakil Ketua merang­kap Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pendidikan.

3. Mr. St. Moh. Ras­jid; Men­teri Perbu­ru­han, Pem­ba­­ngunan dan Pemuda merang­kap Komisaris Ke­ama­nan.

4. Ir. Mananti Si­tom­pul; Men­teri Pekerjaan Umum me­rangkap Menteri Kese­ha­tan.

5. Ir. Inderatjaja; Men­­teri Keuangan.

6. Mr. A. Karim; Pim­pi­nan Bank Indonesia.

7. Laksamana M. Na­zir; Kepala Staf Angkatan Laut.

8. Kolonel H Sujono; Ke­pala Staf Angkatan Uda­ra.

9. Komisaris Besar Umar Said; Kepala Polisi Ne­gara.

10. Kolonel Hidayat; Panglima Sumatera.

Pagi hari tanggal 22 De­sem­ber semua Anggota Ka­binet PDRI kecuali Mr. St. Moh. Rasjid dan Ir. Mananti Sitompul dengan seluruh rombongan berjumlah 60 orang bergerak menuju  Kewedanaan Bangkinang menghindari Belanda yang dikabarkan mendekati Kota Payakumbuh. Dari Bang­kinang hendak ke Kota Pekanbaru rombongan di­ce­gat oleh Mayor Akil me­nga­barkan Pekanbaru telah diduduki oleh musuh. Akhir­nya rombongan Kabi­net PDRI ini putar haluan ke­ kanan menuju Lipat Ka­in, Taluk Kuantan, Kili­ran Jao, Sungai Dareh, Abai Sa­ngir dan terakhir bermar­kas selama 104 hari di Naga­ri Bidar Alam Solok Sela­tan.

Sementara itu dari Hala­ban pula rombongan kedua Ir. Mananti Sitompul dan Mr. St. Moh. Rasjid yang juga merangkap Komisaris Keamanan menuju ke Koto­tinggi arah utara Payakum­buh dan bermarkas di sana sampai akhir PDRI. Dalam pergantian tahun; tiba Pang­lima Hidayat dari arah Bon­jol yang sengaja singgah dalam perjalanannya menu­ju Kutaraja. Dengan Resi­den Rasjid Kolonel Hidayat membicarakan pem­ben­tukan Pemerintahan Militer untuk Sumatera Barat dan Mr. Rasjid resmi menjadi Gubernur Militer.

Implementasi Sishankamrata & Militerisasi Pemerintahan Sipil

Ber­dasarkan mandat ini di Sumatera Barat secara ber­jenjang ditunjuk pula ja­batan Bupati Militer, We­da­na Militer dan Camat Mi­li­ter. Di nagari-nagari (seting­kat desa) sebagai basis per­ta­hanan diangkat Wali Pa­rang. Sedangkan anak nagari yang memenuhi kriteria di­re­krut menjadi anggota BP­NK (Badan Pe­nga­wal Naga­ri dan Kota). Dengan demi­kian konsep “Sishan­kam­ra­ta” benar-benar secara am­puh  me­ngen­dalikan per­jua­ngan, melindungi para pe­mimpin dan memo­bili­sa­si duku­ngan logistik bagi pa­ra pe­juang dan pengungsi yang berpangkalan di nagari-na­gari. Oleh karena itu na­ga­­ri-nagari yang dijadikan ba­sis pertahanan di Suma­te­ra Tengah menjadi ter­kenal selama Agresi Kedua; se­perti:

1. Nagari Halaban di Ka­bu­paten 50 Kota sebagai tem­­pat konsolidasi; tempat pem­­bentukan Kabinet PD­RI.

2. Nagari Bangkinang se­bagai tempat konsolidasi Rom­bongan Utama sebe­lum bergerilya di Riau dan Su­matera Barat bagian Sela­tan.

3. Nagari Bidar Alam sebagai markas utama dan terlama sepanjang garilya Kabinet PDRI; berbungsi sebagai Ibukota tempat pe­ngen­dalian perjuangan poli­tik dan militer dengan ban­tuan komunikasi radio.

4. Nagari Sumpur Ku­dus sebagai tampat Musya­wa­rah Besar PDRI yang di­ikuti oleh komponen sipil dan militer di Sumatera. Per­temuan yang berlang­sung selama sepekan ini berjalan lancar dan aman.

5. Nagari Kototinggi se­bagai markas Gubernur Mi­liter yang menjalankan pe­me­rintahan di Sumatera. Ma­lah Belanda menganggap da­ri Kototinggi inilah “Re­lu­­blik Mikrofon” diken­da­likan sehingga sempat diser­bu tanggal 10 Januari 1949. Te­tapi hasilnya nihil karena Gubernur Militer me­nying­kir ke Puar Datar dan Pesa­wat Pemancar YB­J-6 ber­hasil disem­bunyi­kan.

6. Nagari Situjuh Batur tempat diselenggarakannya rapat siasat perang. Rapat itu berhasil; tetapi sebagian pesertanya disergap karena ulah pengkhianat. Di sana­lah Ketua MPRD Chatib Sulaiman bersama bebe­rapa pemimpin gugur.

7. Nagari Matur sebagai lokasi Markas Militer Resi­men IV yang mengen­da­likan Sumatera Barat serta menghambat lajunya inter­vensi Pasukan Belanda ke pedalaman.

8. Nagari Kamang tem­pat kedudukan Bupati mili­ter Agam dan markas Radio Perjuangan yang menjadi umpan serangan Belanda dan berhasil mengelabui basis basis perjuangan vital lainnya.

Memudarnya Nasionalisme

Makin jauh bangsa ini dari masa Revolusi Fisik, terasa bahwa Rasa Nasio­nalisme itu makin menipis. Dewasa ini orang dengan mudah menuding kebo­brokan negara dan degradasi kepemimpinan. Banyak ne­ga­ra asing yang dikagumi dan pemimpin asing yang diidolakan. Sementara pe­mim­pin sendiri tidak mam­pu menempatkan diri seba­gai negarawan. Bangsa Indo­nesia telah kehilangan pe­mim­pin panutan seiring menyusutnya peran pelaku sejarah karena dimakan usia dan akhirnya wafat satu per satu. Tidak ada lagi manusia teladan pengemban nilai-nilai luhur sejarah perjua­ngan bangsa. Tidak ada lagi kisah-kisah heroik yang menginspirasi generasi mu­da; sehingga kalau pun di review kisah-kisah heroik itu menjadi mustahil karena zamannya sudah sama seka­li berbeda. Adalah konsepsi Revolusi Mental yang ber­upaya merekonstruksi ka­rak­ter bangsa agar relevan dengan cita merdeka.  Cita yang dipekikkan antara ta­hun 1954-1950 lalu. Sesu­dah itu berbeda. ***

 

Oleh:
ZULWADI DT. BGD. KALI
 

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 04 Januari 2021 - 09:37:20 WIB

    Prabowo dan Habib Rizieq

    Prabowo dan Habib Rizieq Partai Gerindra sungguh seperti berkayuh di antara dua karang dalam bersikap terhadap kasus yang dialami Habib Rizieq Sihab (HRS), Ormas dan pengikutnya sekarang ini. .
  • Kamis, 31 Desember 2020 - 20:46:02 WIB

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam

    Catatan Akhir Tahun (4): Selamat Tinggal Tahun Kelam TAHUN 2020 segera akan berakhir. Tahun 2021 segera akan tiba. "Selamat tinggal tahun 2020. Selamat tinggal tahun kelam. Selamat tinggal tahun yang penuh dengan kepahitan hidup. .
  • Senin, 28 Desember 2020 - 14:48:33 WIB

    Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu

    Catatan Akhir Tahun (2): Kita Sungguh Perlu Bersatu DARI pengalaman kita selama di tahun 2020 yang nyaris tak berhenti hidup dalam pertengkaran, hidup dalam perseteruan politik dan hukum yang berkepanjangan, sudah selayaknyalah kita mengubah pola hidup begini kepada pola hidup.
  • Ahad, 27 Desember 2020 - 21:15:22 WIB

    Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan

    Catatan Akhir Tahun(1) : Ekonomi Menyedihkan Begitu wabah Corona atau Covid-19 dinyatakan mewabah di Indonesia pada bulan Maret lalu, ekonomi langsung anjlok, karena kegiatan pasar langsung stagnan tiba-tiba. Pasar banyak yang ditutup. Mulai dari kegiatan pedagang kaki .
  • Jumat, 25 Desember 2020 - 13:51:03 WIB

    Pendukung Sandiaga Uno: Di Sana Engkau Tersenyum, di Sini Kami Menangis

    Pendukung Sandiaga Uno: Di Sana Engkau Tersenyum, di Sini Kami Menangis Sebagaimana kita ketahui, mantan Calon Wakil Presiden(Cawapres) Sandiaga Uno baru saja dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) bersama 5 orang Menteri lainnya, hasil reshuffl.
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]