Sepanjang 2015, Satpol PP Tangani 73 Kasus


Jumat, 22 Januari 2016 - 03:10:23 WIB

SOLOK, HALUAN — Selama tahun 2015, Satuan Polisi Palong Praja (Satpol PP) Kota Solok menangani 73 kasus pelanggar peraturan daerah.

Seluruh kasus yang dita­ngani, baik melalui operasi rutin maupun laporan ma­syarakat tidak ada yang ber­muara ke pengadilan melalui tindak pidana ringan (Ti­piring).

Kepala satpol PP Kota Solok Zulkarnaini yang dihu­bungi Haluan di kantornya Selasa (19/1) menjelaskan, ke 73 kasus pelanggar peraturan daerah itu masing-masing 24 kasus susila, miras 4 kasus, berjualan dalam bulan Ra­madhan 5 kasus, Izin Men­dirikan Bangunan 10 kasus, menyalahi izin operasi kafe 1 kasus, anak lem 2 kasus, re­maja pacaran diatas jam 22.00 malam serta beberapa kasus lainnya.

Dari sederetan kasus pe­langgar perda itu kata Zul­karnaini tidak ada yang dija­tuhkan sanksi, baik berupa kurungan maupun denda ka­re­na semua kasus yang di­tangani melalui Penyidik Pe­ga­wai Negeri Sipil (PPNS) ya­ng ada dapat diselesaikan melalui perjanjian dan dijem­put pihak keluarga bagi yang tertangkap pacaran larut ma­lam.

Ketentuan peraturan dae­rah kendati ada aspek hu­kumnya berupa kurungan dan denda namun Satpol PP Kota Solok lebih banyak mem­berikan pembinaan pada ma­syarakat, peraturan daerah orientasinya mengatur kehi­dupan masyarakat dan kein­dahan Kota Solok sehingga kedepan masyarakat lebih memahami etika tentang kehi­du­pan sehari-hari.

Jika semua persoalan yang diatur dalam peraturan dae­rah muaranya pada pem­beri­an sanksi denda dan kuru­ngan, menunjukan tidak ada­nya pembinaan kecuali jika perbuatan itu dilakukan beru­lang kali tanpa mengindahkan teguran pertama, kedua dan ketiga, baru diambil tindakan tegas sesuai payung hukum yang ada.

Ketika ditanya kemung­kinan Satpol PP melirik hotel dan penginapan seperti dia­ma­natkan perda penyakit masyarakat, menurut  Zul­karnaini tindakan mengedor pintu hotel perlu pertim­bangan karena banyak aspek yang bisa menimbulkan perso­alan.

Kecuali jika penginapan maupun hotel penyediakan wanita penghibur baru bisa dirazia.

“Kalau orang hanya men­gi­nap untuk apa dirazia ka­rena tamu itu bisa saja pen­duduk luar Sumatera Barat yang berwisata ke Ranah Mi­nang. Fungsi hotel untuk me­nginap bagi tamu yang ber­kunjung ke suatu daerah. Kalau itu dilakukan bisa me­rugikan manajemen hotel, hotel juga sumber pema­sukan ke daerah, masih ba­nyak pe­kerjaan lain yang harus dilaksanakan,” kata­nya. (h/alf)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]