Pesawat Tempur Latih TNI Jatuh, 2 Pilot Gugur


Senin, 21 Desember 2015 - 02:04:33 WIB
Pesawat Tempur Latih TNI Jatuh, 2 Pilot Gugur Dua pilot pesawat tempur latih T-50i Golden Eagle berdoa sebelum menerbangkan pesawat. (IST)

Dua dua pilot ma­sing-masing Letnan kolonel Marda Sarjono (Koman­dan skuardon XV Ma­diun) dan Back Sitter Kap­ten Dwi Cahyadi gu­gur dalam kecelakaan itu.

Pesawat meledak saat ber­sing­gungan dengan tanah, tidak meledak saat berada di udara.  “Pesawat jatuh, kami tidak melihat ledakan di udara. (Ledakan) terjadi (merupakan) impak dengan tanah sehingga terjadi kebakaran,” ujar Danlanud Adisutjipto Marsma Imran Baidirus menjawab pertanyaan wartawan di Lanud Adisutjipto Yogya­karta,  Minggu.

Ia mengatakan, kecelakaan itu terjadi setelah pesawat berma­nuver sekitar 15 menit. “Lokasi kecelakaan jauh dari permu­kiman warga,” ungkapnya.

Pesawat jatuh saat beraksi di hari kedua acara Gebyar Dirgan­tara 2015 di Lanud Adisutjipto. Pada hari pertama, semua keluar­ga Kapten Cahyadi ikut me­nonton.

“Kemarin Sabtu (19/12) se­mua keluarga nonton kecuali saya karena sedang piket,” ujar kakak Dwi, Bripka Eddy Cah­yono di rumah duka, Minggu.

Eddy mengatakan, saat meng­hadiri acara pada hari pertama itu, keluarga Kapten Dwi sempat berfoto bersama di depan pesawat Golden Eagle yang jatuh.

 “Bapak malah diajak naik ke kokpit. Beliau mau,” ujarnya.

Menurutnya, Dwi meru­pakan orang pendiam dan cerdas. “Wak­tu SMP 9 ranking 1 terus, di Karbol juga lima besar, terus bisa jadi penerbang,” papar Eddy.

Eddy juga menceritakan adik­nya yang ingin terbang di atas rumahnya di Sleman.

Saat ini jenazah Dwi sudah berada di rumah duka, Jalan Kepuhsari 17, Maguwoharjo, Sleman. Rencananya jenazah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogya­karta, Senin (21/12).

Ibu Kapten Dwi Cahyadi, Bonirah, tampak berusaha tegar menerima pelayat yang terus berdatangan ke rumah duka di Sleman. Niatnya untuk menon­ton atraksi terbang Dwi pupus dan berganti duka.

Dia tak menyangka canda riang yang dirasakan sehari sebe­lum­nya bersama Dwi dan keluarga berganti duka begitu cepat. Bonirah mengatakan Dwi sempat mengatakan berencana sekolah di Jerman.

Pria yang baru saja naik pangkat April ini meninggalkan dua orang anak berusia 5 tahun dan 3 tahun.

Sejak kecil, Dwi memang bercita-cita menjadi penerbang. “Pas kecil memang cita-citanya jadi penerbang. Suka gambar-gambar pesawat,” tutupnya sambil menahan tangis.

Tergolong Baru

Pesawat nahas itu tergolong baru. Pemerintah Indonesia memutuskan untuk membeli pesawat produksi Korean Aero Industries itu pada 2010.

Indonesia membeli 16 pe­sawat T-50i Golden Eagle yang kemudian datang ke tanah air secara bertahap sejak September 2013. Pesawat terakhir tiba di Indonesia pada Februari 2014.

Penyerahan dilakukan di Pangkalan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (13/2/2014).

Presiden waktu itu, Susilo Bambang Yudhoyono, menyak­sikan langsung penyerahan 16 unit pesawat tempur ringan terse­but. SBY bahkan sempat menjajal dengan naik kokpit pesawat tersebut.

Pesawat latih ini memiliki panjang 43 kaki, lebar sayap 31 kaki dan tinggi 16 kaki.

Dengan total kapasitas angkut persenjataan 5 ton, pesawat ini dilengkapi dengan kanon gatling internal 3 laras General Dyna­mics 20mm. Dengan spesifikasi ini, pesawat tempur T-50i mampu menyemburkan 2.000 peluru per menit.

“Sebagai pesawat tempur, T-50i memiliki kelincahan, keprak­tisan, dan kemampuan persen­jataan untuk digunakan dalam misi multirole. Sanggup bertempur di udara dan cukup mematikan terhadap sasaran bawah,” kata Kadispen TNI kala itu Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto dalam keterangannya, Kamis, 13 Februari 2014 lalu.

Pesawat ini mampu memba­wa semua jenis bom, rudal, maupun roket. Rencananya T-50i akan dilengkapi dengan radar udara sehingga mampu me­ngubah misi dari latih jet menjadi semua misi operasi.

Dengan mesin General Electric F404-GE-102, pesawat T-50i mampu menghasilkan daya dorong 17.700 poinds dengan after burner dan 11.000 pounds dengan tenaga mil power. Pesawat ini bisa mencapai kecepatan maksimal 1,5 kali kecepatan suara atau 1.600 km/jam. Pesawat supersonik ini bisa terbang hingga ketinggian maksimal 55.000 kaki.

Kadispen TNI AU, Marsekal Pertama Dwi Badarmanto di gedung Suma III, Halim Per­danakusuma, Jakarta Timur, kemarin mengatakan belum ada kebijakan dari pimpinan TNI terkait T-50i Golden Eagle. Namun, dijelaskannya, semua yang terkait mesti menunggu hasil penyelidikan tim investigasi.

Terkait pilot tidak menggu­nakan kursi lontar, Dwi Badar­manto mengatakan hal tersebut masih dalam penyelidikan yang dilakukan tim investigasi. (h/dtc/met)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]