Kelompok Islam Radikal dan Pengantin Bom Bunuh Diri


Senin, 25 Januari 2016 - 03:54:22 WIB
Kelompok Islam Radikal dan Pengantin Bom Bunuh Diri

Ada dua sebutan me­narik yang muncul da­lam pem­beritaan ten­tang aksi teror di Jalan M. H. Thamrin, Jakarta Pusat beberapa waktu lalu, yakni kelompok Islam radikal dan pengantin bom bunuh diri. Dua sebutan ini sebe­narnya bukan sebutan baru. Setiap kali ada aksi teror yang diduga dilakukan oleh ke­lom­pok Islam, dua sebutan ini selalu muncul. Dalam tulisan ini, saya tidak membahas me­ngenai benar atau salah cara kelompok Islam yang mem­perjuangkan ideologinya un­tuk mendirikan negara Islam di negara ini. Saya ingin membahas mengenai kejang­galan dua sebutan itu.

Kelompok Islam radikal

Saya tidak tahu kapan kali pertama sebutan kelompok Islam radikal muncul ke permukaan. Saya hanya heran saat kata radikal dijodohkan dengan kata kelompok Islam dalam konteks aksi teror.

Dalam Kamus Besar Baha­sa Indonesia (KBBI) Pusat Bahasa Edisi Keempat, radi­kal berarti (1) secara men­dasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang —; (2) Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); (3) maju dalam berpikir atau bertin­dak. Pol dalam definisi kedua tersebut adalah singkatan dari politik dan pemerintahan.

Arti radikal pada definisi kedua di atas bercitra negatif. Sementara dalam definisi pertama dan ketiga, makna radikal bercitra positif bahkan intelektual. Berdasarkan defi­nisi pertama dan ketiga, jika dihubungkan dengan sebutan kelompok Islam radikal, be­nar­kah jika seorang muslim yang mempelajari sesuatu secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip) dan maju dalam berpikir dan bertindak, akan menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan) dengan amat keras? Benarkah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muham­mad ini akan melakukan ma­kar jika diamalkan secara mendalam? Jawaban yang muncul atas sebutan kelom­pok Islam radikal dari dua pertanyaan ini terdapat dalam definisi radikal pada definisi kedua. Berdasarkan definisi kedua itu, pihak yang me­nyebut kelompok Islam ra­dikal berarti telah melakukan tindakan diskriminatif terha­dap Islam secara bahasa.

Sebagai seorang muslim, meski belum termasuk kate­gori muslim yang taat melak­sanakan ibadah, saya ter­sing­gung dengan orang yang me­nyebut aksi teror dilakukan oleh kelompok Islam radikal.

Yang membuat saya priha­tin, sebutan kelompok Islam radikal digunakan oleh ba­nyak media dalam pembe­ritaan aksi teror yang diduga atau telah divonis, dilakukan oleh kelompok Islam. Akibat­nya, khalayak ramai percaya bahwa muslim atau kelompok muslim yang mempelajari ajaran Islam secara men­dalam, akan menjadi teroris yang berujung pada aksi teror seperti melakukan bom bu­nuh diri.

Penyebutan kelompok Islam radikal sebenarnya tidak menjadi masalah bila tidak dihubungkan dengan aksi teror. Apa yang salah dengan lema radikal? Tidak ada salahnya jika seseorang mempelajari sesuatu secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip) dan maju dalam berpikir dan bertindak. Akan tetapi, lema radikal sudah terlanjur mengalami penyem­pitan makna (peyorasi) kare­na maraknya penyebutan ke­lompok Islam radikal pada kasus teror.

Sebagai seorang muslim, sa­ya tentu ingin menjadi mus­lim yang radikal, tanpa mene­ror apalagi membunuh orang yang tidak sepaham dengan saya. Sebagai seorang muslim, saya mengecam aksi teror di depan Pusat Perbelanjaan Sarinah tersebut, yang diduga dilakukan oleh kelompok Islam. Sampai kini saya ma­sih percaya, ajaran Islam tidak mengajarkan teror.  

Peyorasi

Dalam KBBI, peyorasi berarti perubahan makna yang mengakibatkan sebuah ungkapan menggambarkan sesuatu yang lebih tidak enak, tidak baik, dan sebagainya. Banyak kata dalam bahasa Indonesia yang sebenarnya bercitra baik, lalu bercitra buruk (mengalami peyorasi) gara-gara kesalahan penutur bahasa dan media. Salah satu contoh kata yang mengalami peyorasi adalah manipulasi. Dalam KBBI, manipulasi berarti (1) tindakan untuk mengerjakan sesuatu dengan tangan atau alat-alat mekanis secara terampil; (2) ki upaya kelompok atau perseorangan untuk memengaruhi perilaku, sikap, dan pendapat orang lain tanpa orang itu menya­da­rinya; (3) ki penggelapan; penyelewengan. ki di sana berarti kiasan. Jadi, ber­da­sar­kan definisi di atas, mani­pulasi dalam pengertian deno­tasi bercitra positif, sementara dalam pengertian konotasi bercitra negatif.

Masih dalam KBBI, me­ma­nipulasi berarti (1) me­nger­jakan sesuatu dengan menggunakan tangan; (2) mengatur (mengerjakan) de­ngan cara yang pandai sehing­ga dapat mencapai tujuan yang dikehendaki: pembicara yang pandai dapat - sidang sehingga semua hadirin diam terpukau; (3) berbuat curang (memalsu surat-surat, meng­gelapkan barang, dan seba­gainya): ia dihukum karena – cek. Tidak salah jika ada yang menggunakan mani­pulasi dalam arti yang buruk. Akan tetapi, akibat kebiasaan penutur bahasa Indonesia menggunakan manipulasi da­lam definisi negatif, lema ini mengalami peyorasi.

Akankah penutur bahasa Indonesia mengubah kebia­saannya dalam memper­la­kukan sebuah kata agar tidak mengalami peyorasi atau bahkan menimbulkan sikap diskriminatif terhadap se­buah agama?

Pengantin bom bunuh diri

Satu-satunya pengantin yang tidak memiliki pasangan adalah pengantin bom bunuh diri. Pengantin bom bunuh diri juga merupakan satu-satunya pengantin yang jauh dari kata romantis.

Pengantin yang satu ini berbeda dengan pengantin kebanyakan. Bila pengantin pada umumnya berakhir pada pernikahan, pengantin bom bunuh diri berujung pada kematian.

Pengantin bom bunuh diri adalah sebutan kepada pelaku bom bunuh diri yang dila­kukan oleh kelompok Islam. Calon pelakunya disebut ca­lon pengantin. Seorang pe­laku bom bunuh diri disebut pengantin, apabila ia berasal dari kelompok Islam garis keras. Jika teror yang dila­kukannya tidak didasari oleh sebuah ideologi agama, dalam hal ini Islam, ia tidak bisa disebut sebagai pengantin.

Mengapa demikian?

Dari banyak keterangan teman pelaku bom bunuh diri yang diberitakan media, di­informasikan bahwa istilah pengantin bom bunuh diri sesuai dengan keyakinan pela­ku (biasanya dilakukan oleh pelaku yang mengaku bera­gama Islam atas dasar ideologi politik mendirikan negara Islam). Pelaku yakin akan ma­ti syahid jika melakukan bom bunuh diri dan masuk ke surga firdaus karena merasa berjihad. Sebutan calon pe­ngantin juga terkait imbalan yang dipercaya oleh bomber, bahwa mereka akan men­dapatkan bidadari-bidadari di surga.

Dalam KBBI, pengantin berarti orang yang sedang melangsungkan perka­winan­nya; mempelai. Berpengantin berarti (1) menjadi pengantin (kawin); (2) merayakan pesta perkawinan. Merujuk pada pengertian ini, pengantin berarti mesti memiliki pasa­ngan. Sementara pengantin bom bunuh diri tidak memi­liki pasangan untuk dini­kahinya. Jadi, tepatkah istilah pengantin bom bunuh diri?

Satu hal lagi, pengantin pa­da umumnya memiliki pesta un­tuk merayakan keba­hagia­an­nya dan mengundang ba­nyak orang dalam pesta itu. Se­­dang­kan pengantin bom bu­­nuh diri, pestanya adalah me­­ne­bar teror tanpa unda­ngan dan membuat orang ka­bur untuk melindungi diri. Pe­ngantin macam apa ini? ***

 

HOLY ADIB
(Wartawan Haluan)
 

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]