66 Sekolah di Kampar Terpaksa Diliburkan

Banjir, Petani Keramba Rugi Miliaran Rupiah


Rabu, 20 Januari 2016 - 04:55:03 WIB
Banjir, Petani Keramba Rugi Miliaran Rupiah Sejumlah warga mengevakuasi sepeda motor menggunakan perahu kayu saat terjadi banjir di Desa BuluhciSejumlah warga mengevakuasi sepeda motor menggunakan perahu kayu saat terjadi banjir di Desa Buluhcina, Kampar, Riau, Selasa (19/1). (ANTARA)

BANGKINANG, HALUAN — Banjir yang melanda Kabupaten Kampar sejak pekan lalu, tidak hanya merendam rumah dan menghanyutkan keramba warga. Gedung sekolah pun menjadi korban. Alhasil, sebanyak 66 sekolah di tujuh kecamatan di Kampar terpaksa meliburkan para siswanya. Keputusan meli­burkan siswa itu karena akses ataupun jalan menuju sekolah-sekolah tersebut terendam banjir begitu juga rua­ngan kelas tempat proses belajar mengajar.

“Sesuai imbauan dari BPBD Kampar terkait kondisi banjir ini sebanyak 66 sekolah terpaksa kita liburkan,” jelas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kampar Nasrul me­la­lui Sekretaris Dinas Pendi­dikan dan Kebudayaan Kabu­paten Kampar Edi Rusmadinata, seperti dikutip riauterkini.com, Selasa (19/1).

Diungkapkannya, sesuai hasil pantauan tim ke lapangan, seko­lah yang diliburkan tersebut di antaranya tersebar di Kecamatan Kampar, Kampar Utara, Kampar Timur, Rumbio Jaya, Tambang, Siak Hulu, dan Kecamatan Per­hentian Raja.

“Hasil pantauan tim ini akan kita sampaikan ke Kadis P dan K dan selanjutkan kepada Bapak Bupati Kampar,” ungkapnya.

Ditambahkannya, pihaknya saat ini terus melakukan koor­dinasi dengan pihak P dan K Provinsi Riau untuk meminta bantuan. “Karena banjir ini telah me­nga­kibatkan beberapa unit meu­beler rusak, buku-buku han­cur begitu juga untuk kebutuhan proses belajar mengajar lainnya,” tuturnya.

Rugi Miliaran Rupiah

Sementara itu, pembukaan pintu waduk PLTA Koto Panjang yang mengakibatkan banjir di sepanjang daerah aliran sungai Kampar dan ratusan keramba hanyut dibawa air, menimbulkan kerugian yang luar biasa bagi para petani keramba. Mereka me­ngalami kerugian yang cukup besar, mencapai miliar rupiah.

Menurut pengakuan Ihsan salah seorang petani keramba, ia telah mendata jumlah kerugian yang telah dialami para petani keramba di Desa Pulau Terap Kuok, Kecamatan Kuok, sebesar Rp1,2 miliar.

“Untuk itu kami meminta pihak PLTA Koto Panjang untuk bertanggung jawab membayar kerugian yang dialami para pe­tani keramba,” tegasnya.

Karena menurutnya pihak PLTA Koto Panjang seharusnya terlebih dahulu menyampaikan pemberitahuan, sehingga para petani keramba tidak mengalami kerugian.

Kepala Dinas Perikanan Ka­bu­paten Kampar, Usman me­ngungkapkan, pihaknya telah melakukan pendataan terkait kerugian masyarakat petani keramba maupun petani ikan kolam.

“Dari hasil pendataan hingga hari ini (Selasa-red) kerugian mencapai sebesar 5,6 miliar, kerugian itu sudah termasuk fisik keramba, kolam ikan yang rusak, termasuk kerugian ikan para petani,” ungkapnya.

Ditambahkannya, pendataan telah dilakukan sejak hari pertama naiknya volume air Sungai Kampar pada Sabtu (16/1) akhir pekan lalu. Pendataan yang dilakukan pihaknya mulai dari petani ikan yang berada di Desa Merangin di Kecamatan Kuok hingga ke Desa Gobah di Kecamatan Tambang.

“Kita tentunya berharap se­mua pihak mulai dari kabupaten, provinsi hingga pemerintah pusat bisa membantu masyarakat dan kebijakan Pemerintah Kabu­paten Kampar ada di tangan bapak Bupati,” ucapnya. (hr)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]