Warga Jangan Khawatir Masukan Anak ke Pesantren di Sumbar


Selasa, 19 Januari 2016 - 03:57:57 WIB

Derasnya dekadensi moral akibat pengaruh glo­bal menyebabkan para orang tua muslim ba­nyak yang memasukan anaknya ke pondok pe­santren atau sekolah agama Islam yang se­jenis. Tujuan agar buah hatinya memiliki modal dasar ilmu dan pengetahuan yang memadai tentang agama Islam. Setidaknya, pendidikan pondok pesantren diberikan selama tiga  tahun yakni saat usia pendidikan yang selevel dengan SLTP/SMP atau tsanawiyah. Setelah itu si anak kembali disekolahkan ke sekolah  umum, seperti SMA/SMK atau yang sejenis.

Namun sejak beberapa tahun belakangan, keinginan para orang tua muslim untuk mendidik anaknya di pondok pesantren mengalami sedikit kendala pikiran yang terkadang cukup mengganggu. Pasalnya ada­lah, beberapa kelompok garis keras Islam yang diduga terlibat dalam jaringan teroris disebut-sebut memiliki afiliasi kepada pondok pe­santren tertentu. Meskipun belum ada satu pun pondok pesantren dan sekolah-sekolah Islam di Sumbar yang terdeteksi demikian, namun tak dapat dipungkiri, sebagian orang tua memiliki rasa kecemasan soal itu.

Karenanya, sangat penting statemen Kapol­da Sumbar Brigjen Pol. Drs. Basarudin SH MH yang secara lugas menyampaikan bahwa tidak ada satu pun pondok pesantren dan perguruan Islam di Sumbar yang ter­indikasi memiliki hubungan dengan kelompok ISIS. Karena itu menurut Kapolda, para orang tua tidak  perlu cemas mendidik anaknya di pesantren-pesantren. Brigjen Pol Basarudin meyakini seluruh pesantren di Sumbar bebas dari pengaruh ISIS Islamic of State Iran and Syria (ISIS). Menurut Basarudin, dia telah menurunkan para Babin Kamtibmas ke seluruh lapisan masyarakat dan hingga saat ini laporan dari Kepala Satuan Wilayah (Kasatwil) di setiap daerah di Sumbar belum ada pe­santren di Sumbar yang ter­indikasi ISIS.

Fakta bahwa tidak ada satupun pondok pesantren di Sumbar yang terafiliasi dengan ISIS atau gerakan yang serupa menjadi penguat bahwa Sumbar sama sekali tidak identik atau mencetak orang-orang dengan paham radikal. Yang ada hanyalah segelintir orang asal Sumbar yang mohon maaf tidak memiliki pondasi ilmu pengetahun dan pemahaman agama Islam yang cukup, saat dipengaruhi oleh pihak tertentu, rentan untuk terdoktrin oleh pemikiran-pemikiran radikal dan liar tersebut.

Dalam kondisi ini, tentunya muncul harapan agar pihak pondok pesantren terus meningkatkan mutu dan kualitas. Lebih terbuka terhadap dunia luar, sehingga ma­syarakat lebih mudah paham tentang ilmu agama dan apa saja yang diajarkan di pondok pesantren. Dengan sendirinya masyarakat juga lebih paham bahwa tidak ada satu pun mata pelajaran di pondok pesantren yang me­ngajarkan tentang gerakan radikalisme apalagi terorisme.  Kepercayaan masyarakat terhadap pondok pesantren di Sumbar dengan sen­dirinya juga akan semakin meningkat. Upaya-upaya kelompok tertentu yang selalu saja mengindentikan agama Islam dan masjid dengan terorisme secara perlahan bisa hilang atau gugur dengan sendirinya.

Mudah-mudahan seluruh pondok pe­santren dan perguruan-perguruan Islam yang ada di Sumbar tetap bisa menjaga agar para guru dan santrinya tidak terpengaruh oleh paham radikalisme dan terorisme. Filosofi masyarakat Minangkabau juga tidak ada titik temunya dengan paham radikalisme dan terorisme. Orang Minangkabau tetap menge­depankan cara-cara yang bermartabat, mu­syawarah dan mufakat serta diplomasi di dalam menyelesaikan berbagai persoalan. **





Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 19 April 2017 - 09:52:29 WIB
    TIGA JAM MENYUSURI KAWASAN WISATA MANDEH

    Jadi Ledekan Bule, Bikin Resah Warga

    Jadi Ledekan Bule, Bikin Resah Warga DERU boat dengan mesin tempel yang membawa tim liputan Haluan dari Dermaga Carocok Tarusan, Pesisir Selatan tak memecah konsentrasi kami untuk mengungkap sosok-sosok di belakang rusaknya hutan di sekitar kawasan wisata Mande.
  • Senin, 19 Desember 2016 - 01:25:01 WIB

    Menolak Warga Asing Berorganisasi di Indonesia

    Nyaris tak ada yang setuju, Warga Negara Asing (WNA) membuat orga­nisasi di Indo­nesia. Penolakan terjadi, dan akan terus terjadi. Karena, keberadaan WNA di Indone­sia, jelas akan membaut masalah saja. Tidak dibolehkan saj.
  • Jumat, 11 November 2016 - 00:33:31 WIB

    Warga Amerika Tolak Trump

    Pemilu Amerika Serikat yang berlangsung 8 November 2016 lalu, telah menempatkan Donald John Trump sebagai Presiden terpilih Amerika ke-45. Keme­nangan Trump meru­pakan kemenangan kelompok konservatif. Trump yang disebut seb.
  • Rabu, 05 Oktober 2016 - 02:30:30 WIB

    Pasar Malam dan Keresahan Warga

    Kehadiran pasar malam di beberapa lo­kasi di Kota Padang mengundang protes dari masyarakat setempat. Pasalnya, permainan bola berguling (bolling) yang disediakan terindikasi judi. Warga juga merasa sangat terganggu dengan mu.
  • Senin, 22 Agustus 2016 - 03:46:56 WIB

    Warga Minang, Warga Dunia

    Warga Minang, Warga Dunia Di bawah ini se­ngaja saya petik seba­ris puisi Goenawan Mohammad yang berbunyi – Juru Peta Yang Agung... Dima­nakah Tanah Airku..?. Puisi ini menorehkan sebaris kalimat doa haru yang dipanjatkan kepada Tuhan (Juru Peta.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM