Padang Krisis Air


Selasa, 29 Desember 2015 - 03:43:29 WIB
Padang Krisis Air

Yang menyebut Padang krisis air itu adalah Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU/PR) Firdaus Ali. Menurutnya, penyebab krisis air tersebut adalah tekstur tanah yang kasar, pemanasan global yang menyebabkan sering terjadinya bencana iklim, serta kesadaran ramah lingkungan masyarakat yang tergolong rendah. Akibat krisis air ini pemenuhan kebutuhan air bagi 1,1 juta warga Kota Padang oleh PDAM sulit dipenuhi.

Warga Kota Padang yang mendengar info bahwa Padang krisis air, sebagian di antaranya tentu kaget  dan khawatir jika itu benar-benar terjadi. Karena air adalah kebutuhan vital masyarakat dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Sedangkan sebagian orang lainnya tentu heran dan merasa aneh. Mereka berpikir mustahil Kota Padang akan krisis air, sepanjang PDAM Kota Padang bekerja optimal mengelola sumber-sumber air yang tersebar di Kota Padang dengan sentuhan teknologi tentunya.

Rasa-rasanya memang kurang logis jika Padang akan krisis air dengan kondisi dan perkembangan lingkungan yang masih seperti sekarang. Yang barangkali terjadi adalah Padang krisis layanan air. Itu terjadi bila PDAM Kota Padang minim melalukan inovasi-inovasi terhadap sumber air dengan segala sistem pendistribusiannya. Soalnya sudah jamak hari-hari masyarakat menge­luhkan layanan PDAM Kota Padang. Ada pelanggan yang mengeluhkan air ke rumahnya hanya mengalir pada tengah malam saja dan bahkan ada pula yang mengeluhkan air mati tetapi meteran tetap jalan. Berikutnya ada pula yang mengeluhkan air ke rumahnya mati berhari-hari.

Persoalannya barangkali tidak pada ketersediaan sumber air, tetapi pada kemampuan PDAM Kota Padang mengelola sumber air tersebut dan kemam­puannya mendistribusikannya kepada para konsumen atau pelanggan. Persoalan sumber air, secara kasat mata dapat dilihat bahwa Padang cukup banyak memiliki sumber air yang bisa diolah dan kelola oleh PDAM.

Lebih 60% dari luas keseluruhan Kota Padang yang 694,96 km², atau sekitar ± 434,63 km² merupakan daerah perbukitan yang ditutupi hutan lindung yang masih terjaga kondisinya, sementara selebihnya merupakan daerah efektif perkotaan. Dapat dilihat pada belahan timur Kota Padang tampak perbukitan-perbukitan hijau yang tentunya menjadi sumber air.

Faktanya Kota Padang juga dilalui oleh banyak aliran sungai besar maupun kecil yang terbagi dalam 6 Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS Air Dingin, DAS Air Timbalun, DAS Batang Arau, DAS Batang Kandis, DAS Batang Kuranji, dan DAS Sungai Pisang. Terdapat tidak kurang dari 23 aliran sungai yang mengalir di wilayah Kota Padang dengan total panjang mencapai 155,4 km (10 sungai besar dan 13 sungai kecil).

Di sisi lain Kota Padang termasuk daerah dengan curah hujan tertinggi. Tingkat curah hujan Kota Padang mencapai rata-rata 405,58 mm per bulan dengan rata-rata hari hujan 17 hari per bulan. Bahkan, karena tingginya curah hujan di daerah ini membuat Kota Padang cukup rawan terhadap banjir. Pada November 1986 tercatat dalam rekor MURI sebagai kota dengan tingkat curah hujan yang tinggi yaitu 5.254 mm.

Meski Kota Padang kaya dengan sumber air, namun bu­kan berarti masyarakat boleh boros dalam peng­gu­naan air. Masyarakat juga mesti turut serta menjaga ke­lestarian hutan dan menjaga kebersihan sungai agar ti­dak tercemar oleh sampah dan zat-zat kimia lainnya. **

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]