Kekurangan Guru

Tiga Dari Tujuh Guru SDN 24 Talamau Tamatan SMA


Jumat, 22 Januari 2016 - 03:23:22 WIB
Tiga Dari Tujuh Guru SDN 24 Talamau Tamatan SMA

PASAMAN BARAT, HALUAN — Semangat untuk mendapatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan para siswa SDN 24 Talamau yang terletak di Kampung Tombang, Jorong Tombang, Naragi Sinuruik, Kecamatan Ta­lamau patut ditiru oleh semua siswa di seluruh Indonesia. Ratusan pelajar yang tediri dari enam kelas tersebut, harus me­lang­sungkan Proses Belajar Mengajar (PBM) di tiga ruangan belajar. Tak hanya itu, dari tujuh tenaga pengajar, tiga diantaranya tamatan sekolah menengah atas (SMA).

Meskipun hanya mem­punyai tiga ruang belajar dan enam orang tenaga pengajar yang ditambah dengan satu orang kepala sekolah, na­mun tidak menyurutkan keinginan para murid dan guru untuk melangsungkan proses belajar mengajar meskipun harus membagi satu ruangan menjadi dua ruangan kelas untuk belajar.

Baca Juga : Sumbar Siapkan 50 Persen Jalur Zonasi pada PPDB 2021

Minimnya fasilitas dan tenaga pengajar tidak mem­buat niat para siswa di se­kolah ini untuk melang­sungkan PB­M setiap hari­nya. Sejak berdiri hingga saat ini SDN 24 Ta­lamau ini hanya memiliki tiga sampai empat ruangan.

“Tiga ruangan diguna­kan untuk proses PBM dan satu ruangan lagi digunakan untuk kantor dan penyim­panan alat-alat sekolah lain­nya,” kata Kepala SDN 24 Talamau Syahfrial kepada Haluan, kemarin.

Baca Juga : Wako Pariaman Ajak Masyarakat Rawat Ekologi Pulau Angso Duo

Sehari-hari para siswa tersebut harus belajar deng­an membagi satu ruangan menjadi dua kelas. Meski ruangan tersebut terlihat sangat sempit dan tidak layak, namun anak-anak tampak sudah terbiasa. Bah­kan dua guru di ruangan tersebut harus mengatur waktu, agar tidak me­ngang­gu pelajar lainnya.

“Jika satu orang guru menerangkan, guru di sam­pingnya harus diam agar siswa tidak terganggu, be­gitu juga sebaliknya. Selain harus membagi dua ruangan kelas dengan dibatasi papan triplet, sejumlah loteng di sekolah sudah lapuk bahkan ada yang telah ro­boh, ”im­buh Syahfrial.

Selain minim fasilitas, sekolah ini juga terletak daerah terpinggir Ka­bu­paten Pasbar juga menga­lami ke­kurangan guru. Sekolah ini hanya memiliki enam tanaga pe­nga­jar dan satu kepala seko­lah. Secara otomatis para guru tersebut harus bisa mengisi ke­kurang­an yang ada.

“Ironisnya lagi, dari tujuh tenaga di sekolah ini, tiga diantaranya masih ber­status tamatan sekolah me­nengah atas,” terangnya.

Minimnya fasilitas dan tenaga pengajar di sekolah ini tidak terlepas dari ke­tertinggalan daerah. Saat ini akses jalan menuju Kam­pung Tombang sangatlah sulit, sehingga pem­bangu­nan pun menjadi terhambat.

Ia bersama masyarakat dan para guru berharap, pemerintah segera me­ngam­bil tindakan dengan mem­bangun semua sarana serta jalan menuju Tombang, ka­rena inilah satu-satunya jalan yang dapat melepaskan se­mua penderitaan mereka.

Sementara Kabupaten Pasaman Barat sudah be­ru­sia 12 tahun pasca me­mi­sah­kan diri dari Kabupaten Pasaman. Namun masya­rakat Tombang masih hidup dalam penderitaan dan ke­terisoliran. (h/fad)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]