Jasad Bayi “Bertaburan”

Pengawasan Keluarga Mulai Lemah di Bumi Minang


Jumat, 22 Januari 2016 - 03:40:18 WIB
Pengawasan Keluarga Mulai Lemah di Bumi Minang

PADANG, HALUAN — Kasus penemuan bayi di Sumatera Barat dalam dua bulan terakhir ini telah membuat dada ngilu. Bundo Kanduang Sumatera Barat turut bersedih ketika kasus demi kasus menimpa alam Minangkabau ini.

Pada Rabu (13/1) sosok bayi ditemukan mengapung di aliran Sungai Lipek Pa­tah, Jorong Sungai Padi, Ke­camatan Sangir, Solok Se­latan. Sebelumnya,  pada (28/12/2015) ditemukan ja­sad bayi mengapung di ko­lam di dua tempat berbeda yaitu di Kecamatan Lubuk Sikarah, Solok dan Nagari Baja La­weh, Limapuluh Kota.

Baca Juga : Temui Mantan Wawako Padang Yusman Kasim, Hendri Septa Bicarakan Hal Ini

Secara tegas, Ketua Bu­n­do Kanduang Sumatera Barat Puti Reno Raudhah Thaib menyatakan, pondasi di keluarga harus diperkuat agar kasus ini tidak be­rulang. Munculnya kasus orang tua membuang bayi yang baru dilahirkan muncul karena sebelumnya sudah dipicu oleh lemahnya pe­nga­wasan di keluarga.

“Masa seorang ibu tidak tahu perubahan yang terjadi di remaja putrinya. Ada perubahan bentuk tubuh, perilaku dan lainnya. Tak hanya itu, sebelumnya apa­kah orang tua tidak menga­wasi kemana saja putri dan putranya pergi,” ucap Bun­do Kanduang, Kamis (21/1).

Baca Juga : Bekas Atom Center Padang Disulap jadi Penampungan Anak Yatim

Raudha Thaib juga me­lihat, sanksi moral yang seharusnya berlaku ter­ha­dap remaja-remaja yang melakukan penyimpangan ini juga sudah tidak berlaku lagi. Pelajar atau mahasiswa yang telah melakukan ke­sa­lahan masih bisa melakukan kesalahan yang sama, tanpa ada beban dan bahkan bisa hidup seperti tidak pernah melakukan kesalahan.

“Padahal hukuman pa­ling berat itu adalah rasa malu. Baik itu rasa malu di kalangan manusia, maupun rasa malu menghadap tu­han, namun rasa malu ini sudah hilang di tengah ma­sya­rakat,” ucapnya.

“Karena mereka me­nganggap apa yang terjadi pada diri remaja atau pada diri anaknya sendiri adalah hal biasa di era saat ini. Indak di awak, anak urang baitu juo. Inilah pemikiran yang tertanam dalam diri masyarakat,” tambah  guru besar bidang pertanian di Universitas Andalas ini.

Jika berbicara hukum adat yang diterapkan pada pelaku, Raudhah menjawab ini menjadi wewenang bagi nagari masing-masing. Di balik semua hukuman se­cara adat yang diberlakukan tersebut, membentengi ge­nerasi penerus dengan kasih sayang dan perhatian ke­luarga menjadi kunci utama.

“Jika orang tua tidak salat, bagaimana mungkin anaknya akan salat. Jika orang tua tidak mengawasi remajanya, bagaimana bisa remaja mengawasi dirinya,” pungkasnya. (h/eni)

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]