Jantungan Saat Sidang, Terdakwa Meninggal


Rabu, 23 Desember 2015 - 03:18:51 WIB
Jantungan Saat Sidang, Terdakwa Meninggal

Diduga Wakwaik jantu­ngan (terserang penyakit jantung-red) saat menjalani sidang pertama, mende­ngarkan pembacaan dak­waan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Hasil itu diperkuat oleh keterangan Dokter RSUD Lubuk­sika­ping, dr. Vera Juita Mulya, yang menangani pasien. “Pasien tiba di ruang IGD, sekitar pukul 12.00 WIB siang. Hasil peme­riksaan UKG, masih ada nafas. Pertolongan pun dilakukan, dikasih oksigen, diberi ban­tuan kejut jantung namun akhirnya nyawanya tidak terto­long,” ujar dr Vera.

 Ia menyebutkan, pena­nga­nan medis terhadap kor­ban sudah dilakukan se­maksimal mungkin. Pa­sien meninggal sekitar pukul 13.00 WIB. Pihak RSUD juga telah menyerahkan surat kematian ter­dak­wa kepada pihak terkait.

Baca Juga : Angka Kematian Karena Covid-19 di Sumbar Mencapai 2,22 %

Penuturan Jaksa Pe­nun­tut Umum (JPU) Rudi Mul­­yan­dri, menyebutkan, kasus Wakwaik terpaksa dihentikan demi hukum. Sebelumnya, dalam tun­tutan yang dibacakan JPU, Wakwaik dike­nakan pasal 76 e jo 82 ayat (1) Undang Undang Nomor 35 tahun  2014, tentang perubahan atas Un­dang Undang No­mor 23 tahun 2003 tentang perlindungan anak, dengan ancaman 15 tahun penjara.

“Mungkin dia syok, pa­nik dan malu, sehingga me­micu terjadinya serangan jantung ini. Hanya saja, sebelum persidangan di­mulai, hakim telah me­na­nyakan ke ter­dak­wa menge­nai kesehatan, dan terdakwa menjawab masih dalam ke­adaan sehat,” ujar Rudi.

Baca Juga : Angka Kesembuham Covid-19 di Sumbar Mencapai 91,89 %

Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Lubuksikaping, Jo­pan, menam­bahkan, dari keterangan JPU, Wakwaik telah mengikuti pem­bacaan dakwaan JPU. Namun, ke­tika akan dihadirkan saksi dalam kasus itu, saksi yang masih anak-anak itu takut karena wakwaik berada dalam ruangan itu.

Oleh karena itu, atas pertim­bangan permintaan saksi, hakim akhirnya me­minta terdakwa Wak­waik untuk dipindahkan dari ruangan sidang. Saat sampai di pintu, Wakwaik tiba-tiba terjatuh dengan posisi terte­lentang. Saking kuatnya benturan yang terjadi, se­hing­ga gigi Wakwaik yang goyah pun tercabut di TKP.

Baca Juga : Pasien Positif Covid-19 di Sumbar Bertambah 34 Orang

“Awalnya kami mengira, itu akal-akalan saja, mata­nya terbe­lalak. Tetapi ketika kami coba membantu ter­dak­wa berdiri, me­mang terdakwa tidak bisa lagi berdiri. Akhirnya, terdakwa dilari­kan ke RSUD dan ditangani oleh tim dokter,” terang Jopan.

Sampai akhirnya, seki­tar pukul 13.00 WIB, dok­ter yang me­nangani pasien menyatakan bahwa ter­dak­wa telah menghembuskan nafas terakhirnya. Seperti di­beritakan sebelumnya, Wakwaik didakwa JPU da­lam kasus per­buatan cabul terhadap anak diba­wah umur (so­domi), pada Sep­tember 2015, di kampung Taran­dam, Jorong Kam­pung Jambak, Nagari Gang­go Hilia Kecamatan Bonjol Kabupaten Pasaman. Kor­ban dari perbuatan Wak­waik diketahui berinisial GR (8) dan MF (12). Ke­dua­nya meru­pakan warga sekampung dengan tersangka pelaku pencabulan itu. Para korban tercatat sebagai pe­lajar di salah satu sekolah dasar di daerah itu.

Baca Juga : Ayo Jaga 5M! Jangan Main-main Soal Covid-19

Kini, jasad Wakwaik di­serah­kan ke Dinas Sosial untuk pema­kaman karena tidak ada se­orang­pun pihak keluarga ditempat Wak­waik tinggal yang mengakui ang­gota keluarga. “Pak Wak­waik ini pen­datang di kam­pung kami, sampai saat ini tidak diketahui dimana kam­pung asli Pak Wakwaik, dia hanya menumpang saja disini. Setiap hari, Pak Wak­waik ini berbahasa Man­dai­ling,” ujar Jek, warga Kam­pung Jambak Ganggo Hilia, Bonjol. (h/col)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]