Napi Kabur, Petugas Lapas Bukittinggi Terancam Dimutasi


Senin, 04 Januari 2016 - 03:33:09 WIB
Napi Kabur, Petugas Lapas Bukittinggi Terancam Dimutasi

Kepala Kantor Kanwil Ke­menkum dan HAM Sum­bar Anssaruddin kepa­da Haluan Minggu (3/1) mengatakan akan melaku­kan evaluasi di seluruh La­pas dan (Rumah Tahanan) Rutan yang ada di Sumbar terkait dengan seringnya tahanan kabur. Evaluasi ini nantinya bisa saja ber­dam­pak kepada mutasi pega­wai Lapas dan Rutan yang ada di Sumbar.

“Kalau kita menyalah­kan Lapas over capacity itu hampir seluruh Lapas di Indonesia mengalaminya. Saya rasa ini manajemennya yang salah. Jadi, harus dibe­nahi,” ungkapnya.

Baca Juga : Yozarwardi: Perhutanan Sosial Solusi Kurangi Konflik Kehutanan di Dharmasraya

Kaburnya tahanan ini kata Anssarudin  tidak ter­le­pas dari manajemen Lapas yang tidak pernah ada pembaharuan seperti itu saja dari dulunya sehingga adanya kejenuhan dan kelalaian.

“Seperti di Lapas Biaro Bu­kittinggi. Ini bukan kasus perta­ma kaburnya tahanan bahkan ini sudah beberapa kali. Ini tentu ada yang salah di dalamnya kenapa bisa begitu. Ini yang nantinya akan kita evaluasi,” terangnya.

Baca Juga : Pemkab Pessel Wajibkan Aktivitas Galian C Kantongi Izin Operasi

Desain Lapas Biaro juga dikeluhkan Anssarudin. Menu­rut­nya desain bangunan Lapas saat ini yang berbelok-belok memungkinkan tidak semua blok Lapas terpantau oleh petugas jaga. Kondisi ini bisa saja diman­faatkan tahanan untuk kabur.

“Ini akan kita renovasi se­hingga memudahkan petugas nantinya. Kalau sekarang untuk antisipasi setiap siku blok itu kita tempatkan petugas jaga,” ung­kapnya.

Baca Juga : Sejumlah Pejabat di Kabupaten Pesisir Selatan Batal Divaksin

Sementara itu Kasubid Ke­amanan Divisi PAS Kanwil Ke­men­kum dan HAM Rifan me­ngatakan, pihaknya berkoor­dinasi dengan pihak Kepolisian masih melakukan pengejaran terhadap lima tahanan yang kabur tersebut. Diperkirakan tahanan tersebut telah berada di luar Sumbar.

“Ini sudah beberapa hari semenjak mereka kabur, kita dengan tim masih melakukan pengejaran. Kita akan terus ber­koordinasi dengan pihak Kepo­lisian untuk menangkap kembali para tahanan ini,” ujarnya.

Baca Juga : Kesembuhan Pasien Covid-19 di Sumbar Bertambah 158 Kasus, Didominasi dari Kota Padang

Seperti diberitakan sebe­lumnya, lima narapidana (napi) Lapas Klas IIA Bukittinggi kabur sekitar pukul 03.30 WIB, Rabu (30/12). Rata-rata kelima napi yang kabur ini divonis 15 tahun penjara dalam kasus narkotika. Diduga kelima napi ini kabur dengan memanfaatkan kele­nga­han petugas yang jaga malam, apalagi cuaca di saat kejadian sedang hujan lebat disertai angin kencang.

Kapolsek IV Angkek Can­duang Iptu Roni AZ mengatakan, kelima napi itu kabur dengan cara menggergaji grendel pintu dengan menggunakan gergaji besi di Kamar V Blok C atau Blok Melati. Setelah itu, para napi lalu memanjat pagar berduri blok dan selanjutnya memanjat tembok pagar Lapas dengan menggu­nakan kain sarung yang disam­bung. Belum diketahui darimana para napi itu mendapatkan ger­gaji besi tersebut.

Lima napi yang kabur itu adalah Zainal Abidin panggilan Zainal alias Adnan, umur 33 tahun, alamat terakhir Desa SP Seumirah Kecamatan Nisam (antara Kabupaten Aceh Utara dengan Lhokseumawe NAD). Zainal Abidin melanggar UU Narkotika No.35 tahun 2009 dengan nomor putusan : 03/PID.B/2013/PN.PYK tanggal 6 Mei 2013 dengan lama pidana 15 tahun penjara dan denda Rp1 miliar, subsider satu bulan, de­ngan ekspirasi (masa tahanan) tanggal 21 September 2027.

Napi selanjutnya adalah Eria Ananda Caniago panggilan Kan­dung, umur 37 tahun, alamat terakhir Kampung Jawa Keca­matan Tanjung Harapan Solok. Eria Ananda Caniago melanggar UU Narkotika No.35 tahun 2009 dengan nomor putusan : 67/PID.B/2011/PN.MDL tanggal 21 Juni 2011 dengan lama pidana 15 tahun penjara dan denda Rp1 miliar, subsider lima bulan, dengan ekspirasi tanggal 22 Desember 2025.

Ketiga, Hari Dasmanto pang­gilan Hari alias Bule, umur 24 tahun, lamat terakhir Seberang Padang Jalan Jerong Kelurahan Seberang Padang Kecamatan Padang Selatan Kota Padang. Heri Dasmanto melanggar UU Narkotika No.35 tahun 2009 dengan nomor putusan : 1.295/PID.B/2013/PN.PDG tanggal 10 Juli 2013 dengan lama pidana 4 tahun penjara dan denda Rp800 juta, subsider dua bulan, serta nomor putusan : 311/Pid.B/2014/PN.PDG tanggal 9 Sep­tember 2014 dengan lama pidana 5 tahun 6 bulan penjara dengan denda Rp1 miliar, subsider tiga bulan, dengan ekspirasi 19 Sep­tember 2022.

Kemudian, Ali Murtala pang­gilan Ali, umur 21 tahun, alamat terakhir Desa Binje Kecamatan Nisam Kabupaten Aceh Utara NAD. Ali Murtala melanggar UU Narkotika No.35 tahun 2009 dengan nomor putusan : 85/Pid.Sus/2014/PN.TJP dengan lama pidana 15 tahun penjara dan denda Rp1 miliar, subsider satu bulan, dengan ekspirasi tanggal 17 September 2029.

Terakhir, Febrika Jondra panggilan Eka, umur 25 tahun, alamat terakhir Batu Nadua Desa Abtu Sondet Kecamatan Batahan Kabupaten Pasaman Barat. Fe­brika Jondra melanggar UU Nar­kotika No.35 tahun 2009 dengan lama pidana 10 tahun penjara dan denda Rp1 miliar, subsider enam bulan, dengan ekspirasi tanggal 19 Oktober 2023.

Kalapas Klas IIA Bukit­tinggi, Tomy K mengatakan, saat keja­dian ada tujuh petugas yang sedang menjaga tahanan, dua di antaranya pada bagian depan, sementara lima lainnya berada di bagian belakang.

Dalam dua bulan terakhir, Lapas Klas IIA Bukittinggi telah mengalami tiga kali kejadian napi dan tahanan kabur. Sebe­lum­nya, seorang tahanan Lapas Klas IIA Bukittinggi sukses melarikan diri setelah mendo­rong sipir sekitar pukul 18.15 WIB pada Kamis 12 November 2015.

Tahanan yang kabur itu  adalah Waldisis, warga Kubang Putih Kabupaten Agam. Waldisis sendiri ditangkap Polres Bukit­tinggi pada 4 Mei 2015 dalam kasus narkoba dengan barang bukti 20 gram sabu. Saat kabur, Waldisis masih berstatus tahanan kejaksaan yang dititipkan di Lapas Klas IIA Bukittinggi, karena yang bersangkutan masih dalam proses persidangan.

Sementara pada Sabtu 7 No­vember 2015 lalu, dua Napi Lapas Klas IIA Bukittinggi juga melarikan diri dengan cara me­lompat tembok setinggi 2,5 meter sekitar pukul 05.30 WIB.

Kedua Andika (30), warga By Pass Kecamatan Mandiangin Koto Selayan Bukittinggi yang menghuni Blok A, serta Alpen Adri (31) yang mendekam di Blok D. Sebelumnya, kedua taha­nan itu ditangkap dalam kasus pencurian.

Kondisi Lapas Klas IIA Bu­kit­tinggi yang berada di kawasan Biaro ini boleh dikatakan sudah over capacity, atau jumlah napi dan tahanan telah melebihi ka­pasitas Lapas. Saat ini, lebih dari 300 orang yang mendekam di Lapas Klass IIA Bukittinggi, sementara daya tampung atau kapasitas Lapas Klas IIA Bu­kittinggi hanya berjumlah 242 orang. (h/mg-isr)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]