Hidupkan Kembali GBHN

Hadapi Rakernas, DPP PDIP Temui PP Muhammadiyah


Sabtu, 09 Januari 2016 - 03:04:55 WIB

Sekjen PDIP Hasto Kris­­ti­yanto hadir di Kantor PP Muhammadiyah, Jumat (8/1) didampingi Wakil Sek­­jen PDIP Ahmad Ba­sa­rah, Ke­tua DPP PDIP Ham­ka Haq, Ketua DPP PDIP Bidang Pemenangan Pemilu Bam­bang DH, dan Anggota DPR Erwin Moeslimin Si­nga­juru dan Falah Amru. Se­mentara Ketua PP Mu­ham­madiyah Haedar Nashir me­nerima rombongan PDIP di­dam­pingi Abdul Mu’ti, Muha­djir Effendy, Busyro Mu­qod­das, Da­dang Kahmad dan Suyat­no.

Hasto mengawali dia­log de­ngan mengatakan bahwa PD­IP menganggap Muham­ma­diyah sebagai salah satu ke­kuatan bangsa Indonesia yang memainkan peranan pen­ting dalam seja­rah per­jua­ngan dan mengisi kemer­de­kaan Indonesia, apalagi Bung Karno juga kader dan per­nah menjadi Pengurus Mu­hammadiyah di Beng­ku­lu.

Ahmad Basarah me­nyam­­bung dialog dengan mengatakan PDIP mengajak Muhammadiyah untuk ber­sama-sama merekonstruksi sistem bernegara Indonesia kembali seperti maksud para pendiri bangsa.

“PDIP menilai saat ini bangsa Indonesia tidak lagi memiliki visi haluan negara karena GBHN sudah di­hi­lang­kan sebagai dokumen road map pembangunan semesta berencana bangsa Indonesia seperti yang pada era 1960 Presiden Soekarno bersama MPRS menyusun TAP MPRS No II/MPRS/1960 tentang Pedoman Pe­lak­sanaan Pembangunan Nasional Semesta Beren­cana Tahap Pertama 1961-1969,” papar Basarah.

Hasto melanjutkan bah­wa tema Pembangunan Na­sio­­­nal Semesta Berencana (PN­­SB) bukanlah substansi yang mudah untuk dipahami dan dijelaskan. Sehingga Ke­tua Umum PDIP Mega­wa­ti Soe­karnoputri menga­rah­kan ke­pada DPP PDIP un­tuk me­lakukan perte­muan de­ngan berbagai kom­po­nen bang­sa dalam upaya me­ngem­balikan sesuatu yang hi­lang dari se­jarah ber­bang­sa.

Atas ajakan itu, Haedar me­­nanggapi dengan menga­ta­­kan Muhammadiyah me­nyam­­but baik rencana dan apre­siasi tema rakernas PD­IP karena hal tersebut se­suai dengan sikap PP Mu­ham­madiyah yang me­nilai bah­wa bangsa In­do­nesia per­lu memiliki kem­bali PN­SB dan Garis-garis Be­sar Ha­luan Negara (GB­HN).

“PP Muhammadiyah me­­nyam­but kehadiran un­sur DPP PDIP ini. Kami punya hubungan strategis dengan PDIP karena nyam­bung, sama-sama bertemu pada titik pemikiran Bung Karno,” jelas Haedar.

Haedar menceritakan kisah bagaimana suatu saat Bung Karno pernah bertanya dan heran karena setelah dirinya jadi Presiden tidak pernah ditagih iuran ang­gota Muhammadiyah.

Haedar mengatakan Mu­­­­ham­madiyah siap untuk mem­berikan sumbang sa­ran pe­mikiran terhadap PDIP sebagai Partai Ter­besar di MPR dan DPR apa­bila ingin melakukan ka­jian aka­demis terhadap ke­­mung­kinan dila­ku­kan­nya aman­demen UUD Ne­­ga­ra RI 1945 untuk me­rekontruksi pembangunan na­sional me­la­lui GBHN/PN­SB dengan cara mem­be­rikan kewe­na­ngan MPR un­tuk kembali dapat me­nyusun dan mene­tapkan GBHN/PNSB.

Haedar menjelaskan da­lam muktamar Muham­ma­di­yah beberapa waktu lalu me­nelurkan Dokumen Ne­ga­­ra Pancasila. Dia juga men­jelaskan sejumlah pakar Mu­hammadiyah juga mela­ku­kan penelaahan dan mem­­bukukan Indonesia Ber­­kemajuan, Rekonstruksi Ke­­hidupan Kebangsaan yang Bermakna dan Revi­ta­lisasi Visi dan Karakter Bang­sa. Buku-buku tersebut di­­serahkan Haedar kepada Has­to di akhir pertemuan. Se­mentara Hasto me­nye­rah­kan buku Di Bawah Ben­de­ra Revolusi, buku Sarinah dan buku Gerak Sejarah Partai Banteng.

“Kami merasakan ada sesuatu yang hilang dalam perkembangan politik Indo­nesia setelah era reformasi meskipun ada juga sejumlah hal yang positif,” kata Hae­dar. (h/inl)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]