Wisata Bahari Pessel Menuju Destinasi Wisata Halal


Rabu, 20 Januari 2016 - 04:42:52 WIB
Wisata Bahari Pessel Menuju Destinasi Wisata Halal PEMANDANGAN laut dan pulau-pulau KWBT Mandeh dari puncak Bukit Nona Mandeh, kecamtan Tarusan, Pesisir Selatan, beberapa waktu lalu.

Se­mua pihak yang terlibat dengan pariwisata seperti Pemerintah Daerah (Pemda), akademikus, media, organisasi wartawan, pengamat, dan komunitas, meyakini bahwa Pesisir Selatan (Pessel) berpotensi besar menjadi destinasi wisata halal dunia.

Kabupaten itu sangat ber­peluang mendapatkan peng­hargaan World Best Halal Tourism Destination atau destinasi wisata halal ter­baik dunia, seperti yang diraih oleh Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada World Halal Travel Summit 2015 pada Oktober di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Pengamat pariwisata Su­matera Barat (Sumbar), No­frins Napilus mengatakan, Kawasan Wisata Bahari Ter­padu (KWBT) Mandeh dan Pantai Carocok Painan ada­lah dua objek wisata bahari yang dapat di­an­dal­kan Pessel sebagai p­e­narik wisa­tawan mancanegara (wisman). Se­mentara filo­sofi masyarakat setempat bisa menjadi daya tarik kekhasan daerah itu untuk menarik wisman dari ne­gara-negara berpenduduk muslim seperti negara jiran Malaysia dan Brunei, dan ne­gara-negara Timur Te­ngah.

“Pessel, dan Sumbar pa­da umumnya, lebih ber­pe­luang dari daerah lain di Indonesia untuk menjadi destinasi wisata halal. Per­tama, Sumbar identik de­ngan masyarakat muslim. Masyarakat di daerah ini menganut filosofi Mi­nang­kabau “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah (ABS-SBK)”. Artinya, adat dan budaya masyarakatnya bersendi agama Islam, yang berpedoman pada kitab suci Alquran. Dengan demikian, kulinernya sudah pasti pasti halal. Orang di mana-mana, kalau mau makan aman, pasti cari rumah makan Padang. Kemudian, tempat ibadah muslim pun banyak. Dengan demikian, segala kebutuhan wisatawan mus­lim dunia, seperti kuliner, tem­pat iba­dah, dan pe­ngi­napan yang sesuai dengan budaya Islam, tersedia di sana,” tutur No­frins.

Alasan kedua, kata No­frins, Sumbar identik de­ngan kuliner enak, salah satunya adalah rendang. Rendang sudah diakui oleh dunia sebagai salah satu paling lezat.

Meski sudah dikenal orang sebagai masakan ha­lal, namun, menurut Nofrins, ku­liner di Sumbar mem­bu­tuhkan sertifikat halal agar mendapatkan pengakuan dunia. Jadi, tinggal cara Pemda Pessel atau Sumbar agar mendapatkan sertifikat halal itu untuk mendukung Pessel sebagai destinasi wisata halal dunia. 

Mengenai keindahan alam, menurut Nofrins, ke­indahan Mandeh dan Pantai Carocok Painan juga tak kalah dengan Lombok. Itu­lah sebabnya mantan Men­teri Bappenas, Andrinof Cha­niago ngotot ingin me­ng­angkat Mandeh sebagai se­b­agai objek wisata ber­skala nasional dan in­ter­nasional.

“Jika Vietnam memunyai Halong Bay, di Papua ada Ra­ja Ampat, Pessel me­miliki KWBT Mandeh. Tak heran jika Mandeh dijuluki oleh wisatawan sebagai Raja Am­pat di Pulau Sumatera karena kemiripan dua objek wisata tersebut,” ujarnya.

Hal senada dikatakan oleh Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumbar, Eko Yance. Soal destinasi wisata halal, kata Eko, Pessel dan Sumbar sangat berpotensi ke arah itu karena budaya dan agama masyarakatnya sesuai de­ngan hal itu, seperti filosofi ABS-SBK.

“Kalau daerah lain baru bicara tentang halal, di sini sudah lama segala se­sua­tunya halal. Wisata halal baru saja dikonsepkan, se­mentara di sini sudah lama di­terapkan. Tinggal cara Pem­da saja mem­pro­mo­sikannya ke dunia luar me­lalui media. Peran media sa­n­gat strategis untuk meng­gaet wisatawan luar Sumbar dan wisman untuk me­nge­nal datang berkunjung ke suatu daerah. Media sangat berperan mendorong ke­majuan pariwisata karena merupakan wadah promosi. Tanpa media, pariwisata akan lama bangkit,” papar Pimred harian Metro An­dalas itu.

Sementara itu, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang, Yuafriza ber­pandangan, promosi wisata di Pessel belum ter­seg­men­tasi. Selama ini, yang di­pro­mosi­kan dari objek wisata di Pessel hanya keindahan alam. Pada­hal, banyak yang kelebihan lain objek wisata yang bisa digali, seperti ke­arifan lokal masyarakatnya yang identik dengan Islam, dengan tujuan destinasi wisata halal.

Dari pihak media, Pim­red harian Haluan, Yon Erizon menyatakan, media di Sum­bar siap bekerja sama de­ngan Pemda Pessel untuk me­mpromosikan destinasi wi­sata halal. Hal itu terbukti dengan adanya halaman wisa­ta dan kuliner di ber­bagai media terbitan Sum­bar. Ia pun yakin Pessel dan Sum­bar bisa menjadi des­tinasi wisata halal dunia apa­bila semua pihak terkait be­kerja sama mewu­judkan­nya.

Pihak perguruan tinggi pun menyatakan hal yang sama, seperti yang dika­takan Dekan Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang, Ernawati. Ia menyatakan, masyarakat Sum­­bar yang dominan mus­lim, selalu menghasilkan produk yang halal. Meski demikian, masyarakat pem­buat produk tersebut harus diberikan sosialisasi ten­tang produk halal.

“Tanpa diketahui, ma­sya­rakat bisa saja meng­hasilkan produk yang tidak halal. Contohnya, ma­sya­rakat yang membuat ke­ru­puk ubi. Produsen men­jemur kerupuk ubi di bawah sinar matahari agar kerupuk tersebut putih, sesuai selera konsumen. Akan tetapi, kalau hari hujan, kerupuk tersebut tidak lagi berwarna putih. Untuk me­nye­suaikan produk dengan selera kon­sumen, produsen kerupuk mencampurkan zat-zat lain untuk menjadikan kerupuk itu putih, padahal, zat itu tidak halal. Hal ini sudah sering kami so­sia­lisasikan langsung ke bebe­rapa pro­dusen kerupuk di Sumbar,” paparnya.

Sebagai dosen, Ernawati menyampaikan kuliner halal itu kepada mahasiswa, bah­wa tak boleh memakai bum­bu makanan yang tak jelas kehalalannya

Ia menyatakan, produk halal tidak hanya yang di­makan, tapi juga yang di­pakai, seperti aksesoris, mi­lineris. Contohnya lipstik. Merek lipstik yang dipakai ha­rus yang sudah men­dapat­kan label halal. Contohnya lagi bahan pakaian. Apakah pakaian tersebut tidak ter­buat dari kulit binatang yang haram menurut Islam, hal itu harus diperhatikan.

“Untuk kehalalan, kami bahkan memerhatikan sikat gi­gi, apakah sikat gigi ter­sebut terbuat dari bulu bi­natang yang tidak halal bagi Islam,“ ujarnya kepada Haluan di Padang, Selasa (19/1).  

Terkait peran perguruan tinggi untuk mendukung Pessel atau Sumbar menjadi destinasi wisata halal, kata Ernawati, perguruan tinggi memiliki peran yang besar, mi­salnya dalam hal so­sialisasi kepada ma­syarakat. Ia ber­pandangan, untuk menjadikan sebuah daerah sebagai des­tinasi wisata halal, ma­sya­rakatnya harus paham tentang wisata halal. Di sinilah pen­tingnya peran perguruan ting­gi untuk me­nyo­sialisasikannya.

“Kami sering me­nga­dakan pertemuan dengan masyarakat, pelaku usaha dan pihak-pihak terkait pa­ri­wisata untuk me­nyo­sia­lisa­sikan tentang wisata halal,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Pessel, Gunawan menyebutkan, pi­hak­nya sudah lama beren­cana menjadikan wisata bahari di Pessel sebagai destinasi wisata halal dunia, terutama setelah pe­me­rin­tah menetapkan Sumbar bersama Aceh dan NTB sebagai lokasi percontohan un­tuk wisata halal dan mo­s­lem friendly destination. Akan tetapi, ada hal lain yang timbul dalam beberaka kali rapat dengan berbagai ins­tansi terkait untuk me­wu­judkan rencana itu.

“Jika kami men­gu­pa­ya­kan sertifikasi untuk men­da­pat­kan legalitas se­bagai des­tinasi wisata halal, se­olah-seolah selama ini des­tinasi wisata di sini tak ha­lal. Pada­hal, seluruh dunia su­dah tahu bahwa destinasi wisata di Pessel atau Sum­bar halal. Di mana-mana, jika orang men­cari tempat makan halal, baik di dalam negeri maupun di luar ne­geri, yang dicari ru­­mah makan Padang,” ung­kapnya.

Namun begitu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Sumbar dan Kementerian Pariwisata ten­tang teknis, indikator, pihak-pihak yang perlu ter­libat, dan segala yang ber­hubungan dengan des­tinasi wisata halal, agar tak terjadi kesa­lahpahaman dan men­cari satu perspektif un­tuk menyo­sialisasikan tentang hal itu.

Yang jelas, kata Gu­na­wan, pariwisata di Pessel jauh lebih maju sejak Pemda setempat serius mengurus pariwisata. Hal itu terbukti dengan jum­lah kunjungan wisata ke KWBT Mandeh dan Pantai Carocok Painan.

“Sejak dua tahun bela­kangan, sekitar 300 ribu wisa­tawan berkunjung ke Man­deh dalam setahun. 500 wisa­tawan di antaranya ada­l­­ah wisman. Sementara kun­ju­ng­an wisatawan ke Pantai Caro­cok Painan, sekitar 1,2 juta wisatawan per tahun. 200 wisatawan di antaranya me­ru­pakan wis­man,” beber­nya. Pada tahun ini, pi­haknya menargetkan 2 juta kun­jungan wisatawan ke Pantai Caro­cok Painan. Gunawan menyebutkan, majunya pari­wisata Pessel juga terbukti dengan me­ning­katnya Pen­dapatan Asli Daerah (PAD) Pessel dari sektor pariwisata. Pada 2013, PAD dari sektor ter­sebut hanya Rp50 juta. Pada 2014 menjadi Rp1,5 miliar, dan pada 2015 men­capai Rp1,8 miliar.

“Kami setuju dengan konsep destinasi wisata halal agar wisman dari ne­gara-negara yang belum berkunjung ke sini tertarik untuk berwisata ke sini. Tujuannya, untuk me­ning­katkan kunjungan wisata, menambah PAD, me­nye­jah­terakan masyarakat dan se­bagainya. Selain itu, juga un­tuk membantu peme­rin­tah pusat mencapai target kun­jungan wisman se­ba­nyak 12 juta kunjungan pada 2016 dan 20 juta kunjungan pada 2019,” tuturnya.

Dampak dari majunya pariwisata bahari Pessel, kata Gunawan, juga mengenai masyarakat setempat, ter­utama para pedagang dan pelaku usaha yang terlibat dengan pariwisata. Pihaknya memang belum menghitung hal itu dengan data mematis. Akan tetapi, ia melihat su­dah ba­nyak pedagang yang mem­­beli mobil karena ba­nyak­nya kunjungan wisata ke Pantai Carocok Painan dan Mandeh.

Sejumlah penginapan di Tarusan dan Painan, kata Gunawan, siap menyambut wisman. Di Painan, ada 7 hotel, 1 resort di Bukit Lang­kisau, dan 7 homestay. Se­mentara di Tarusan, ter­dapat 15 homestay dan 1 resort di Pulau Cubadak. Wisman juga bisa menginap di pu­luhan hotel berbintang yang ter­dapat di Padang karena jarak Padang-Tarusan ku­rang le­bih 56 km dengan waktu tempuh 1,5 jam per­jalanan. Dari Tarusan ke Painan, ha­nya membutuhkan 20 menit waktu perjalanan.

Pada tahun ini, kata Gu­nawan, Pemda Pessel akan menyiapkan Perda destinasi wisata halal untuk me­wu­judkan kabupaten itu se­bagai destinasi wisata halal. Perda tersebut me­rupakan Perda turunan Perda Pessel Nomor 4 Tahun 2015 ten­tang Ren­cana Induk Pe­ngem­ba­ng­an W­isata Pessel.

Mengenai Mandeh dan Pantai Carocok Painan, ia menjelaskan, luas KWBT Mandeh lebih kurang 18.000 hektare (Ha) yang melingkupi 7 Kampung di 3 nagari yang dihuni oleh 9.931 jiwa pen­duduk.

Mandeh memiliki po­ten­si terumbu karang 70, 32 Ha, mangrove 313,32 Ha, dan keragaman hayati men­capai 404,55 Ha. Mandeh dires­mikan oleh Presiden Jokowi pada Oktober 2015 menjadi KWBT. (*/bersam­bung)

 

Laporan :
HOLY ADIB
 

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 29 November 2017 - 00:09:12 WIB

    Menata ‘Kota Tepi Laut’ Dalam Mendukung Wisata Bahari

    Menata ‘Kota Tepi Laut’ Dalam Mendukung Wisata Bahari Euforia program kemaritiman dan pariwisata, menjadi pemantik pemerintahan kota/kabupaten yang wilayah administrasinya berhubungan langsung dengan pesisir. Ada sekitar 500 daerah di negara kita yang wilayah berhubungan langsun.
  • Ahad, 20 November 2016 - 22:31:33 WIB

    Rumah Makan Bajamba, Hadir Ramaikan Wisata Kuliner Sumbar

    Rumah Makan Bajamba, Hadir Ramaikan Wisata Kuliner Sumbar Pecinta kuliner di wilayah kota Bukittinggi semakin dimanjakan oleh kehadiran Rumah Makan (RM) Bajamba. Rumah Makan yang menawarkan konsep masakan khas Minang tersebut baru diresmikan pada, Senin (14/11) kemarin..
  • Sabtu, 25 Juni 2016 - 02:47:23 WIB

    Pasie Nan Tigo, Kawasan Wisata yang Tenggelam

    Pasie Nan Tigo, Kawasan Wisata yang Tenggelam Dulu, jika orang Padang membincangkan Pasie Nan Tigo, terlintas dibenak me­reka ada suasana riang nan menawan di tepi pantai. Para wisatawan bersahutan dan riuh sembari menikmati indahnya mentari terbenam kala sore hari. Di .
  • Jumat, 20 Mei 2016 - 04:11:55 WIB

    Menuju 7 Juta Wisatawan

    Sumatera Barat punya potensi wi­sata, kendati tidak sebesar potensi pariwisata di Bali atau Yogyakarta. Obyek wisata di Sumbar cukup beragam, meliputi wisata alam, wisata budaya, dan wisata sejarah..
  • Jumat, 13 Mei 2016 - 03:49:57 WIB

    Membuat Sumbar Demam Pariwisata

    Dalam Kamus Besar Bahasa In­donesia (KBBI) ada dua pengertian demam. Pertama untuk orang yang sakit karena panas badannya lebih tinggi daripada biasanya. Kedua, pengertian demam karena tergila-gila. Mareka tergila-gila denga.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]