“Minyak Abih, Samba Tak Lamak”


Rabu, 20 Januari 2016 - 04:36:36 WIB

Masing-masing orang memiliki kesukaan kepada warna tertentu. Ada yang suka warna merah, hijau, kuning, atau biru dan ada pula yang suka warna cream atau yang lainnya. Kecendrungan lebih suka kepada warna tententu sebagian diaplikasikan kepada warna barang-barang yang dimiliki. Jika itu milik sendiri, tentu si pemilik bebas memberi warna apa pun, sepanjang tidak melanggar aturan-aturan yang berlaku.

Berbeda ketika objek yang akan diwarnai adalah gedung kantor milik pemerintah atau milik masyarakat adat, tentu tidak bisa  sesuka hati memberi warnanya. Apalagi jika warna-warna yang dikombinasikan memiliki arti tersendiri dalam agama, adat dan budaya. Bila demikian, tentu harus memperhatikan dasar dan ketentuan yang ada.

Persoalan ini terjadi pada pengecatan Gedung Kantor Gubernur Sumbar yang masih dalam tahap finishing. Pada bagian depan kantor berlantai empat tersebut sejak beberapa pekan terakhir tampil dengan kombinasi cat warna merah, kuning dan hitam. Kombinasi yang demikian tersusun mulai dari  bagian bawah. Barangkali si kontraktor, konsultan perencana atau pejabat yang menangani pembangunan Gedung Kantor Gubernur Sumbar itu memiliki filosofi tersendiri tentang warna dan susunan kombinasi yang demikian. 

Namun yang menjadi persoalan adalah, Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Mi­nang­kabau (LKAAM) Sumbar  M Sayuti Dt Rajo Panghulu sampai buka mulut dan angkat bicara soal perwarnaan tersebut. Menurut Sayuti tiga warna yang digunakan itu, yakni me­rah, kuning dan hitam adalah warna ke­besaran masyarakat Minangkabau. Karena itu pula nyaris dalam setiap acara adat, tiga war­na itu senantiasa dimunculkan. Ada yang da­lam bentuk marawa, bendera, tenda dan lain­nya.

Sayuti menyorot  tentang penggunaan warna dan kombinasi di bagian depan Kantor Guber­nur Sumbar tersebut. Dia mempertanyakan dasar dan maksud penggunaan warna dan kombinasi tersebut. Pasalnya, asumsi masya­rakat tentu tergiring bahwa penggunaan warna dan perpaduan cat yang demikian secagai ciri bahwa Kantor Gubernur Sumbar adalah kantor milik masyarakat Minangkabau. Kombinasi itu juga mungkin diasumsikan sebagai perhatian pemerintah terhadap masya­rakat dan budaya adat Minangkabau.

Yang jadi persoalan adalah  susunan kombinasi tiga warna tersebut keliru. Tidak sesuai dengan susunan warna yang menjadi budaya dan kebesaran masyarakat Minang­kabau selama ini. Hitam adalah warna kebesa­ran Luhak Limapuluh Kota, warna kuning Luhak Tanah Datar dan merah menjadi ciri kas Kabupaten Agam. Jika disusun maka hitam menjadi warna paling bawah, diikuti kuning dan terakhir merahg pada bagian atas. Berbeda dengan susunan warna Bendera  Jerman. Pada bagian atas hitam, merah dan kuning. Sedang­kan bendera marawa Minangkabau, dekat tiang warna hitam, merah dan kuning.

Menurut Sayuti, kombinasi warna yang dirasa akan mempercantik Kantor Gubernur Sumbar justru berbuah kritikan dari LKAAM. Pemakaian kombinasi warna tanpa makna dinilai hanya akan memberikan pembodohan kepada generasi berikutnya.

Hemat Sayuti, penggunaan perpaduan war­na di Kantor Gubernur Sumbar berupa warna hi­tam, kuning dan merah seharusnya merujuk ke­pada lambang adat atau pun luhak seperti yang ada di Minangkabau. Kalau pun ini tidak me­rujuk ke sana hanya akan membe­rikan pem­bo­dohan. Karena bagaimana pun sesuatu or­namen yang melekat di instansi pasti ada mak­nanya. Begitu juga dengan warna yang saat ini di­pakai di kantor Gubernur. Kalau pun yang sa­at ini sudah terpasang merujuk kepada su­sunan lambang luhak atau lambang adat, su­sunannya juga salah.

Sayuti menjelaskan perihal pemakaian lambang warna yang berupa lambang adat berasal dari pemikir terdahulu seperti Tan Malaka dan M Yamin. Sementara untuk lambang alam atau lambang luhak itu bersum­ber dari Tambo Alam Minangkabau. Kesala­han pada penggunaan warna dan kombinasinya ja­ngan menimbulkan kebingungan pada ge­nerasi masa datang. Inilah fakta, “minyak abih, samba tak lamak”. **

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]