Unidha Jadi Tempat Peluncuran Buku Fahmi Idris


Senin, 21 Desember 2015 - 01:47:24 WIB
Unidha Jadi Tempat Peluncuran Buku Fahmi Idris FAHMI Idris, berbicara dalam peluncuran dan bedah buku Aktivis Tiga Zaman di Kampus Unidha, Padang, Sabtu (19/12).

Buku tersebut ditulis oleh 30 sahabat Fahmi, yang menceritakan kesan mereka tentang sosok Fahmi yang merupakan politikus, pebisnis, pendidik, dan birokrat.

Rektor Unidha, Syukri Lukman menyatakan ke­banggaannya atas dipilihnya universitas yang baru ber­usia satu tahun tersebut se­bagai lokasi peluncuran dan bedah buku tokoh sekaliber Fahmi. Dipilihnya Unidha sebagai tempat untuk me­nyelenggarakan kegiatan besar itu, bermanfaat untuk pengenalan kampus.

Lima pembedah, yakni Basril Djabar, Saldi Isra, Shadiq Pasadigoe, Guspardi Gaus, dan Syafrudin Nur­din, membedah buku ter­sebut. Syafrudin, pembedah pertama, memandang Fah­mi sebagai tokoh pen­di­dikan yang belajar seumur hidup. Kiprah Fahmi dalam bidang pendidikan, Fahmi merupakan dosen di Uni­versitas Negeri Jakarta, Pem­­bina Yayasan Adabiah, de­wan penyantun Uni­ver­sitas Andalas dan seba­gainya. Dalam buku Aktivis Tiga Zaman, kiprah Fahmi sebagai pegiata pendidikan dan sosial ditulis oleh Awa­loedin Djamin, Basril Dja­bar, Syahrul Ujud, Mah­muddin Yasin, Sjafrie Sjam­soeddin, Zulfahmi Burhan, dan Muchlis R. Luddin.

Guspardi Gaus, wakil ketua DPRD Sumbar ini menilai, kelemahan buku itu adalah pengulangan in­for­masi tentang Fahmi. Ham­pir semua penulis da­lam buku ini menulis peran Fahmi dalam Angkatan 66. Hal positif dari kesan itu, bahwa semua pihak me­ngakui peran Fahmi dalam Angkata 66.

Mengenai informasi ten­tang Fahmi dalam buku itu, Guspardi belum puas. Oleh karena itu, ia berharap ada gagasan dari siapa saja, un­tuk menulis biografi Fahmi secara utuh.

Sementara itu, menurut Shadiq Pasadigoe, yang ditulis oleh sahabat-sahabat Fahmi dalam buku itu, rele­van dengan kepribadian Fahmi dan dengan yang dilakukannya selama ini, karena Shadiq sudah me­ngenal Fahmi sejak Shadiq masih mahasiswa.

Dalam buku itu, kata Shadiq, yang perlu ditiru dari sosok Fahmi sebagai biro­krat adalah, Fahmi me­lihat tan­tangan pada za­man­nya. Mi­sal­nya, saat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Trans­migrasi, saat itu buruh ingin punya serikat, Fahmi me­responnya. “Hal seperti itu perlu ditiru oleh biro­krat Sumbar. Pemimpin harus memecahkan ma­sa­lah aktual saat itu,” kata man­tan bupati Tanah Datar ini.

Kesan Shadiq terhadap Fahmi, Fahmi adalah tokoh yang namanya belum pernah tercemar, sebagai apa pun Fahmi berperan. Ia juga mendukung ha­rapan Gus­pardi bahwa per­lu ada bio­grafi untuh ten­tang Fahmi.

Basril Djabar, pemilik Harian Singgalang me­nga­takan, buku tentang Fahmi itu penting karena buku adalah sesuatu yang penting untuk ditinggalkan untuk generasi selanjutnya.

Mengenai buku itu, yang mengandung kata “aktivis” pada judulnya, kata Basril, karena memang Fahmi me­rupakan aktivis di tiga za­man, yakni orde lama, orde baru, dan orde refor­masi. Selain itu, Fahmi selalu menjadi aktivis pada bidang apa pun yang dimsukinya. Hal itu tidak mudah di­lakukan oleh orang lain.

Pembedah terakhir, Sal­di Isra, menilai, sebagai politikus, Fahmi adalah orang yang konsisten. Fahmi bertahan di Golkar saat Golkar mengalami masalah hebat pada akhir tahun 1998. Fahmi melakukan upaya kolaboratif bersama tokoh Golkar lainnya untuk mempertahankan Golkar.

“Fahmi bukan tipe orang yang jika kapal induk oleng, lalu mencari sekoci untuk menyelamatkan diri,” sebut pakar hukum tata negara dari Unand ini.

Bagi Saldi, orang yang kalah bertarung dalam po­litik, lalu pindah partai atau mendirikan partai baru, adalah orang yang tidak siap berdemokrasi.

Menanggapi penilaian dari para pembedah, Fahmi mengatakan, ia sudah me­nulis konsep buku oto­bio­gra­finya. Akan tetapi ia malu pada diri sendiri kare­na tidak percaya diri. Ter­kait pembuatan buku Ak­tivis Tiga Zaman itu saja, hampir tak jadi terbit karena Fahmi menilai buku itu berisi pujian saja. “Saya orang yang tak suka dipuji,” ucapnya.

Selama ini, Fahmi sudah menulis dua buku, yakni Saudagar Dalam Lintasan Sejarah Politik Indonesia, dan Konflik Interprestasi Konstitusi. Saat ini sedang menyiapkan dua bukunya, yakni buku tentang sumber daya manusia Indonesia dan buku tentang presiden-pre­siden Indonesia.

Menteri Tenaga Kerja dalam Kabinet Reformasi Pembangunan. Serta Men­teri Perindustrian dan Men­teri Tenaga Kerja dan Trans­migrasi pada Kabinet In­donesia Bersatu. Fahmi juga pernah terpilih menjadi anggota DPR mewakili kalangan mahasiswa, serta ketua Fraksi Golkar di MPR-RI.

Pada acara bedah buku itu turut hadir Sekdaprov Sum­bar Ali Asmar, Rektor Uni­versitas Dharma An­dalas Syukri Lukman, man­tan gubernur Sumbar Irwan Pra­yitno, Walikota Padang Mah­yeldi, Rektor Unand Tafdil Husni, mantan wakil mentri pendidikan Musliar Kasim dan sebagainya. (h/dib)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 25 Oktober 2016 - 02:06:06 WIB
    DUA TAHUN JADI UNIVERSITAS

    Unidha Tak Ingin Jadi PTS Sembarangan

    Unidha Tak Ingin Jadi PTS Sembarangan PADANG, HALUAN — Perubahan status dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi menjadi universitas pada 2014 membawa dampak positif bagi Universitas Dharma Andalas (Unidha). Pening­katan kualitas yang terus dilakukan pihak kampus berb.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]