Pengamat: Publik Jenuh dengan Pilkada


Senin, 21 Desember 2015 - 01:49:01 WIB

“Pilkada serentak me­mang sukses, tapi masya­rakat agaknya tidak antu­sias. Mungkin ada faktor X, tapi sepertinya harapan akan perubahan yang mere­ka impikan tidak terpe­nuhi,” katanya di Surabaya, Minggu (20/12).

Ia mengemukakan hal itu menanggapi dominasi petahana di Indonesia hing­ga 70 persen, namun hal itu di­ikuti penurunan parti­sipasi pemilih. Misalnya, Tri Rismaharini unggul di Sura­baya dengan 86,34 persen namun pemilih hanya 50,48 persen.

Di Banyuwangi, Ab­dullah Azwar Anas menang dengan 88,96 persen namun pemilih hanya 59,47 persen. Atau, calon tunggal di Blitar unggul dengan 84,90 persen, namun pemilih hanya 57 persen. Menurut Krisnu­gro­ho, mereka yang tidak me­milih itu bukan berarti ti­dak suka dengan petahana, na­mun mereka sudah yakin pe­ta­hana akan terpilih, tapi me­reka memilih menjadi non votter untuk menyua­ra­kan keinginan akan adanya perubahan.

“Karena itu, tantangan petahana ke depan adalah membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat. Ma­sya­rakat berharap petahana membuat program yang ber­­­pengaruh kepada mere­ka. Jadi, program petahana jangan fisik lagi, tapi pro­gram memberdayakan ma­syarakat,” katanya.

Baginya, dominasi peta­hana hingga 70 persen da­lam Pilkada serentak 2015 di seluruh Indonesia itu sesungguhnya menunjukkan kuatnya jaringan yang di­bangun para petahana sela­ma lima tahun silam. “Ka­re­na itu, mereka tak perlu su­sah payah mela­kukan pe­nge­nalan seperti calon lain, se­bab elek­tabi­litas mereka su­dah ter­ben­tuk,” katanya.

Bahkan, jaringan yang dimiliki itu dijadikan stra­tegi kampanye oleh sebagian petahana melalui sejumlah program pemerintah yang di­atasnamakan mereka. “Me­­reka sidak sebagai pe­ja­bat dan calon seka­ligus,” ka­tanya.

Tentu, hal itu tidak ber­laku untuk petahana dengan perolehan suara cukup ting­gi seperti Risma atau Anas. “Tapi, hal terpenting adalah mereka menangkap suara yang tak disuarakan untuk dijadikan program dalam kepemimpinan pe­rio­de ke­dua agar apatisme tidak semakin meningkat,” tutup Krisnugroho. (h/inl)





Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 14 November 2019 - 14:05:51 WIB

    Jaga Rahasia Anggaran Kemenhan, Pengamat: Prabowo Cerdas

    Jaga Rahasia Anggaran Kemenhan, Pengamat: Prabowo Cerdas JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing menilai Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengambil langkah cerdas dengan tidak membuka perincian anggaran Kementerian Pertahanan.
  • Selasa, 01 Oktober 2019 - 15:25:53 WIB

    Tanpa Fadli Zon - Fahri Hamzah, Pengamat: Pimpinan DPR Akan Jinak

    Tanpa Fadli Zon - Fahri Hamzah, Pengamat: Pimpinan DPR Akan Jinak JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Dua tokoh yang cukup sering mengkritik pemerintah, Fadli Zon dan Fahri Hamzah hengkang dari kepemimpinan DPR. Fahri tak maju dalam Pemilihan Legislatif 2019. Sementara itu, Ketua Umum Prabowo Subia.
  • Selasa, 16 Juli 2019 - 17:09:31 WIB

    Pengamat: Pemprov Kepri Sebaiknya Evaluasi Izin Tambang dan Reklamasi

    Pengamat: Pemprov Kepri Sebaiknya Evaluasi Izin Tambang dan Reklamasi TANJUNGPINANG, HARIANHALUAN.COM –Pemerintah Provinsi Kepri sebaiknya mengevaluasi seluruh izin yang berhubungan dengan reklamasi laut dan pertambangan. Demikian dikatakan pengamat politik dan pemerintahan, Endri Sanopaka..

BERITA TERKINI Index »

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM