Kualitas Pupuk Subsidi PIM Dilaporkan Rendah


Rabu, 30 Desember 2015 - 02:55:16 WIB

Sejumlah persoalan itu mengemuka saat dilak­sana­kan rapat Komisi Penga­wasan Pupuk dan Pestisida (KP3) di aula pertemuan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pasaman, Selasa (28/12) kemarin.

Kepala Penjualan Wi­layah PT PIM Provinsi Su­ma­tera Barat, Muhammad Safik Chandra mengaku baru mengetahui adanya per­ma­sa­lahan rendahnya kualitas pupuk subsidi yang di­pro­duksi oleh pihak pe­ru­sahaan. Ia mengaku, baru kali ini adanya laporan ren­dah­nya kualitas pupuk subsidi itu.

“Memang ada keluhan yang dikemukakan oleh Camat Panti, Jon Wilmar, bahwa ia mengaku telah menguji bahwa kualitas pupuk subsidi di­pro­duksi PT PIM rendah kualitas dibanding pupuk non subsidi lainnya,” kata M. Safik Chandra, kemarin.

Ia menjelaskan, takaran pu­puk sudah ada sebagaimana ter­tera pada karung. Namun jika ada laporan rendah kualitas, ia ber­janji akan melakukan penelitian ter­lebih dahulu. “Kami mem­pro­duksi pupuk itu kan sudah ada Stan­dar Nasional Indonesia (SNI).

Jadi, kalau memang dite­mu­kan berbeda, kita akan ambil sampel untuk uji labor dulu, kita akan turun ke lapangan untuk mencari sampelnya,” ujarnya.

M. Safik Chandra men­yebut­kan, harga subsidi dengan harga non subsidi, lebih terjangkau. Sehingga disinyalir ada pihak-pihak yang menyalahgunakan. Oleh karena itu, untuk mem­be­da­kan pupuk subsidi dengan non subsidi, diberi­lah warna pink untuk pupuk sub­si­di. “ Petani yang berhak men­dapatkan pupuk subsidi ini, perlu dikawal juga, bahwa petani yang boleh men­dapatkan pupuk subsidi adalah yang memiliki kebun di bawah 2 hektare,” pungkasnya.

Ia menangkal kalau terjadi kelangkaan pupuk di tingkat masyarakat karena laporan dari pemerintah Kabupaten Pasaman, pupuk subsidi malah tidak di­mi­nati. Karena pada laporannya, lemahnya daya beli petani se­hingga modal pengecer tersendat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasaman, Nas­run,  merinci permasalahan yang terjadi untuk pupuk dan pestisida tahun 2015, yaitu ada delapan poin. Pertama, masih banyak ditemui di lapangan kios pengecer resmi yang belum tertib administrasi, seperti surat izin usaha yang belum di­per­baharui, tidak adanya bukti pen­jualan, plank merk dan plank harga HET tidak dipasang.

Permasalah lainnya, lemah­nya daya beli petani sehingga modal pengecer tersendat, pen­yu­sunan RDKK belum se­pe­nuh­nya riil di lapangan, pupuk tidak tersedia pada saat di­butuhkan. Dari hasil survei lapangan, pupuk PT Petrokimia sering datang terlambat, masih ada kios yang menjual pupuk subsidi di atas harga HET.

Per­masalahan lainnya adalah la­po­ran penyaluran pupuk sub­sidi sering terlambat dari distri­butor sehingga sulit dilakukan mo­nito­ring, masih banyak kios yang me­num­puk pupuk subsidi di pasar-pasar yang bukan wila­yah penya­lurannya, dan masih adanya kios penjualan pupuk di luar wilayah kerja. (h/col)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]