Wisata Bahari Pessel Menuju Destinasi Wisata Halal (Bagian 2)


Kamis, 21 Januari 2016 - 03:15:30 WIB
Wisata Bahari Pessel Menuju Destinasi Wisata Halal (Bagian 2)

Untuk mem­promosikan Mandeh ke dunia internasional, pihaknya menggelar iven tahunan. Pertama, Mandeh Joy Sailing. Mandeh Joy Sailing yang kali pertama digelar pada Oktober 2014 ini adalah melayari Kawasan Mandeh dari Pelabuhan Teluk Bayur Padang.

Kedua, Festival Man­deh, yang kali pertama di­gelar pada Oktober 2015. Dalam festival tersebut ada atraksi paramotor di langit Kawasan Mandeh, offroad, motor trail, atraksi diving, tarian, snorkeling, dan se­bagainya. Ketiga, Tour de Man­deh (TdM). TdM me­rupakan ajang bersepeda gunung yang mulai digelar pada Desember 2015.

Sementara Pantai Ca­rocok Painan, kata Gu­nawan, adalah sebuah pantai yang terletak di ibukota Pessel. Suasana panorama matahari terbenam dari pantai ini indah sekali. Di pantai berpasir putih ini, air lautnya cukup tenang. Di bibir pantai terdapat be­berapa pohon kelapa, se­hing­ga cocok sekali digu­nakan untuk tempat liburan. Sekitar 200 meter ke arah barat pantai ini terdapat Pulau Cingkuk. Di pulau ini, wisatawan bisa bermain air laut, memancing hingga menyelam.

Perihal wisata halal, Cang Ari, salah seorang pemilik homestay dan pe­ngusaha makanan di Painan mengatakan, ia dan pe­ngu­saha-pengusaha penginapan dan rumah makan di Painan setuju jika Pemda Pessel berencana menjadikan ob­jek wisata bahari di Pessel sebagai destinasi wisata halal. Akan tetapi, ia dan rekan-rekannya belum me­mahami tentang wisata ha­lal. Oleh karena itu, Pemda per­lu merangkul para pe­ngu­saha tersebut untuk di­beri sosialisasi wisata halal.

“Kami siap diajak be­kerja sama oleh Pemda ka­re­na kami telah merasakan dam­pak peningkatan eko­no­mi sejak banyaknya kun­jungan wisatawan ke Pantai Ca­rocok Painan dan Man­deh. Kami sangat men­du­kung rencana Pemda ter­sebut, karena pasti akan menarik lebih banyak lagi wisatawan mancanegara,” tutur pemilik rumah makan Garis Pantai di Pantai Ca­rocok Painan itu.

Se­lama ini, tanpa me­mahami wisata halal, kata Cang Ari, ia sudah menjaga kehalalan dan kebersihan makanan yang dijualnya. Sedangkan untuk pe­ngi­napan, ia menyediakan tem­pat salat, perlengkapan salat seperti sajadah dan mu­ke­nah untuk tamu.

Berkaitan dengan des­tinasi wisata halal, Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Burhasman Bur me­nyam­paikan, pemerintah me­netapkan 12 provinsi se­bagai destinasi wisata sya­riah, yakni Aceh, Sum­bar, NTB, Riau, Lampung, Ban­ten, DKI, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY dan Sulawesi Selatan.

Burhasman mem­be­ber­kan, terpilihnya Sum­bar sebagai salah satu destinasi wi­sa­ta syariah tersebut bu­kan terpilih begitu saja. Ada 3 latar belakang di baliknya.

Pertama, visi misi gu­bernur dan wakil gubernur Sumbar periode 2009-2014, yak­ni mewujudkan mas­ya­ra­kat madani. Visi misi tersebut didukung dengan disahkannya Peraturan Dae­­rah (Perda) Sumbar No­mor 3 Tahun 2014 ten­tang Rencana Induk Ke­pa­ri­wisataan Sumbar. Di da­lam Perda itu terdapat ren­cana untuk menjadikan Sum­­bar sebagai daerah des­tinasi wisata halal.

Kedua, visi misi Dinas Pa­riwisata Sumbar. Ber­dasarkan visi misi gubernur tersebut, Dinas Pariwisata Sumbar membuat visi misi pariwisata berbasis agama dan budaya.

Ketiga, kearifan lokal masyarakat Sumbar yang beragama Islam dan me­nganut filosofi adat basandi syara’, syara’ basandi kita­bullah.

Burhasman men­je­las­kan, pengertian wisata halal adalah produk pariwisata. Misalnya, daging ayam atau sapi yang dibeli oleh res­toran atau rumah makan, apakah disembelih dengan proses yang halal dari rumah potong hewan (RPH). Oleh ka­rena itu, RPH perlu d­i­sertifikasi untuk menjamin kehalalan dan kebersihan da­ging yang dijual. Se­men­tara untuk restoran, rumah makan dan hotel, dapurnya harus disertifikasi untuk membuat kuliner bersih dan sehat. Pihaknya juga akan mengupayakan hal itu nan­tinya.

“Yang menginginkan ma­ka­nan halal bukan wis­man muslim saja, tapi juga wisman nonmuslim,” se­but­nya.

Lebih lanjut ia men­je­las­kan, produk wisata halal bukan saja makanan saja. Perhotelan juga termasuk. Hotel wisata halal memiliki arah kiblat, menyediakan perlengkapan untuk salat, in­fo waktu salat, dan se­ba­gainya. Penerapan produk halal di hotel bukan berarti di hotel tersebut tak menjual minuman beralkohol bagi tamu. Akan tetapi, me­ngin­formasikan bahwa mi­nu­man tersebut di­pe­run­tuk­kan bagi nonmuslim.

Selain itu, kata Bur­has­man, Sumbar secara kon­disi, sebagian besar su­dah me­menuhi syarat untuk men­jadi destinasi halal. Semua iven pariwisata di Sumbar responsif terhadap pari­wisata halal. Iven-iven pa­riwisata di Sumbar tak ada yang vulgar. Misalnya, pe­milihan Uda Uni Sumbar, pakaian pesertanya tetap menutup aurat dan sopan.

Untuk mewujudkan Sum­bar sebagai destinasi halal tersebut, pihaknya telah menggelar pertemuan awal beberapa pekan yang lalu dengan pihak terkait, seperti Majelis Ulama In­donesia (MUI) Sumbar, BPOM, dan sebagainya.

Perhatian terhadap wi­sata bahari Pessel datang dari berbagai pihak, ter­masuk dari komunitas. Ko­mu­nitas Diving Prok­la­ma­tor Uni­versitas Bung Hatta Padang adalah salah sa­tunya.

Indrawadi, pembina ko­mu­nitas tersebut men­je­laskan, komunitas ber­ben­tuk unit kegiatan mahasiswa (UKM) itu sudah beberapa kali menyelam ke bawah laut kawasan Mandeh dan Carocok Painan.

“Ada banyak titik pe­nye­laman di Mandeh, di anta­ranya 4 titik di Pulau Marak, 5 titik di Pulau Cubadak, di Pulau Sironjong Ketek, Pu­lau Sironjong Gadang. Titik penyelaman paling istimewa di Mandeh adalah kapal karam atau shipwreck ter­baik di Indonesia. Kapal itu diduga MV Boelongan Nederland, kapal kargo Belanda yang dibom tentara Jepang pada 1942. Letaknya di kawasan teluk Mandeh pada kedalaman 20-25 me­ter,” tuturnya.

Sementara itu, di ka­wasan Carocok Painan, sa­lah satu titik penyelaman di Pulau Cingkuak dan Pu­lau Aur.

Setelah menyelam di banyak tempat di Mandeh dan Carocok Painan, Indra­wadi berkesimpulan, kein­dahan alam bawah laut dua lokasi itu tak kalah dengan Indonesia bagian timur.

UKM Diving Pro­kla­mator, kata Indrawadi, menyelam untuk tujuan survei dan riset bawah laut, untuk mendukung pari­wisa­ta bahari Sumbar. Data tentang informasi alam ba­wah laut itu diberikan kepa­da pihak-pihak yang mem­butuhkan sebagai tambahan referensi.

“Menikmati alam bawah laut ini adalah wisata minat khusus. Data yang kami dapatkan bisa dipakai oleh pihak yang membutuhkan dan untuk mengajak orang berwisata ke Sumbar,” ka­tanya. 

Tak hanya menyelam, lanjut Indrawadi, UKM Diving Proklamator juga mengajak semua pihak un­tuk mengenali dan men­cintai ekosistem bawah laut. Pihaknya juga melakukan me­lestarikan ekosistem ba­wah laut dengan melakukan tran­plantasi terumbu ka­rang. Sejah ini, pihaknya sudah menanam lebih dari 20 ribu terumbu karang. Tranplantasi tersebut sudah dilakukan di Mandeh, Pu­lau Aur Painan, Pulau Pa­sum­pahan Padang, Pantai Nir­­wana Padang, Pulau Ka­siak Pariaman, dan tempat lain di Sumbar. 20 sudah kami tanam.

“Kami berupaya m­e­ngajak orang untuk ber­wisata yang ramah ling­kungan dan tak merusak alam,” ujarnya.

Sebagai fotografer ba­wah laut, Indrawardi be­r­sama sejumlah temannya memprakarsai Ekspedisi Under Water Mandeh pada April 2014. Kegiatan itu diikuti oleh sejumlah fo­tografer bawah laut nasional dan internasional. Pada bulan yang sama, ia dan rekan-rekannya menggelar lomba fotografi bawah laut tingkat nasional, yang di­ikuti oleh 20 peserta. Ke­giatan itu disponsori oleh Dinas Kelautan dan Peri­kanan Pessel dan Ke­men­terian Kelautan.**

 

Laporan :
HOLY ADIB
 

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Rabu, 29 November 2017 - 00:09:12 WIB

    Menata ‘Kota Tepi Laut’ Dalam Mendukung Wisata Bahari

    Menata ‘Kota Tepi Laut’ Dalam Mendukung Wisata Bahari Euforia program kemaritiman dan pariwisata, menjadi pemantik pemerintahan kota/kabupaten yang wilayah administrasinya berhubungan langsung dengan pesisir. Ada sekitar 500 daerah di negara kita yang wilayah berhubungan langsun.
  • Ahad, 20 November 2016 - 22:31:33 WIB

    Rumah Makan Bajamba, Hadir Ramaikan Wisata Kuliner Sumbar

    Rumah Makan Bajamba, Hadir Ramaikan Wisata Kuliner Sumbar Pecinta kuliner di wilayah kota Bukittinggi semakin dimanjakan oleh kehadiran Rumah Makan (RM) Bajamba. Rumah Makan yang menawarkan konsep masakan khas Minang tersebut baru diresmikan pada, Senin (14/11) kemarin..
  • Sabtu, 25 Juni 2016 - 02:47:23 WIB

    Pasie Nan Tigo, Kawasan Wisata yang Tenggelam

    Pasie Nan Tigo, Kawasan Wisata yang Tenggelam Dulu, jika orang Padang membincangkan Pasie Nan Tigo, terlintas dibenak me­reka ada suasana riang nan menawan di tepi pantai. Para wisatawan bersahutan dan riuh sembari menikmati indahnya mentari terbenam kala sore hari. Di .
  • Jumat, 20 Mei 2016 - 04:11:55 WIB

    Menuju 7 Juta Wisatawan

    Sumatera Barat punya potensi wi­sata, kendati tidak sebesar potensi pariwisata di Bali atau Yogyakarta. Obyek wisata di Sumbar cukup beragam, meliputi wisata alam, wisata budaya, dan wisata sejarah..
  • Jumat, 13 Mei 2016 - 03:49:57 WIB

    Membuat Sumbar Demam Pariwisata

    Dalam Kamus Besar Bahasa In­donesia (KBBI) ada dua pengertian demam. Pertama untuk orang yang sakit karena panas badannya lebih tinggi daripada biasanya. Kedua, pengertian demam karena tergila-gila. Mareka tergila-gila denga.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]