Sejumlah Panti Sosial Masih Kekurangan Sarpras


Rabu, 23 Desember 2015 - 03:07:31 WIB
Sejumlah Panti Sosial Masih Kekurangan Sarpras

Hal ini disampaikan oleh kalangan DPRD me­nanggapi masih banyaknya kekurangan sarana dan pra­sarana (sarpras) yang dia­lami panti sosial.

Sekaitan dengan ini, pa­da reses yang dilakukan anggota DPRD Sumbar Da­erah Pemilihan (Dapil) I, Kota Padang  pada se­jum­lah panti di daerah ini, Se­lasa (22/12), diketahui, kekurangan infrastruktur dan kebutuhan sehari-hari masih  menjadi momok yang menghantui panti-pan­ti yang ada di bawah binaan Dinas Sosial Provinsi Sum­bar.

“Untuk sejumlah panti yang ada di bawah naungan dinas sosial, tanggungja­wabnya ada pada peme­rintah. Dalam hal ini, pe­merintah jangan mau kalah dari pihak swasta dalam membina panti. Sebab se­karang telah banyak juga pihak swasta yang me­nge­lola atau melakukan pem­binaan atas panti de­ngan sarana yang memadai. Kita harus malu dengan semua  itu,” kata anggota Komisi III DPRD Sumbar, Albert Hen­dra Lukman yang ber­asal dari Dapil I Padang.

Pada kunjungan rom­bongan Dapil I Padang di dua panti sosial yang dila­kukan hari itu, diketahui, persoalan sarana dan pra­sarana masih banyak dia­lami. Kemudian biaya ke­butuhan harian yang dibe­rikan untuk setiap anak terbilang sangat kecil.

Salah satunya terjadi di Panti Sosial Bina Grahita Harapan Ibu, Padang. Dari paparan yang disampaikan Kasi Pelayanan dan Pe­ngawasan Panti Bina Gra­hita, Sayarni, disebutkan, meski telah operasional sejak tahun 1981 lalu, panti sosial ini sama sekali belum memiliki asrama put­ri. Pa­dahal anak asuh perem­puan yang mereka miliki men­capai 50 orang.

“Total anak asuh yang kami miliki ada 100 orang, 50 putra dan 50 orang lagi putri. Untuk ini kami baru memiliki asrama putra, un­tuk asrama putri kami ma­sih menumpang pada ba­ngunan yang terletak di lingkungan masyarakat. Dan itu berada di luar ling­ku­ngan panti ini,” ujarnya.

Dikatakan Sayarni lagi, kondisi ini sangat meng­khawatirkan untuk anak asuh yang ada di sana. Se­bab, jika sampai petugas yang menjaga lengah sedikit saja, keselamatan anak-anak bisa terancam.

“Bangunan tempat ting­gal sementara yang digu­nakan tersebut juga berada di pinggir jalan, kami was-was  saat petugas lengah atau tak ada, anak bermain ke luar dan itu bisa menye­babkan kecelakaan,”  ucap­nya.

Selain tidak memiliki asrama putri, menurut dia Panti Bina Grahita juga kurang dalam hal keter­cukupan peralatan terapi anak asuh yang notabene memiliki keterbelakangan mental ini. Kemudian, satu-satunya gedung aula yang dimiliki panti ini memiliki atap yang bolong-bolong karena telah termakan usia.

“Tak hanya itu pak, un­tuk persoalan biaya sehari-hari, jatah yang diberikan untuk setiap anaknya masih terbilang kecil. Satu anak mendapat Rp27.500 sehari, itu tiga kali makan dan juga untuk mencukupi kebu­tuhan nutrisi mereka akan sayuran dan yang lain,” ka­tanya.

Hal yang tak jauh ber­beda juga diungkapkan oleh pihak Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Tuah Sakato yang berlokasi tak jauh dari Panti Bina Grahita. Pim­pinan PSBN Tuah Sakato, Heni Yunida  menyebut­kan, akibat gempa 2009 lalu, bangunan di tempat mereka banyak yang rusak, dan, belum kunjung diperbaiki hingga sekarang.

“Bangunan seperti kan­tor perpustakaan dan ruang kelas yang ada di sini banyak yang retak akibat gempa 2009 lalu, kami khawatir jika ini dibiarkan akan mem­bahayakan bagi anak-anak yang ada di sini.  

“Dengan kedatangan ba­pak-bapak dari DPRD ke sini, diharapkan ada per­hatian untuk mengatasi persoalan infrastruktur yang rusak akibat gempa ini,” ucap Yunida di depan Ketua Rombongan Reses, Apris Yaman, dan anggota DPRD Dapil I Padang lain, Hidayat, Yuliarman, Su­wirpen Suib, Rahmad Saleh, dan Albert Hendra Lukman.

Menanggapi ini ketua rombongan dari DPRD, Apris Yaman menuturkan, kunjungan hari itu ber­tujuan untuk menyerap as­pirasi yang ada di tengah mayarakat. (h/mg-len)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]